Senin, 18 Maret 2013

galau part1, tapi udah direvisi



Sendiri. Di liburan ini, kuluangkan sedikit waktuku untuk menulis sesuatu yang mungkin terlalu penat dan harus dimuntahkan dari hati. Lelah, memang. Hati ini terkikis oleh erosi virus yang menggelapkan jiwa. Yang menghanyutkan segala rasa dan terlelap dalam harapan semu beralas pedih tak terkira.
Mungkinkah aku sanggup untuk meneruskan rasa ini? Karena memang telah lama ia bersemayam dalam hatiku. Berlalu lalang bagai orang bingung, yang senantiasa membakar hangus pikiranku. Kadang hati ini ingin menjerit. berontak. Bingung harus gimana. Hilang arah, hilang tujuan. Seakan, aku merasa sendiri dalam gejolak hati yang kian mendahsyat. Diredam pun tak sanggup. bahkan mungkin isakan tangis yang kudapat.
Aku tahu, dia memang tidak menyadari tentang kesedihan berbalut senyum yang merekah tiap harinya. Bismillah, hanya menerawang, sambil berkata "tetap tersenyum walau kecewa". Yupz. Kata-kata itu. Harapan sebagai penguat jiwa. Agar tak runtuh oleh seorang yang bukan siapa-siapa.
Kapankah rasa ini  hilang? Kapan ia sirna? kapan? Apa harus menunggu ia mati? atau aku saja yang mati? Mungkin saja aku terlalu tega untuk berucap seperti itu. Lenyaplah saja dia dari hidupku, daripada harus menggangguku siang dan malam.
 Bukan. Dia tidak menggangguku. Dia memang tak bersalah. Tidak tahu apapun yang aku rasakan. Tetap konstan berada di tempatnya. Tak menjauh dan tak mendekat denganku. Hanya aku yang terus bergulat dengan virus dalam hati dan jiwaku sendiri.
 Sahabat,
Kadang fikiran ini berkelana terlalu jauh. Berharap gelombang itu berbalik merespon. Ah, beginikah rasanya? Terikat dalam jeratan yang aku sendiri tak bisa melepasnya.
 Sejak dulu.... Lama sudah...
Ia,dalam sudut pandangku, sosok bintang dengan indahnya sinar yang hanya bisa dipandang dengan jarak yang sekian jauhnya. Namun Aku hanya diam... dalam kesendirian... memandang, dan tak kan mungkin menggapainya.
Dalam diam itu, aku merenung. Memikirkan sajak-sajak hidupku yang selalu kelabu. Sejenak, aku berfikir. Mengapa jiwaku begitu seperti ini? Tertindas! Kenapa aku begitu lemah? Bukankah ini masalah yang sepele? Kenapa aku mau tersakiti oleh rasaku sendiri? Siapa sih dia?
#berfikir#
Ternyata... bodohnya aku. Mau saja memendam rasa yang dapat meluluhlantakkan imanku. Yang menyedot fokus belajarku, membentuk lubang paku dalam hatiku. Oh kawan, perih sekali. Sedang dia? Enak-enakan saja bersenandung ria tanpa memikirkan apa yang aku rasa.  Ini tidak adil! Tak berhak ada yang menyakitiku, menjerat dalam selubung duka yang menahun. Terjerembab dalam jurang derita tanpa secercah cahaya. Gelap sekali pikiranku. Tak dewasa. Aku bagai seorang yang tlah dipermainkan diriku sendiri. Ya, aku dipermainkan hati, jiwa dan fikiranku.
Masih berfikir. Baguskah ini? Baikkah ini? Apakah caraku ini benar? Apakah ini membuat hidupku jadi lebih baik? Apakah ini membuatku semakin menyadari makna hidup? Apakah kalau aku terus begini, cita-citaku akan berhasil? Bagaimana dengan orang tuaku? Akh.. tentulah aku takkan mau melihat mereka kecewa, menitikkan air mata atas jiwaku yang menghampa.
Ku buka foto yang aku selipkan dalam mushaf al qur’an warna pink yang selalu aku taruh di ranselku. Foto orang tuaku! Ya Allah, apabila suatu saat nanti aku tidak bisa membahagiakan mereka.. betapa hinanya diriku. Betapa buruknya diriku.
Galau ini memberi banyak keburukan. Jam belajarku tersita untuk ngecek timeline facebook dia. Takut kalau-kalau ada orang lain yang berkomunikasi di fb sama dia. Cemburu. Kepo sana-sini, googling nama dia, tanya sana-tanya sini, sungguh seperti orang yang nggak punya kerjaan. Ini sia-sia. Memang benar kok, dia banyak yang suka.Lantas? setelah aku tau itu semua, aku nggak bisa ngapa-ngapain. Meratapi nasib yang selalu tak berpihak. Hanya sayatan pedih menyambar dada yang terasa. Sedih, masalah tanpa solusi. Inikah yang aku inginkan dalam hidupku? Terus menyiksa batin tiada habis-habisnya.
Tidak! Galauku sudah selesai. Mulai hari ini, mulai detik ini! Takkan kubiarkan deras ombak mematikan itu menyerang sel-sel jiwaku. Takkan kubiarkan galau menindas cercah cahaya yang menyinari qolbu. Telah lama qolbu ini gelap. Hening. Sayup. Dingin. Dengan bismillah, akan ku buka jendela itu. Jendela hati, supaya aku mendapat indahnya sinar hidup yang sangat sangat indah. Tanpa lagi nestapa galau. Takkan kubiarkan jendela itu tertutup kembali. Sinar terang itu harus aku peroleh. Aku tak ingin lagi dalam masa pekat. Tidak ada yang berhak membuatku semakin menepi seperti ini.
Biarlah galau ini pergi dengan maknanya yang pernah terekam dalam bingkai memoriku. Dalam tiap denyut nadiku. Pergilah. Insyaallah aku rela. Aku telah melepasmu, kawan.  Bawalah serta angin-angin kepedihan itu menjauh dari hidupku. Aku tak pantas menerima penghinaan itu. Karna galau bukan yang menaklukanku, tapi akulah, seorang perempuan berusia remaja yang sanggup menaklukan badai galau yang tengah menghadang.
Masih dalam diam. Kupejamkan mata. Dalam hati aku berkata:
“Kesedihan ini sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir!”. kutanamkan kata-kata itu, kuresapi dan aku bertekad untuk mewujudkannya. Ku pandang langit biru bermega seperti kapuk lembut yang menari-nari dengan indahnya, seakan mereka tersenyum sebagai tanda persetujuan. Langit. Aku harus terus menatap ke depan. Masa depan ada di depan mata. Masa depanku, tergantung dari sekarang bagaimana aku menyikapinya. Ayo Move On!
Sendu itu berubah seketika. Mega bercengkrama dengan kawannya, membicarakan si gadis melankolis yang rautnya kian mencerah. Sedih itu berakhir indah. Ada lipatan kecil di sudut matanya, bukti memang tulus aku melepasnya. Ya, walaupun masih tersisa bekas cabutan paku-paku itu. Sedikit demi sedikit, Insyaallah bisa.
Akhirnya...
Terusirlah sang galau dengan rasa malu yang amat tinggi. Maka beralihlah debu galau, pada hati orang yang belum mencari secercah cahaya. Sebagai parasit bagi orang yang hanya diam saja.

Senin, 21 Januari 2013

Hari minggu :D

Minggu sore, di sebuah rumah sederhana yang berisikan hamba Allah dengan keharmonisan yang merekah di dalamnya. Sore itu, aku sedang bersama Ibu. Sosok yang sangat sangat sangat aku sayangi, walau memang aku tak pernah mengutarakannya. Sosok yang begitu hangat kala aku berada disampingnya. Benar-benar aku merasa nyaman saat itu. Orang Psikologi bilang, karena ikatan batin. 
Ibu.. kukirimkan sepucuk kagum ini kepadamu. Kepada seorang yang setiap kata-katanya, selalu berisi nasihat penyejuk jiwa, penghapus lara. Senyummu kala itu.. sungguh, senyuman yang sangat indah. 

Aku seneeeng banget bisa jalan-jalan sama ibu. Waktu itu, kami ke mirota. Sedernana sih, tapi bagiku itu sangat sesuatu.Kubonceng ibu dengan motor beat, dengan iringan cerah langit sore, kami berbagi cerita, berbagi tawa. Tak ada kesedihan disana. 

Di mirota, kami melihat-lihat baju bagus-bagus, lihat-lihat sandal yang haknya tinggi, daann.. lihat-lihat popok bayi, baju bayi yang sungguh mungil sambil tertawa karena cerita Beliau mengenaiku semasa kecil dulu.

Ibuu....

Kami melihat lihat tanpa membeli satu barangpun dari mereka. Hanya melihat.. Walau begitu, sudah sangat senang. Ibu bilang, kalau besok dah punya uang, aku mau dibelikan. Tapi yang dipasar, yang harganya lebih mering. Toh kualitasnya sama, menurut ibu..

Kami melanjutkan perjalanan ke lantai 3.. Kurogoh selembar uang lima puluh ribuan dari bapak. Aku memanggil ibu seraya menunjuk sebuah benda yang ingin kubeli. Binder. Aku ingin beli ituu, dan ternyata dibolehkan.. :D

-kami pulang-


Dirumah, kutemui bapak dan adek. Saat itu, adek lagi mandi. Aku menuju ruang tengah untuk meletakkan jeruk sebagai oleh-oleh buat bapak. sedangkan bindernya buru-buru aku sembunyikan biar nggak ketahuan adek hehee. Ntar takutnya dia juga minta sesuatu sama bapak. Padahal pengeluaran bapak hari ini (minggu) sudah banyak. 

Malam hari, aku menemani adekku belajar samapai sekitar jam 21.30. Setelah itu, adek ke kamar duluan, sedangkan aku masih bercengkrama dengan tulisanku. 

Have a nice day :)

Kamis, 17 Januari 2013

Dibalik Tirai Klasik TBY

 


Artikel ditulis oleh: Hafida Diah Setyowati --- SMA 1 Yogyakarta 
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik

___________________________________________________________


Taman Budaya Yogyakarta (TBY) adalah sebuah kompleks pengembangan pelatihan seni budaya yang terdapat di Yogyakarta. Kompleks yang beralamat di Jalan Sriwedari No.1 ini berdiri atas surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersamaan didirikannya pusat-pusat kebudayaan di seluruh provinsi di Indonesia. Didirikan tanggal 11 Maret 1977, tak lepas dari masukan para seniman dan cendekiawan yang ikut aktif dalam pemerhati kebudayaan Indonesia untuk mendirikan sebuah kompleks tempat untuk pengapresi dan pengembangan seni agar dapat dinikmati masyarakat umum baik nasional maupun internasional.
Kompleks dengan bangunan cagar budaya ini memiliki visi The Window of Yogyakarta atau Jendela Yogyakarta. Dari jendela inilah aroma budaya dapat terhirup, terhimpun dalam berbagai karya yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Dari jendela inilah angin segar dari berbagai budaya masuk dan menghembuskan berbagai wawasan, memperkaya pengetahuan dan pengalaman serta komunitas seni budaya di Yogyakarta. Disinilah rumah kreatif yang dapat dikembangkan sedemikian rupa, sumbangan para seniman dan masyarakat nasional maupun internasional. Untuk mewujudkan visi tersebut TBY mempunyai empat tugas pokok yaitu melaksanakan pengolahan dan pengembangan seni budaya, melaksanakan laboratorium dan eksperimentasi seni budaya, melaksanakan tata usaha dan rumah tangga dinas, dan memfasilitasi kegiatan seni budaya.
TBY mempunyai beberapa bangunan atau gedung penting yang digunakan untuk kegiatan mengenai seni dan kebudayaan. Antara lain Gedung Kesenian Sositet, Concert Hall, Ruang Pameran Seni Rupa, Ruang Seminar, Amphiteater, Pendhapa, Perpustakaan dan sebuah kantin mungil yang tak jarang penuh sesak oleh pengunjung.
Gedung Kesenian Sositet merupakan gedung cagar budaya, yang didirikan oleh Belanda, namun arsiteknya tidak diketahui. Gedung Kesenian Sositet mempunyai luas panggung 10 x 8 meter dilengkapi dengan lobi, ruang rias, AC, tata lampu dan tata suara. Dengan statusnya sebagai gedung buatan Belanda, gedung Sositet mempunyai mitos tersendiri. “Yang main teaternya kurang konsen, bisa kemasukan setan“ ujar Haryanto selaku petugas keamanan TBY (10/1). Walaupun hanya sekedar mitos, hal itu bisa dijadikan sebagai motivasi agar tetap konsentrasi dan serius dalam berlatih, tidak menyepelekan apa yang sedang dipelajari. Gedung Concert Hall terletak di lantai dua, berkapasitas 1200 penonton. Gedung ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti ruang rias, lobi, ruang stem alat musik, ruang VIP, tata lampu, tata suara dan AC sentral.
Karena letaknya yang strategis berada di sebelah Selatan Pasar Beringharjo, Utara Taman Pintar, dan Timur Benteng Vendenbrug, TBY menjadi padat pengunjung maupun para pelajar dan mahasiswa yang mengadakan sebagian aktivitas atau kegiatannya di TBY.
Tak hanya itu, pelatihan dan pengembangan seni juga diadakan baik dari pihak pengelola TBY atau dari lembaga / organisasi luar. Salah satu lembaga formal untuk pelatihan seni dan budaya adalah AFC atau Art For Children. “AFC biasanya dilaksanakan jum’at sore atau hari minggu pagi” ujar Dina, salah satu pegawai TBY (11/1). Pelatihan ini ditujukan khususnya bagi anak-anak pada jenjang TK-SMP agar memperoleh pengetahuan, pengenalan, dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap seni sebagai wujud dari pelestarian seni budaya Yogyakarta. Bidang-bidang AFC meliputi seni rupa, karawitan, seni tari, seni musik, vokal, sastra dan teater. Selain pelatihan, AFC juga mengajak anak untuk mengunjungi studio seniman, tempat pameran, dan lain-lain. Selain AFC, terdapat lembaga informal yang menyelenggarakan kursus atau pelatihan rutin sesuai izin pengelola TBY. “ Ada izin latihan dance, diluar jam kerja,” tambah Pak Adi selaku petugas pengadministrasi umum(10/1)
TBY mempunyai segudang kegiatan yang dilaksanakan secara periodik, dari bulanan hingga tahunan. “Kegiatan-kegiatannya bermacam-macam. Ada Festival Sendratari, Kethoprak, Maestro, Rekontruksi Seni Klasik, Duta Seni, Festival Teater, Pameran dan masih banyak lagi,” tambah Dina (11/1). Setiap kegiatan akan diinformasikan di papan pengumuman yang berada di samping Pendhapa dan akan didokumentasikan dalam bentuk buku agar pelestariannya tetap terjaga.
Keindahan dan kenyamanan berkunjung ke Taman Budaya Yogyakarta sering diwarnai dengan maraknya orang-orang tak dikenal yang tidur sembarangan di sepanjang halaman atau lantai gedung TBY. Petugas keamanan TBY pun segan untuk menanyakan perihal perbuatan orang-orang yang sering tidur sembarangan, dengan alasan sulitnya membedakan ciri fisik seorang seniman dan gelandangan. “Sulit misahin seniman atau gelandangan. Kan nggak enak kalau ternyata dia seniman,” komentar Adi, seorang pekerja di bidang pengadministrasian umum. Komentar berbeda diutarakan oleh Clara, pengunjung asal SMAN 1 Prambanan, “Ya ngotorin sih, mengganggu. Kan gedung seni budaya.” Keindahan, pengaturan sistem tata ruang dan nilai klasik Taman Budaya Yogyakarta memiliki nilai estetika tersendiri dari segi penampilan gedung yang menjadi salah satu cagar budaya, harus dijaga dan dirawat kerapihan dan kebersihannya sehingga nyaman dan berkesan baik bagi para pengunjung.

