Sendiri. Di liburan ini, kuluangkan sedikit waktuku untuk menulis
sesuatu yang mungkin terlalu penat dan harus dimuntahkan dari hati. Lelah,
memang. Hati ini terkikis oleh erosi virus yang menggelapkan jiwa. Yang
menghanyutkan segala rasa dan terlelap dalam harapan semu beralas pedih tak
terkira.
Mungkinkah aku sanggup untuk meneruskan rasa ini? Karena memang
telah lama ia bersemayam dalam hatiku. Berlalu lalang bagai orang bingung, yang
senantiasa membakar hangus pikiranku. Kadang hati ini ingin menjerit. berontak.
Bingung harus gimana. Hilang arah, hilang tujuan. Seakan, aku merasa sendiri
dalam gejolak hati yang kian mendahsyat. Diredam pun tak sanggup. bahkan
mungkin isakan tangis yang kudapat.
Aku tahu, dia memang tidak menyadari tentang kesedihan berbalut
senyum yang merekah tiap harinya. Bismillah, hanya menerawang, sambil berkata
"tetap tersenyum walau kecewa". Yupz. Kata-kata itu. Harapan sebagai
penguat jiwa. Agar tak runtuh oleh seorang yang bukan siapa-siapa.
Kapankah rasa ini hilang? Kapan ia sirna? kapan? Apa harus
menunggu ia mati? atau aku saja yang mati? Mungkin saja aku terlalu tega untuk
berucap seperti itu. Lenyaplah saja dia dari hidupku, daripada harus
menggangguku siang dan malam.
Bukan. Dia tidak menggangguku. Dia memang tak bersalah.
Tidak tahu apapun yang aku rasakan. Tetap konstan berada di tempatnya. Tak
menjauh dan tak mendekat denganku. Hanya aku yang terus bergulat dengan
virus dalam hati dan jiwaku sendiri.
Sahabat,
Kadang fikiran ini berkelana terlalu jauh. Berharap gelombang itu
berbalik merespon. Ah, beginikah rasanya? Terikat dalam jeratan yang aku
sendiri tak bisa melepasnya.
Sejak dulu.... Lama sudah...
Ia,dalam sudut pandangku, sosok bintang dengan indahnya sinar yang
hanya bisa dipandang dengan jarak yang sekian jauhnya. Namun Aku hanya diam...
dalam kesendirian... memandang, dan tak kan mungkin menggapainya.
Dalam diam itu, aku merenung.
Memikirkan sajak-sajak hidupku yang selalu kelabu. Sejenak, aku berfikir.
Mengapa jiwaku begitu seperti ini? Tertindas! Kenapa aku begitu lemah? Bukankah
ini masalah yang sepele? Kenapa aku mau tersakiti oleh rasaku sendiri? Siapa
sih dia?
#berfikir#
Ternyata... bodohnya aku. Mau saja
memendam rasa yang dapat meluluhlantakkan imanku. Yang menyedot fokus belajarku,
membentuk lubang paku dalam hatiku. Oh kawan, perih sekali. Sedang dia?
Enak-enakan saja bersenandung ria tanpa memikirkan apa yang aku rasa. Ini tidak adil! Tak berhak ada yang
menyakitiku, menjerat dalam selubung duka yang menahun. Terjerembab dalam
jurang derita tanpa secercah cahaya. Gelap sekali pikiranku. Tak dewasa. Aku
bagai seorang yang tlah dipermainkan diriku sendiri. Ya, aku dipermainkan hati,
jiwa dan fikiranku.
Masih berfikir. Baguskah ini? Baikkah ini?
Apakah caraku ini benar? Apakah ini membuat hidupku jadi lebih baik? Apakah ini
membuatku semakin menyadari makna hidup? Apakah kalau aku terus begini,
cita-citaku akan berhasil? Bagaimana dengan orang tuaku? Akh.. tentulah aku
takkan mau melihat mereka kecewa, menitikkan air mata atas jiwaku yang
menghampa.
Ku buka foto yang aku selipkan dalam mushaf al
qur’an warna pink yang selalu aku taruh di ranselku. Foto orang tuaku! Ya
Allah, apabila suatu saat nanti aku tidak bisa membahagiakan mereka.. betapa
hinanya diriku. Betapa buruknya diriku.
Galau ini memberi banyak keburukan. Jam belajarku
tersita untuk ngecek timeline facebook dia. Takut kalau-kalau ada orang lain
yang berkomunikasi di fb sama dia. Cemburu. Kepo sana-sini, googling nama dia,
tanya sana-tanya sini, sungguh seperti orang yang nggak punya kerjaan. Ini
sia-sia. Memang benar kok, dia banyak yang suka.Lantas? setelah aku tau itu
semua, aku nggak bisa ngapa-ngapain. Meratapi nasib yang selalu tak berpihak.
Hanya sayatan pedih menyambar dada yang terasa. Sedih, masalah tanpa solusi.
Inikah yang aku inginkan dalam hidupku? Terus menyiksa batin tiada
habis-habisnya.
Tidak! Galauku sudah selesai. Mulai hari ini,
mulai detik ini! Takkan kubiarkan deras ombak mematikan itu menyerang sel-sel
jiwaku. Takkan kubiarkan galau menindas cercah cahaya yang menyinari qolbu.
Telah lama qolbu ini gelap. Hening. Sayup. Dingin. Dengan bismillah, akan ku
buka jendela itu. Jendela hati, supaya aku mendapat indahnya sinar hidup yang
sangat sangat indah. Tanpa lagi nestapa galau. Takkan kubiarkan jendela itu
tertutup kembali. Sinar terang itu harus aku peroleh. Aku tak ingin lagi dalam
masa pekat. Tidak ada yang berhak membuatku semakin menepi seperti ini.
Biarlah galau ini pergi dengan maknanya yang
pernah terekam dalam bingkai memoriku. Dalam tiap denyut nadiku. Pergilah.
Insyaallah aku rela. Aku telah melepasmu, kawan. Bawalah serta angin-angin kepedihan itu
menjauh dari hidupku. Aku tak pantas menerima penghinaan itu. Karna galau bukan
yang menaklukanku, tapi akulah, seorang perempuan berusia remaja yang sanggup
menaklukan badai galau yang tengah menghadang.
Masih dalam diam. Kupejamkan mata. Dalam hati
aku berkata:
“Kesedihan ini sudah berakhir. Benar-benar
sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir!”.
kutanamkan kata-kata itu, kuresapi dan aku bertekad untuk mewujudkannya. Ku
pandang langit biru bermega seperti kapuk lembut yang menari-nari dengan
indahnya, seakan mereka tersenyum sebagai tanda persetujuan. Langit. Aku harus
terus menatap ke depan. Masa depan ada di depan mata. Masa depanku, tergantung
dari sekarang bagaimana aku menyikapinya. Ayo Move On!
Sendu itu berubah seketika. Mega bercengkrama
dengan kawannya, membicarakan si gadis melankolis yang rautnya kian mencerah. Sedih
itu berakhir indah. Ada lipatan kecil di sudut matanya, bukti memang tulus aku
melepasnya. Ya, walaupun masih tersisa bekas cabutan paku-paku itu. Sedikit
demi sedikit, Insyaallah bisa.
Akhirnya...
Terusirlah sang galau dengan rasa malu yang
amat tinggi. Maka beralihlah debu galau, pada hati orang yang belum mencari
secercah cahaya. Sebagai parasit bagi orang yang hanya diam saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar