Bismillahirrohmanirrohim. Cerpen ini aku persembahkan teruntuk sahabatku tercinta (SK), yang Allah pertemukan kami pada bangku SLTP, tepatnya di SMPN 6 Yogyakarta. Walaupun kini berbeda sekolah, semoga ukhwah tetap dalam genggaman sampai akhir hayat nanti.
Berdikari.
Aku
ingat saat-saat itu. Aku ingat celoteh dan guyonan garingnya. Damai terajut
dalam kebahagaiaan bersama. Tawa canda, senantiasa merekah di bawah payung
persahabatan. Kuingat, dari dulu kami selalu bersama. Jalan bersama, belajar
bersama, duduk semeja bersama, sedih senang bersama, makan bersama, sholat
Dhuha bersama, tertawa bersama, nginep bersama, nggibah bersama, nggak
ngerjakan PR bersama, dan visi-misinya juga sama. Walau kadang kala ada
perselisihan, itu adalah lumrah.
Dia,
sebut saja Rizka. Rizka adalah sahabat sejatiku semenjak kelas 1 SMP. Seseorang
yang penuh pendirian, jujur, punya prinsip dan berkarakter. Tinggi badannya
melebihi rata-rata orang biasa. Tinggiku saja kira-kira hanya sedagunya. Wah,
aku merasa kerdil di dekatnya. Tapi tak sekalipun ia menjelek-jelekkanku walau
hanya sebuah guyonan. Walaupun kadang galak, tapi galaknya adalah tipe galak
bermotivasi dan berkualitas tinggi. Kegalakannya bisa membuat seseorang yang
bersalah menjadi sadar dan ternasihati, ya walaupun sedikit atos dan nylekit.
Suaranya lembut, namun menggelegar dalam ruang kalbu para pendengar. Memang
sahabatku ini termasuk makhluk yang sangat langka. Spesiesnya jarang sekali
ditemukan. Aku tidak melihat ada teman-teman yang punya hati semulia dia. Dalam
hal ini bukan berarti apapun, tapi mungkin saking kagumnya diriku terhadapnya.
Dia selalu berusaha optimis dalam menjalani hiruk-pikuk kehidupan, tak kenal
menyerah, selalu ber-positive thinking,
disiplin tinggi, tapat janji, tapi sedikit lelet dan nggak cakcek. Cala
berjalannya juga aneh, menurutku. Dulu waktu pertama aku bertemu dengannya, aku
mbatin, “nih anak, jalannya lemot banget. Iuhh, kayak penyu mo ngelahirin”.
Yah, maklumlah waktu itu aku memang sedikit mendes, juga belum kenal dengan
pribadinya. Kata teman-teman dekatku, Rizka tu orangnya jujur dan polos banget.
Ya, itu emang benar. Menurutku tak hanya itu, sosoknya yang berkarisma
mencerminkan pribadinya yang cantik dari dalam hatinya. Inner beautiy, bahasa gaulnya.
Temenku bilang, “Rizka orangnya care, baik, menghargai teman, dan kalau aku mau
ngutang, dia pasti ndak pernah berkeberatan. Padahal dulu aku sering banget
ngutang ama dia. Tapi saking baiknya tuh bocah polos, mau kubayar aja, belagak
lupa”. Sungguh, sosoknya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin inipun
tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya.
Aku
ingat beberapa bulan lalu saat dia menjadi bendahara di kelasku. Sebagai orang
yang tegas dan disiplin, dia aktif sekali dalam hal tagih-menagih iuran rutin
kas kelas. Tak pernah sekalipun ia menunggu teman-teman datang ke mejanya untuk
mbayar kas, karena dia tau belum ada kesadaran dari diri teman-teman untuk
mbayar pajak kelas. Setiap hari Jum’at adalah jatah untuk mbayar pajak kelas
alias uang kas. Saat itulah dia mulai
beraksi. Nagih sana-sini, nggak kenal lelah. Dia tahu kalau jadi bendahara
adalah amanah yang besar. Makanya, dia tak bosan-bosannya mengingatkan,
menagih, menegur, menceramahi teman-teman yang alot ditarik uang pajak,
termasuk aku.
“Willy,
mbayaarr!!!”
“Besok
Ka, besok.