Rabu, 09 Januari 2013

tulisan geje pas pelajaran TIK



mis mis gerimisss.. ada air dimana-mana. hmm.. mulai kudu bawa mantol nih. ah, motorku jadi cepet kotor kena lendut, air hujan, pasir, debu. huaaa. kudu sering-sering nyuci.

Oke. kembali lagi ke artikel geje. Artikel dengan gaya bahasa yang morat marit, pantangan bagi pembaca yang berprofesi guru bahasa indonesia. (ngapunten nggih bu :3)

Karena hanya untuk mengisi waktu luang pas pelajaran ips ini, ya aku iseng aja nulis-nulis sesuatu yang nggak jelas, tulisan yang nggak berkualitas dan pengejaan serta grammarnya pun banyak yang salah.

karena, aku juga baru dapet ilmu,
"... penulis itu kerjanya ya menulis, bukan mengedit..." so, aku ya langsung nulis aja, tanpa merasa ada beban salah penulisan koma, titik, kata sambung dan yg sejenisnya.

(waaahh.. langsung intine ae yo)

hmm.. apa yahh.. mikir mikir nih.. gejean ini mau tak tulisin apa. Yah, dari tadi tuh temen2 pada asyik ngerjain tugas TIK tentang microsoft exel. (ojo su'udzon simek. aku wes nggarap yoo). nah, karena waktunya masih lamaaaaa banget, aku njuk mbukak-mbukak internet. Mbuka facebook, mbah google, dll. Wah nek kuwi ra perlu diceritakke. Kabeh murid mesti yo do ngono. Kalau dah rampung ngerjakan tugas, ya manfaatin fasilitas internet, terutama buat facebookan sama kepoin someone. Wooohhh someone og piyeee.. heh itu meng kira-kira kok. yang beberapa detik yang lalu melintas di kepalaku.

Btw, kelas ips tuh banyak nyantainya yaa (baca: santai, bukan nyente). Hmm.. jadi buah bibir di kalangan guru pula. Nah itu karena ips disekolahku tuh beda (eh ini cuma cerita loh. nggak bermaksud nyombong atau apalah). Kelas ips atau kelasku entu anaknya narsis gilak. Tapi bukan mendes. Hmm, mungkin tepatnya adalah gudang anak-anak pede, dan kritis. Apalagi ditambah ada si Nelies yang terkenal sejagat rayaaaa, kan dia masuk dalam nominasi cute girls jogja (atau apaa aku lupaa), trus dia tuh nuarsis, cantik, suka dandan, tapi buaiiiiiikkk banget. Terus lagi ada Reno sang ketua MPK yang -kulihat- jiwa politik mengalir dalam jiwanya. Weseeehhhh...  la soalnya dia ntu sangat kritis, up tu date, wawasannya luaaaaaaass banget. Dia juga seorang duta tata ruang. Kayak temen baikku yang item manis, Nur Hayati.

Eh, kok malah ngomongke kanca-kancaku? --"

hmmm... bel kurang tujuh menit lagi.

Mau kuapakan ya, waktu yang tinggal dikit inii... ntar pulang sekolah sih, aku mau ke pasar beringharjo buat beli kain -pesenan-.

Oya, aku belum cerita yaa. Di sekolah, aku kan jualan-jualan gitu. sebenarnya untuk organisassi sih. tapi ya menurutku, buat menambah, melatih, menanamkan jiwa kewirausahakan.

hehe aku kan pengen jadi seorang wirausaha yang sukses. Saat yang lain sedang/bingung nyari kerja, aku pengen nolong mereka dengan cara memberi lapangan pekerjaan. gitu tok.

Ingin mandiri juga sih. Biar besok gedhe, nggak jadi orang yang ketergantungan sama orang lain.

Sepakat?

Rabu, 19 Desember 2012

(tanpa judul)

Karya: Kartika Kusuma Ningrum , Hafida Diah Setyowati


Symphony cinta menderu kalbu
Melayangkan secarik lembar mengharu biru
Tak sampai anganku merajut pilu
Hanya rintihan rindu, itupun semu

Tak lagi raga jiwa menyatu
Merintih sukma parau

Pedih, memang
Hening
Jejak sunyi, kelam nan pekat
Namun janjiku, senja ini jiwaku takkan layu

Tetap kan bersemi dari senja kini hingga nanti sampai mati
Pancarkan indahnya zahra yang bermekaran dengan keayuan pesona kelembutan
Yang mampu membinasakan segala lara yang ada
Dan membawa nafas mengangkasa

Tiada lagi kudengar sambaran lara
Kugenggam janji jiwa, aku bisa!


puisi ini berawal dari coment2an status facebook yang dijadikan satu, membentuk sebuah puisi. Puisi ini berasal dari goresan pena saya dan dek Kartika Kusuma Ningrum, melaui Facebook secara tidak disengaja...

Cetar Membahana..


Pagi ini aku berangkat sekolah. Sebenarnya boleh berangkat ataupun nggak berangkat, soalnya kan sudah selesai ujian semesteran, jadi sekolah memberikan kebebasan untuk siswa. Beberapa yang berangkat sekolah itu karena untuk remidi atau ulangan susulan pada mapel yang nilainya masih dirasa kurang. Ada juga yang berangkat karena ngurus-ngurus event seperti Donor Darah TJRC, Diklat THA, Futsal dalam rangka Lustrum Teladan dan lain-lain.
Hari ini aku berangkat sekolah karena beberapa hal, antara lain untuk remidi ekonomi yang bab perpajakan dan kebijakan Fiskal, latihan nasyid, mendampingi tamu sekolah dari SMP swasta di kalimantan, pertemuan para danus, serta menuntaskan tugas bahasa Arab yang suruh mencari na’at dan man’ut dalam Al-Qur’an.
Sekitar jam 8 aku tiba di sekolah. Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan. Buka-buka buku, belajar ekonomi. Aku berharap semoga nilaiku ekonomi bisa tuntas, makanya aku mruput ke perpus buat belajar. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Nasthithi (temanku, sekretaris 1 OSIS BTB) nongol di depan meja perpus tempat aku belajar. Aku nanya:
“Ti, ntar kamu ikut presentasi buat tamu yang dari kalimantan kan?”
“Wah aku nggak bisa e Fid. Ada rapat sigma.” Seraya menyerahkan flashdisk berisi materi presentasi osis kepadaku.
Lhah… Aku mendadak jadi sedikit takut (semacam nggak siap gitu). Akrima dan Mala nggak ikut soalnya mau ke Smada buat forum FKPO. Sedangkan Marvi ada rapat pramuka, dan Ridwan tiba-tiba bannya bocor. Aduh..
Aku menyudahi belajarku, dan segera ke masjid. Ada Akrima rupanya. Mbak Aje, Mbak Tiwi, Mbak Victa, Gadis, Dini, Nimas dan Afifah juga ada. Biasa.., mereka bermain-main dengan laptop. Mungkin ada film yang bagus.
Fikiranku kacau. Memang aku ini orang yang termasuk jika ada masalah kecil dibuat seakan-akan rumit. Aku bingung mau ngapain. Ketemu Akrima buat mengadu kebingunganku, aku rasa sia-sia.
Aku hijrah ke lobi, tepatnya ke ruang guru, menemui Bu Umi untuk remidi Ekonomi. Wahh.. ternyata ditolak, guys. Beliau berkata bahwa tidak mau jika yang remidi hanya satu atau dua anak saja. Harusnya langsung massal. So, yasudah nggak jadi remidinya. Aku sedikit lega sih, tapi kecewa juga. Soalnya udah belajar.. Nelies aku sms bahwa remed dipending. Nelies nggak jadi ke sekolah.
Aku kembali ke masjid. Ku lihat, teman-teman belum pindah posisi. Masih beradu pandang dengan salah satu laptop mereka. Hmm.. dari tirai masjid akhwat, aku mengintip ke arah aula. Nampak ramai sekali. Ternyata siswa-siswi kelas sepuluh sedang ada acara penyuluhan mengenai Korupsi. Wahh… ada makanannya. Hmm.. isinya roti, pula. Enaknyaa…
Aku mendengar salah dua dari mereka menyanyi lagu “sempurna”. Sepertinya aku tau siapa yang menyanyikannya. Anak MPK, tapi aku lupa namanya. Suaranya bagus. Bagus banget. Vibra dan cengkok-cengkoknya pas dan sesuai irama. Sebagian yang akhwat (perempuan) ikut menyanyikan dengan melambai-lambaikan tangan keatas dengan riang gembira, hingga gemuruh suara –ramainya- terdengar hingga masjid bagian atas. Sedangkan yang ikhwan (laki-laki) kuintip hanya diam –berasa pah poh- sambil menikmati konsum yang disediakan dengan raut ekspresi yang flat. Sungguh datar, padahal yang nyanyi tuh akhwat, gek suaranya bagus. Aku ampek bingung, apa yaa, yang ada di fikiran mereka.
____
Tamu dari SMP Swasta di Kalimantan sudah tiba. Aku dan Dini menyegerakan diri untuk ke ruang multimedia. Tampaklah ada 52 atau 54 murid SMP kelas sembilan beserta 4 orang guru pendamping. Mereka datang jauh-jauh dari Kalimantan untuk menambah wawasan mengenai sekolah yang ada di Yogyakarta. Dan mereka memilih SMAN 1 Yogyakarta sebagai tujuan utamanya.
Setelah pihak tamu yang memberi sambutan, dilanjutkan dengan pihak sekolah. Ada Mr. Marmayadi, Bpk Basuki juga. Beliau menyampaikan berbagai hal mengenai SMAN 1 Yogyakarta. Beliau juga bercerita tentang awal dari program RSBI berlangsung, dan mengenai ujian Cambridge yang dilaksanakan di Teladan tiap tahunnya.
Setelah itu, giliran PH dan MPK yang presentasi. Awalnya Mr.Marmayadi memperkenalkan sebagian PH dan MPK. Dari MPK, yang maju adalah tiga orang ikhwan (laki-laki) kelas sepuluh. Yaitu dek Bismo dkk. Sedangkan yang dari PH ada saya dan dek Hani. Sebenarnya dek Azizap juga, tapi dek Azizap sedang keluar sebentar, saat itu. Setelah perkenalan, tiba-tiba dek Azizap masuk. Karena dek Aziz yang belum perkenalan sendiri, maka dek Aziz disuruh perkenalan sekalian yang mewakili presentasi osis.
Dek Aziz Azka Putra atau yang biasa disapa dengan Azizap adalah seorang yang sangat PD, menurutku. Kharisma dan wibawanya saat presentasi terlihat sekali. Pemikiran-pemikirannya luas dan terlihat menguasai materi saat presentasi. Berbeda denganku yang –kadang- merasa bahwa aku seharusnya tidak berada bersama mereka. Menurutku, mereka (PH dan MPK) anggota-anggotanya adalah orang-orang yang super sekali. Kecuali aku. Mungkin pula, aku bisa menjadi bagian dari mereka itu karena bejo, keberuntungan dari Allah. Sedangkan menurutku sendiri aku belum pantas karena aku belum melihat potensi apa yang ada pada diriku.
___
Selanjutnya, sekitar jam setengah dua belas. Ada pertemuan para danus. Aku dan Dini bersegera dari ruang multimedia menuju ruang 105 untuk menghadiri acara tsb.
Hujan yang lirih mendampingi langkah kami. Setiba di ruang 105, tepatnya di lantai bawah gedung induk dekat dengan uks, sudah ada banyak orang. Tentu kami telat. Pemberitahuannya, mulai jam 10. Ada dek Mail dan Utari yang berada di depan kelas.
Dek Mail juga anggota dari OSIS, menjabat sebagai SekBid 6 yang membawahi Danus, Kosuha, Obscura, dll. Sedangkan Utari sebagai koordinator sie danus.
Penjelasan demi penjelasan tersampaikan dengan jelas dan lugas oleh Utari. Memang temanku yang satu ini bagus dalam public speakingnya. Beliau kritis, profesional dalam bekerja.
Sedangkan saya? entah mengapa sering kali saya merasa sebagai orang yang lemot dalam berfikir. Saya merasa bahwa teman-teman memiliki kemampuan, skill atau potensi yang jauh lebih baik daripada saya. Entah mengapa saya sering merasa bahwa daya tangkap atau daya dong saya sangat sangat sangat lemah, sehingga sering ketika teman-teman sudah faham terhadap suatu hal, saya hanya mangut-mangut seolah mengerti (padahal sebenarnya sering ‘nggak conect’).
Saya sangat berharap bahwa suatu saat nanti saya bisa seperti mereka.. Bismillah, tetap berusaha…..

 Gerimis, pulang ke rumah tanpa mantol... :) 

Syahrini berkata: "Cetar Membahana..." LOL

Berdikari



Bismillahirrohmanirrohim. Cerpen ini aku persembahkan teruntuk sahabatku tercinta (SK), yang Allah pertemukan kami pada bangku SLTP, tepatnya di SMPN 6 Yogyakarta. Walaupun kini berbeda sekolah, semoga ukhwah tetap dalam genggaman sampai akhir hayat nanti.

Berdikari. 