“Ndak
boleh! Pokoknya harus sekarang. Kamu dah telat berminggu-minggu. Pokok’e kudu
mbayar sekarang!”
“Besok,
Ka. Tenan aku ndak bohong. Aku ndak disangoni sama bapakku.”
“Alah
ngapusi we. Cepet mbayar!! Nek ndak mbayar tak bilangin Bu Esti”
Deg!
Mendengar kata ‘Bu Esti’, raut mukanya langsung berubah.
“Wah,
jangan, Ka. Sampeyan ki cangkeman. Yowis, sekarang aku mbayar. Nih, adanya baru
seribu doang.” Kata Willy si Ketua Kelas yang terkenal gondes, ngutangan,
misuhan, suka nongkrong di angkringan, mbolosan, nyontekan, ndobosan dan suka merokok sambil mengeluarkan selembar uang
lecek dari dompet kulit warna coklatnya.
Bu
Esti adalah guru yang sangat Aku dan Rizka sayangi. Beliau adalah sesosok guru
gemuk, bulet seperti onde-onde, tidak terlalu tinggi, killer, dan selalu mbawa
kipas –semacam kipas kondangan- tiap mengajar di kelas. Beliau terkenal galak,
namun wibawanya luar biasa. Kami tahu bahwa dibalik sifatnya itu terdapat hati
yang sangat bijaksana dan penuh penyayang. Beliau selalu membentak-bentak kami
dengan kata-kata motivasi dengan semangat yang membara, semacam dengan sifat
sahabatku, Rizka. Kata-katanya slalu merasuk kalbu bagi tiap orang yang
mendengarnya. Semangat hidup menjadi berkobar menyala-nyala. Motivasinya tak
kalah dengan motivasi dalam novel-novel best
seller karangan Andrea Hirata. Tatapan matanya setajam halilintar yang
menyambar tiap manusia. Hati menjadi tergugah, jiwa raga terketuk untuk
melangkah, mengubah pandangan tiap siswa yang bersalah. Kata-kata Beliau
bagaikan Bung Tomo yang berhasil mengobarkan semangat arek-arek surabaya untuk
berani bertempur mengusir penjajah sampai titik darah penghabisan. Sungguh, motivasi
Bliau sampai sekarang masih terngiang dan menjadi salah satu motivasi dalam
hidupku. Mungkin itulah sebabnya Rizka sangat menyegani dan menghormati Bu Esti
sebagai wali kelas kami. Entah karena kepercayaan kepada guru kami tercinta
ini, kami pernah sampai curhat-curhat kepada Beliau mengenai masalah yang ada
di kelas. Tentang masalah pertemanan, masalah anak-anak yang gondes dan mendes,
masalah gank, masalah uang kas, masalah piket kelas, masalah kekompakan,
masalah contek-mencontek, masalah cinta, dan lain-lain.
“Bu
Guru, Rafli kok orangnya atos sama saya ya? Dan dia nggak bisa ramah sama saya.
Atau mungkin saya yang ndak bisa akrab dan berbaur sama dia?”
“Emm,..”
(Bu Guru terlihat berfikir sejenak). “Kamu
ndak perlu merasa gimana-gimana tentang itu. Karakter tiap orang itu
berbeda-beda. Ada yang berkarakter lembut, atos, dan sebagainya itu sudah
menjadi pribadinya. Kamu juga harus bisa menerima perbedaan-perbedaan itu.
Tidak semua yang kita pandang buruk itu memang buruk, tetapi mungkin karena
kita belum terlalu mengenal pribadinya. Mungkin saja dibalik sifatnya yang
terkesan ketus dan cuek, namun orangnya sangat baik. Kita ndak boleh mandang
orang dari satu sudut pandang aja. Setiap orang pasti berbeda. Itu pasti. Kamu
pun berbeda. Tak akan ada yang sama denganmu. Saya juga berbeda. Demikian juga Rafli,
dia juga berbeda. Dengan sangat adilnya, Allah memberikan kita berbagai hal
yang membedakan diri kita dengan yang lain. Dengan kelebihan dan kekurangan
yang kita miliki. Tinggal gimana caranya kamu bisa memahami perbedaan itu.”
“Lha
kalau perbedaan itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan gimana Bu?” tanyaku.