Aku ingat saat-saat itu. Aku ingat celoteh dan guyonan garingnya. Damai terajut dalam kebahagaiaan bersama. Tawa canda, senantiasa merekah di bawah payung persahabatan. Kuingat, dari dulu kami selalu bersama. Jalan bersama, belajar bersama, duduk semeja bersama, sedih senang bersama, makan bersama, sholat Dhuha bersama, tertawa bersama, nginep bersama, nggibah bersama, nggak ngerjakan PR bersama, dan visi-misinya juga sama. Walau kadang kala ada perselisihan, itu adalah lumrah.
Dia, sebut saja Rizka. Rizka adalah sahabat sejatiku semenjak kelas 1 SMP. Seseorang yang penuh pendirian, jujur, punya prinsip dan berkarakter. Tinggi badannya melebihi rata-rata orang biasa. Tinggiku saja kira-kira hanya sedagunya. Wah, aku merasa kerdil di dekatnya. Tapi tak sekalipun ia menjelek-jelekkanku walau hanya sebuah guyonan. Walaupun kadang galak, tapi galaknya adalah tipe galak bermotivasi dan berkualitas tinggi. Kegalakannya bisa membuat seseorang yang bersalah menjadi sadar dan ternasihati, ya walaupun sedikit atos dan nylekit. Suaranya lembut, namun menggelegar dalam ruang kalbu para pendengar. Memang sahabatku ini termasuk makhluk yang sangat langka. Spesiesnya jarang sekali ditemukan. Aku tidak melihat ada teman-teman yang punya hati semulia dia. Dalam hal ini bukan berarti apapun, tapi mungkin saking kagumnya diriku terhadapnya. Dia selalu berusaha optimis dalam menjalani hiruk-pikuk kehidupan, tak kenal menyerah, selalu ber-positive thinking, disiplin tinggi, tapat janji, tapi sedikit lelet dan nggak cakcek. Cala berjalannya juga aneh, menurutku. Dulu waktu pertama aku bertemu dengannya, aku mbatin, “nih anak, jalannya lemot banget. Iuhh, kayak penyu mo ngelahirin”. Yah, maklumlah waktu itu aku memang sedikit mendes, juga belum kenal dengan pribadinya. Kata teman-teman dekatku, Rizka tu orangnya jujur dan polos banget. Ya, itu emang benar. Menurutku tak hanya itu, sosoknya yang berkarisma mencerminkan pribadinya yang cantik dari dalam hatinya. Inner beautiy, bahasa gaulnya. Temenku bilang, “Rizka orangnya care, baik, menghargai teman, dan kalau aku mau ngutang, dia pasti ndak pernah berkeberatan. Padahal dulu aku sering banget ngutang ama dia. Tapi saking baiknya tuh bocah polos, mau kubayar aja, belagak lupa”. Sungguh, sosoknya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin inipun tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya.
Aku ingat beberapa bulan lalu saat dia menjadi bendahara di kelasku. Sebagai orang yang tegas dan disiplin, dia aktif sekali dalam hal tagih-menagih iuran rutin kas kelas. Tak pernah sekalipun ia menunggu teman-teman datang ke mejanya untuk mbayar kas, karena dia tau belum ada kesadaran dari diri teman-teman untuk mbayar pajak kelas. Setiap hari Jum’at adalah jatah untuk mbayar pajak kelas alias uang kas.  Saat itulah dia mulai beraksi. Nagih sana-sini, nggak kenal lelah. Dia tahu kalau jadi bendahara adalah amanah yang besar. Makanya, dia tak bosan-bosannya mengingatkan, menagih, menegur, menceramahi teman-teman yang alot ditarik uang pajak, termasuk aku.
“Willy, mbayaarr!!!”
“Besok Ka, besok.
“Ndak boleh! Pokoknya harus sekarang. Kamu dah telat berminggu-minggu. Pokok’e kudu mbayar sekarang!”
“Besok, Ka. Tenan aku ndak bohong. Aku ndak disangoni sama bapakku.”
“Alah ngapusi we. Cepet mbayar!! Nek ndak mbayar tak  bilangin Bu Esti”
Deg! Mendengar kata ‘Bu Esti’, raut mukanya langsung berubah.
“Wah, jangan, Ka. Sampeyan ki cangkeman. Yowis, sekarang aku mbayar. Nih, adanya baru seribu doang.” Kata Willy si Ketua Kelas yang terkenal gondes, ngutangan, misuhan, suka nongkrong di angkringan, mbolosan, nyontekan, ndobosan dan  suka merokok sambil mengeluarkan selembar uang lecek dari dompet kulit warna coklatnya.
Bu Esti adalah guru yang sangat Aku dan Rizka sayangi. Beliau adalah sesosok guru gemuk, bulet seperti onde-onde, tidak terlalu tinggi, killer, dan selalu mbawa kipas –semacam kipas kondangan- tiap mengajar di kelas. Beliau terkenal galak, namun wibawanya luar biasa. Kami tahu bahwa dibalik sifatnya itu terdapat hati yang sangat bijaksana dan penuh penyayang. Beliau selalu membentak-bentak kami dengan kata-kata motivasi dengan semangat yang membara, semacam dengan sifat sahabatku, Rizka. Kata-katanya slalu merasuk kalbu bagi tiap orang yang mendengarnya. Semangat hidup menjadi berkobar menyala-nyala. Motivasinya tak kalah dengan motivasi dalam novel-novel best seller karangan Andrea Hirata. Tatapan matanya setajam halilintar yang menyambar tiap manusia. Hati menjadi tergugah, jiwa raga terketuk untuk melangkah, mengubah pandangan tiap siswa yang bersalah. Kata-kata Beliau bagaikan Bung Tomo yang berhasil mengobarkan semangat arek-arek surabaya untuk berani bertempur mengusir penjajah sampai titik darah penghabisan. Sungguh, motivasi Bliau sampai sekarang masih terngiang dan menjadi salah satu motivasi dalam hidupku. Mungkin itulah sebabnya Rizka sangat menyegani dan menghormati Bu Esti sebagai wali kelas kami. Entah karena kepercayaan kepada guru kami tercinta ini, kami pernah sampai curhat-curhat kepada Beliau mengenai masalah yang ada di kelas. Tentang masalah pertemanan, masalah anak-anak yang gondes dan mendes, masalah gank, masalah uang kas, masalah piket kelas, masalah kekompakan, masalah contek-mencontek, masalah cinta, dan lain-lain.
“Bu Guru, Rafli kok orangnya atos sama saya ya? Dan dia nggak bisa ramah sama saya. Atau mungkin saya yang ndak bisa akrab dan berbaur sama dia?”
“Emm,..” (Bu Guru terlihat berfikir sejenak).  “Kamu ndak perlu merasa gimana-gimana tentang itu. Karakter tiap orang itu berbeda-beda. Ada yang berkarakter lembut, atos, dan sebagainya itu sudah menjadi pribadinya. Kamu juga harus bisa menerima perbedaan-perbedaan itu. Tidak semua yang kita pandang buruk itu memang buruk, tetapi mungkin karena kita belum terlalu mengenal pribadinya. Mungkin saja dibalik sifatnya yang terkesan ketus dan cuek, namun orangnya sangat baik. Kita ndak boleh mandang orang dari satu sudut pandang aja. Setiap orang pasti berbeda. Itu pasti. Kamu pun berbeda. Tak akan ada yang sama denganmu. Saya juga berbeda. Demikian juga Rafli, dia juga berbeda. Dengan sangat adilnya, Allah memberikan kita berbagai hal yang membedakan diri kita dengan yang lain. Dengan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Tinggal gimana caranya kamu bisa memahami perbedaan itu.”
“Lha kalau perbedaan itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan gimana Bu?” tanyaku.
“Kita tidak boleh terlalu mengharap kepada seseorang. Kita tidak boleh mengharap dia lembut pada kita, sedangkan sifat atosnya itu memang asli sudah melekat dalam dirinya. Jika kita terus saja berharap pada manusia, kita akan merasa tersakiti apabila tidak mendapatkan yang diharapkan.”
“Bingung, Bu. Contohnya gimana, Bu Guru?”
“Contohnya adalah apabila kita sedang mencintai seseorang. Kita ndak perlu bertahun-tahun menunggu sampai dia membuka pintu hatinya pada kita. Kita ndak perlu berangan-angan hidup bersamanya bila kita tahu cinta kita bertepuk sebelah tangan. Kita ndak perlu bersedih hati, meratap, menangisi, mendesah diiringi lagu cinta sambil meneteskan kepedihan air mata karena terbayang-bayang tersakiti oleh dirinya. Manusia bukan tempat untuk berharap! Janganlah terlalu berlebihan dalam berharap pada manusia. Kita hanya diperbolehkan berharap kepada Allah! Jika kita terlalu berharap kepada manusia, apabila harapan tersebut tidak tercapai, kita akan terus merasa kecewa dan tersakiti. Coba aja kau fikirkan. Kau berlarut-larut dalam kesedihan memikirkan dan membayangkan seseorang yang kau cintai sejak lama, menantinya, dan terus saja berharap agar dia bisa ‘melihat’mu. Kau tidak tahu kan, apakah dia memikirkanmu kembali atau malah cuek bebek? Apa dia juga berlarut-larut memikirkanmu, seperti kau memikirkan dia tiap waktu? Bagaimana bila tidak? Bagaimana bila harapanmu malah bertolak belakang? Itulah alasannya kenapa jangan terlalu berharap kepada seseorang.  Untuk apa kau memikirkan orang, yang orang tersebut tak pernah memikirkanmu sama sekali? Untuk apa kau meratapi dan menagisi seseorang, sedangkan orang tersebut ndak pernah menangisimu? Bagaimana bila kau tahu itu? Apa ndak sakit hati?” kata Bu Esti dengan raut muka bijaksana, laksana bidadari turun dari langit, menebar benih-benih kedamaian dan kesejukan jiwa. Rautnya teduh, tak sedikitpun terlihat kerutan tilas kegalakannya kepada teman-teman gondes-mendes di kelasku.
Aku dan Rizka fokus dan mangut-mangut tanda mengerti terhadap ceramah dari Bu Guru. Ya, jawabannya cukup memuaskan untuk curhatan kami pada siang hari saat kelas 3 SMP di ruang perpustakaan sekolah dengan suguhan AC dan TVOne. Setelah itu, kami nonton berita di TVOne bersama-sama dengan damai dan bahagia, aman sentosa.
***
Tertunduk lemas diantara pemandangan riuh  teman-teman sekelas, di sebuah SMA favorit di Ibu Kota Jakarta. Ditengah pelajaran Sosiologi yang kuanggap membosankan, aku termenung. Mendung menghiasi wajahku tanda kesedihan dan kerinduan seorang teman sejati. Teman-teman sibuk dengan tawa canda mereka, menggosip sana-sini, foto-foto dengan gaya narsis alainya.
Aku mengamati mereka satu per satu.
 Aku mengamati Zana dan gerombolannya. Yah, mereka terlalu bureng (buru rengking). Aku nggak terlalu suka dengan orang-orang yang terlalu melulu menghabiskan masa-masa remaja mereka dengan buku tiap hari, pagi, siang, dan malam. Kehidupan nggak hanya untuk dunia aja, batinku. Besok kalau kita dewasa, kita akan kerja dan bermasyarakat. Tidak hanya nilai yang bisa membawa mereka sukses, tetapi juga pintar tidaknya mereka dalam bermasyarakat. Mengenai bagaimana hubungan sosial mereka dengan yang lain. Mereka terlalu over, terlalu mengejar-ngejar ranking, sehingga pertemanan diantara mereka tidak akrab, menjadi lenggang. Dan menurutku itu buruk. Aku ndak begitu srek sama mereka.
Berikutnya, aku mengamati gerombolannya Laura, yang terdiri dari 3 cewek mendes, menurutku. Gerombolan ini terdiri dari Laura, Poppy, dan Hira. Mereka tidak mementingkan pelajaran. Terlalu malas dan tidak profesional. Kerjanya hanya maen blackbarry aja sambil cari perhatian dengan membuat ulah-ulah aneh di kelas. Jika ada tugas kelas, mereka kerap kali mengabaikannya. Tapi walau begitu, mereka lumayan pinter.  Mereka sukanya shopping kesana sini, dan lebih mementingkan popularitas. Kuintip, ada bedak, sisir, dan parfum dalam laci mereka. Mereka seakan ingin diketahui oleh dunia, bahwa mereka itu ada, dan mereka eksis. Mereka cuek dengan yang selain kalangannya, termasuk denganku. Mungkin mereka tak menganggapku ada.  Aku terheran-heran, kok bisa ya, mereka kayak gitu? Mereka memang dari kalangan orang berada. Tapi gaya dan kelakuannya, membuatku jadi ilang feeling. Raut wajahnya juga nggak bersahabat. Terlihat glamor dan terkesan ingin menonjolkan diri. Lebai.
Giliran selanjutnya, kuamati kerumunan teman-teman yang tidak terlalu burank dan tidak menonjolkan diri layaknya Laura dan kawan-kawannya. Mereka lebih suka dengan belajar bareng, jajan bareng, jala-jalan bareng, dan hidup apa adanya. Mereka suka berfoto ria, namun tidak terlalu sering. Kebanyakan dari mereka berada di peringkat tengahan, sepertiku. Keakraban  mereka begitu melekat. Tawa canda senantiasa tercurahkan dalam kesehariannya. Kekompakan terlihat saat mereka mengerjakan tugas bersama. Tidak ada yang terlihat ingin bersaing layaknya teman-temanku yang aku klaim bureng. Aku lebih suka dengan teman-teman ini. Aku pun masuk dalam kelompoknya. Namun ada beberapa hal yang tidak aku sukai dari mereka. Ya, biasanya dalam kerja kelompok, mereka lebih suka menggosip daripada belajar. Lebih suka guyon yang berlebihan. Menurutku, mereka melakukan hal-hal yang biasa-biasa saja. Kurang tegas dan penurut dalam situasi dan kondisi. Tak ada motivasi dan hal positif yang aku dapat dari mereka. Hidupku terasa datar-datar saja. Tak ada teguran, bila aku melakukan kesalahan, ataupun hal memalukan. Mungki malah ditertawakan. Tapi aku tahu, mereka hanya bercanda. Aku tahu itu.
Lama aku terdiam. Menatap tetes hujan dibalik tirai jendela. Kulihat, rintik-rintiknya begitu indah saat tersangkut di dedaunan. Teksturnya berbentuk bulatan kecil, bening, dan tampak anggun. Rintik-rintik itu seakan bercengkrama dengan teman-temannya. Damai terajut penuh kebersamaan. Rintik-rintik itu mengusik masa laluku. Mengingatkanku pada seseorang yang kini tak ada di sampingku. Sendiri. Aku memang sengaja memojokkan diri di kursi siswa paling pojok-belakang untuk berfikir dan merenung. Mengamati setiap gerak dan langkah teman-teman. Menelaah makna dibalik senandung kehidupan. Berangan-angan, sambil memutar memori masalalu. Memang sulit untuk menemukan sesosok teman sejati seperti dia. Rizka. Dia berbeda. Sulit sekali aku menemukan sesosok teman sebegitu mulia seperti dia. Parasnya yang lugu tak ada yang menyamai. Suasana hatinya yang menyejukkan dan tatapan khas matanya yang istimewa tak tertandingi. Berbeda. Dia mempunyai wawasan hidup yang sangat besar. Selalu menemaniku dengan petuah-petuah dan pembaharuan baru. Fikirannya selalu sejalan dengan apa yang aku fikirkan. Mempunyai segudang impian dan harapan, punya bekal niat dan tekat untuk mewujudkannya. Pola hidupnya sederhana, tapi pola fikirnya mendunia. Hatinya sungguh mulia, membuatku terkesima ingin mencontoh tingkah lakunya. Mengajarkanku pada hal-hal berbau positif, mengajakku membaca novel-novel bernuansa motivatif, juga menceramahi untuk tidak berperilaku konsumtif. Ku sadar, saat itu. Dialah teman sejatiku. Teman yang mengingatkanku bila aku salah, teman yang selalu menyemangatiku ketika tertimpa masalah, teman yang setia bersamaku ketika hatiku gundah, teman sebagai penyejuk saat aku berkeluh kesah, teman yang melindungiku dari salahnya langkah, teman sebagai motivasi kala semangat sedang patah, teman pemberi petuah hidup yang menggugah. Sungguh, betapa aku merindukan sosoknya. Kenapa jarang sekali ada sosok seperti dia. Bahkan di sekolah baruku ini, aku belum menemukan sahabat yang benar-benar bisa mengertiku seperti Rizka.
Andai saja saat ini aku sedang bersamanya, mungkin aku tidak akan merasa kesepian. Mungkin kami akan bertukar cerita kembali tentang para ilmuwan besar seperti dulu saat kami duduk di bangku SMP. Kami akan saling bercerita mengenai mimpi dan angan kami kelak kalau sudah dewasa. Kami bercerita tentang rendahnya kualitas SDM Indonesia yang tidak bisa memanfaatkan SDA seoptimal mungkin, sehingga kekayaan alam pindah ke tangan negara asing. Kami juga bercerita tentang sistem pemerintahan di Indonesia yang amburadul. Kami bercerita tentang Istri-istri Soekarno, Kepemimpinan Soeharto, Perjuangan BJ Habibie, Albert Einsten yang pernah membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Aku benar-benar merasakan hidup yang penuh warna saat bersamanya. Aku merasakan mimpi dan anganku begitu nyata, saat itu. Tapi itu dulu. Dulu ketika aku masih SMP, saat sedang bersamanya. Kini ternyata telah berbeda. Dia sudah tidak bersamaku lagi. Nem UAN memisahkan kami berdua. Kini dia berada di SMA 103 yang ada di Jakarta. Kami sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Kadang kerinduan hanya bisa terbalas dengan saling menelpon, tanpa langsung bertatap muka.
“Teeeeeettttttt Teeeeeetttt”
 Bel mulai berbunyi, mengagetkanku yang sedang bermesraan dengan masa laluku. Aku meringkas lamunanku. Kini kami telah berbeda. Kami menempuh jalan hidup masing-masing. Aku tidak boleh terus-menerus bergantung pada dirinya. Aku harus bisa menghargai perbedaan. Aku harus sadar, inilah duniaku. Aku yakin bahwa aku bisa merajut impianku dengan tanganku sendiri. Aku tak perlu bersedih kembali. Masa depan ada di depan mata. Tinggal gimana kita dalam menyikapinya. Aku akan bergerak. Aku akan berusaha terbang menembus pintu dunia, membuka cakrawala. Aku yakin aku bisa.

Sahabat, kaulah penyemangatku. Kau buatkan aku rumah baru dengan bekal semangat, dorongan, dan motivasimu. Kau berikan penyangga yang tegap, atap yang kokoh sebagai pendongkrak semangat dalam hidupku.  Tapi aku tahu, aku menyadari. Rumah baruku ini harus aku sendiri yang mengisi. Aku tak boleh memintamu kembali untuk memasangkan lampu sebagai penerang di rumahku. Aku harus menyalakannya sendiri. Aku harus menyinari rumahku dengan keringatku sendiri. Aku tidak boleh terus-terusan bergantung dan bersandar di bahu orang lain. BERDIKARI. Berdiri diatas kaki sendiri. Itulah sebuah pesan sarat makna dari Bung Karno. Terimakasih, kawan. Aku akan buat rumahku senyaman mungkin. Penuh dengan angan dan impianku, serta kenangan kita bersama. Akan kujaga rumah itu, demi persahabatan kita bersama. Semoga ikatan persahabatan kita senantiasa abadi sampai akhir hayat nanti.
***

Senin, 17 Desember 2012

lustrum Tld, hampir lupaa -____-

Dear WhiteSun,

Kemarin hari minggu pagi, aku merencanakan untuk jalan-jalan ke sunmor (sunday morning) di UGM. Setelah aku merencanakan acara tersebut dengan matang-matang dan dengan hati penuh nuansa kegirangan, ternyataaa............

Drrrtt... Drrrtttt... -apaan tuh?- ternyata hpku bergetar. Oh tidaaaaaakkkk.... Sms menyapa..

Kubaca, oh dari Netta temenku IPA8.

"Fid, kamu dimana?''

aku mbales smsnya: "dirumah, Nett. Emang ada apa?"

Kurang dari semenit, sms dari Netta nongol lagi. "kamu nggak ke UMY fid"

(aku lupa mbales apa) tapi kayaknya aku mbales gini: " nggak. loh emang ada apaa?"

ternyata oh ternyata...

ADA LUSTRUM TELADAN 55!!! aku sih nggak kaget. biasa aja hahaaa...

beberapa detik kemudian ada sms dari seorang penceramah, jubirnya ipa8. Namanya Ulfah.

Drrrttt... drrtttt... hapeku getar lagi...

Keluarlah aungan dari sang penakluk jiwa yang hampa, seorang putri dari istana ipa8 yang terkenal dengan julukan "kelas Cambridge", menggugah nuraniku untuk segera mandi dan langsung tergugah untuk pergi ke UMY, menyemarakkan LUSTRUM TELADAN 55..

"Fid, kamu tuh IKAP. harusnya kamu ngajarin adek-adekmu buat cinta Teladan dong. bla bla bla blaaa...... "

Smsnya panjang lebar.(aku lupa terusannya. udah dihapus smsnya -,- )

Jleb Jleb Jleb.

Kalau udah menyangkut-pautkan IKAP, aku dah nggak bisa berkutik lagi. Ya jelas malulah, kalau ntar adek ikap ada yang tahu..Aku nggak mau jadi mbak ikap yang buruk, yang nggak bisa dijadiin contoh buat adek-adekknya.

Serentak. Aku mandi. Ganti baju seragam, serapih mungkin. Semangat kembali membara! Semangat, kubisikkan pada diriku sendiri. Hmm.... untung ada ulfah dan temen2 ipa8 yang mengingatkanku.


Tapi oh Tapiii, sebenarnya aku nggak mau ikut ke UMY buat upacara pembukaan itu karena jas almamaterku hilang.

Sebelumnya waktu malem sebelum hari H, aku ketemu Fira (sahabatku -mungkin- gejenya semacamku) di masjid Syuhada'. Teyus kami pun sepakat buat nggak ikut LUSTRUM karena nggak punya jas alma :( so, ya gituu....

Kami (aku sama fira) tiba di UMY sekitar jam 9.30an. Ahhhhhh...... Ketika pertama masuk gerbang sportorium UMY, aku melihat banyak anak teladan yang menggunakan pakaian panitia, sebagian yang lain menggunakan seragam.

Aku melihat anak-anak kelas 1 lagi berprofesi jadi tukang parkir...

Saat mau memparkirkan motor, aku lihat Marvi (ketua osis di sekolahku). Marvi langsung ngomong (agak keras -,- ):

"Wooohh... Lagi berangkat to Fid....."

ahhh.... syid.... aku iniii semacam orang yang tidak ada rasa cinta sama SMA N 1. Padahal kawann, bukan itu niatanku.. hikss T.T

mukaku waktu ituuu... berasa pengen tak balang sepatuuu.. terbesit, "nggak malu o?..''

yaudah lah,, buat lucu-lucuan ajaaa....


Di UMY, tiap sinom mendirikan stand masing2 buat cari dana event mereka. Contohnya, anak TJRC jualan Pop ice, ank sigma jualan gantungan kunci stiker makanan dll, anak TSC jualan minum jugaa sambil (tersirat) promosi exacta gituu.. anak Np juga pada jualann....

hmm... aku sama Fira jalan-jalan mulu kayak orang ilang. Luntang lantung nggak tau tujuan.

Dan akhirnya.. duduk di suatu pohon yang rindang -semacam shidarta yang duduk di bawah pohon bodhisatwa-. Melihat tonti dari sekolah2 lain...



Hmm... it's fun :D




Sabtu, 15 Desember 2012

Belajar nyambi berwirausaha :D


Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh..
Temans, ketika penulis mulai googling tentang hal 'berwirausaha', penulis dapet suatu artikel menarik nih buat bacaan dan nambah-nambah pengetahuan. 
Dibaca yuks...      

Saat ini banyak orang terpikir untuk memulai usaha sendiri. Tak aneh memang, di saat lapangan kerja yang makin sulit, atau kalaupun telah bekerja namun penghasilan masih belum mencukupi kehidupan sehari-hari. Atau kalaupun sudah mencukupi, tapi waktu untuk keluarga justru tak ada. Maka, memulai usaha sendiri menjadi pilihan untuk mengubah kondisi itu.
Akan tetapi masih banyak juga yang tak kunjung mau ACTION memulai wirausaha. Mengapa? Konon, ada banyak hambatannya. Yang bila kita tanya pada orang yang belum memulainya, banyaknya hambatan tersebut bisa dari A sampai Z.
Ok… saya paham, tiap orang itu unik. Tiap orang punya kondisinya masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Namun, secara umum, orang yang tak kunjung mencoba wirausaha, biasanya alasannya karena di bawah ini.
  1. Modal. Sering orang yang berniat memulai usaha, modal menjadi kambing hitam. Modal di sini diidentikkan dengan uang. Karena tak memiliki modal uang yang mencukupi, maka tak kunjung mulai usaha.
    Ya, saya tahu modal uang itu penting. Tapi ada banyak modal lain yang saya kira juga tak kalah penting seperti jaringan atau bahkan diri anda sendiri. Kejujuran, ketekunan dan sikap pantang menyerah yang anda miliki adalah modal besar untuk sukses berwirausaha.
    Banyak cerita juga bagaimana banyak wirausahawan sukses lahir bukan karena berlimpah-ruahnya modal uang, tapi modal sosial atau modal yang ada dalam dirinya.
    Kalau yang mau memulai usaha online, bisa dicoba bisnis afiliasi, seperti afiliasi Mr Action Club dan Aset Virtual contohnya. Ini usaha yang tanpa modal uang. Tinggal promosi dan hasilkan komisi.
  2. Tak tahu bagaimana cara memulai usaha. Anda tak tahu bagaimana cara memulainya, sehingga tak kunjung mulai usaha. Kalau yang ini, mau tak mau anda harus belajar.
    Belajar tak harus seperti orang yang sekolah datang ke ruang kelas, tapi anda bisa diskusi atau ngobrol dengan orang yang telah mulai usaha. Anda serap ilmunya dan tinggal praktekkan.
Dan mungkin banyak lagi hambatan lainnya…
Tapi semua itu, menurut saya, akar masalahnya  terletak pada mindset. Bagi yang belum terbentuk mindset bisnisnya, mungkin terasa tak mudah untuk memulainya.
Kalau yang sebelumnya sudah punya penghasilan tetap, tiba-tiba terbayang harus beralih ke kondisi yang tak pasti. Tak jelas berapa penghasilan yang diperoleh bulan depan, belum jelas bagaimana usaha yang akan dicobanya nanti, dst.
Ketakutan dan kekhawatiran semacam itu mampu menahan mereka untuk tidak kunjung ACTION memulai usaha sendiri.
So, bagaimana?
Asah mindset bisnis anda. Bergaul dengan orang-orang yang berwirausaha bisa membantu mengasah mindset bisnis anda. Bukan saja anda belajar cara teknisnya, tapi juga belajar dari suka-duka yang mereka lalui sebagai wirausahawan.
Langkah lain yang “relatif aman” adalah dengan memulainya sebagai bisnis sampingan. Tanpa melepaskan pekerjaan saat ini, sambil mulai mencoba buka usaha sendiri. Dengan demikian, diharapkan mindset bisnis perlahan semakin teruji.
Sebab wirausaha itu butuh praktek, butuh ACTION!
Kalau anda belum juga mulai usaha, ada baiknya anda lihat ke dalam diri anda sendiri. Ada apakah dengan diri anda?
Menurut saya, seorang wirausahawan itu punya ciri atau karakter yang terangkum dalam kata ACTION.

A = ACTION

Action atau tindakan adalah karakter wirausaha. Menjadi wirausaha berarti mau mengambil inisiatif, mau melakukan ACTION, mau mengambil tindakan untuk mengambil peluang yang ada. Wirausahawan bukan sosok yang mudah berdiam diri. Mereka mengutamakan tindakan dalam kesehariannya.

C= CREATIVE

Wirausahawan itu sosok kreatif. Mereka mampu menciptakan/mengembangkan sesuatu yang mungkin sebelumnya dianggap biasa atau bahkan mustahil oleh banyak orang. Kreativitas tersebut membuatnya berhasil membuat nilai tambah dalam apapun yang digelutinya. Masalah mampu diubahnya menjadi peluang.
Mereka juga kreatif untuk menghadapi tantangan usaha yang dihadapi. Tantangan yang kian besar justru memompa semangatnya untuk lebih kreatif dalam menghadapi tantangan usaha.

T= TRUST

Wirausahawan memegang trust sebagai prinsip hidupnya. Dalam pengertian ke luar diri, trust berarti tekad untuk memegang kepercayaan konsumen. Mereka sadar, kepercayaan adalah modal utama dalam bisnis.
Ke dalam diri, trust berarti percaya pada dirinya, pada apa yang di-ACTION-kannya. Wirausahawan punya rasa percaya diri untuk melakukan ACTION.

I = INDEPENDENT

Independent atau kemandirian menjadi jiwa wirausahawan. Mereka ingin bebas, ingin mengatur hidupnya sesuai yang dia mau. Wirausaha mandiri ingin bekerja untuk dirinya sendiri. Mereka mau mewujudkan impian-impiannya lewat usaha mandirinya itu.
Kemandirian tersebut juga membuatnya sadar akan resiko yang mungkin terjadi, dan dia siap menanggungnya sebab telah memilih jalan wirausaha.

O= OPPORTUNITY

Opportunity atau kejelian melihat peluang/kesempatan adalah ciri wirausahawan. Dimana-mana dia temukan ide ide bisnis yang bisa menjadi peluang bisnis baru.
Kejeliannya melihat peluang tersebut bukan saja menghasilkan uang bagi dirinya sendiri, tapi banyak orang lainnya.

N = NO QUIT

Wirausahawan sejati tak pernah menyerah. Mereka tak pernah berhenti ACTION. Kegagalan tak pernah dianggapnya sebagai kegagalan. Setiap kali jatuh, dengan cepat mereka bangkit dan ACTION lagi. Mereka percaya kesuksesan itu pasti akan datang.
Kesuksesan itu tak datang tiba-tiba. Tapi melalui proses penuh keringat. Dan semuanya itu akan terbayar lunas saat menjadi wirausaha sukses.
Sempat beberapa waktu lalu dalam diskusi dengan Pak Imanuel Ginting dalam komentar di postingan Siapkah Menghasilkan Uang dari Internet secara Full Time?saya katakan…
“Saat melihat seseorang yang sudah sukses, pelajari juga proses jatuh bangunnya. Sebab itu akan mengasah mental entrepreneur kita.”
Mari ACTION! Jangan tunda lagi. Setiap detik yang ditunda untuk memulai sesuatu, berarti anda sendiri yang menundanya untuk lekas terwujud.
Salam ACTION!
so, teman... walaupun kita masih duduk dibangku SMA, kita tetap bisa belajar, berorganisasi, dan berwirausaha asal punya tekat dan kemauan. Tumbuhkan jiwa kemandirian dgn berwirausaha, sehingga juga bisa untuk melatih dan memanajemen diri, pengalaman buat masa depan. It's simple, right? 
Selalu ada matahari terbit setelah matahari terbenam -Teladan Science Club-
Satu kunci: Pantang Menyerah!!! :D :D :D :D :D