“Kita
tidak boleh terlalu mengharap kepada seseorang. Kita tidak boleh mengharap dia
lembut pada kita, sedangkan sifat atosnya itu memang asli sudah melekat dalam
dirinya. Jika kita terus saja berharap pada manusia, kita akan merasa tersakiti
apabila tidak mendapatkan yang diharapkan.”
“Bingung,
Bu. Contohnya gimana, Bu Guru?”
“Contohnya
adalah apabila kita sedang mencintai seseorang. Kita ndak perlu bertahun-tahun
menunggu sampai dia membuka pintu hatinya pada kita. Kita ndak perlu
berangan-angan hidup bersamanya bila kita tahu cinta kita bertepuk sebelah
tangan. Kita ndak perlu bersedih hati, meratap, menangisi, mendesah diiringi
lagu cinta sambil meneteskan kepedihan air mata karena terbayang-bayang
tersakiti oleh dirinya. Manusia bukan tempat untuk berharap! Janganlah terlalu
berlebihan dalam berharap pada manusia. Kita hanya diperbolehkan berharap
kepada Allah! Jika kita terlalu berharap kepada manusia, apabila harapan
tersebut tidak tercapai, kita akan terus merasa kecewa dan tersakiti. Coba aja
kau fikirkan. Kau berlarut-larut dalam kesedihan memikirkan dan membayangkan
seseorang yang kau cintai sejak lama, menantinya, dan terus saja berharap agar
dia bisa ‘melihat’mu. Kau tidak tahu kan, apakah dia memikirkanmu kembali atau
malah cuek bebek? Apa dia juga berlarut-larut memikirkanmu, seperti kau
memikirkan dia tiap waktu? Bagaimana bila tidak? Bagaimana bila harapanmu malah
bertolak belakang? Itulah alasannya kenapa jangan terlalu berharap kepada
seseorang. Untuk apa kau memikirkan
orang, yang orang tersebut tak pernah memikirkanmu sama sekali? Untuk apa kau
meratapi dan menagisi seseorang, sedangkan orang tersebut ndak pernah
menangisimu? Bagaimana bila kau tahu itu? Apa ndak sakit hati?” kata Bu Esti
dengan raut muka bijaksana, laksana bidadari turun dari langit, menebar
benih-benih kedamaian dan kesejukan jiwa. Rautnya teduh, tak sedikitpun
terlihat kerutan tilas kegalakannya kepada teman-teman gondes-mendes di
kelasku.
Aku
dan Rizka fokus dan mangut-mangut tanda mengerti terhadap ceramah dari Bu Guru.
Ya, jawabannya cukup memuaskan untuk curhatan kami pada siang hari saat kelas 3
SMP di ruang perpustakaan sekolah dengan suguhan AC dan TVOne. Setelah itu,
kami nonton berita di TVOne bersama-sama dengan damai dan bahagia, aman
sentosa.
***
Tertunduk
lemas diantara pemandangan riuh teman-teman sekelas, di sebuah SMA favorit di
Ibu Kota Jakarta. Ditengah pelajaran Sosiologi yang kuanggap membosankan, aku
termenung. Mendung menghiasi wajahku tanda kesedihan dan kerinduan seorang
teman sejati. Teman-teman sibuk dengan tawa canda mereka, menggosip sana-sini,
foto-foto dengan gaya narsis alainya.
Aku
mengamati mereka satu per satu.
Aku mengamati Zana dan gerombolannya. Yah,
mereka terlalu bureng (buru rengking). Aku nggak terlalu suka dengan
orang-orang yang terlalu melulu menghabiskan masa-masa remaja mereka dengan buku
tiap hari, pagi, siang, dan malam. Kehidupan nggak hanya untuk dunia aja,
batinku. Besok kalau kita dewasa, kita akan kerja dan bermasyarakat. Tidak
hanya nilai yang bisa membawa mereka sukses, tetapi juga pintar tidaknya mereka
dalam bermasyarakat. Mengenai bagaimana hubungan sosial mereka dengan yang
lain. Mereka terlalu over, terlalu mengejar-ngejar ranking, sehingga pertemanan
diantara mereka tidak akrab, menjadi lenggang. Dan menurutku itu buruk. Aku
ndak begitu srek sama mereka.
Berikutnya,
aku mengamati gerombolannya Laura, yang terdiri dari 3 cewek mendes, menurutku.
Gerombolan ini terdiri dari Laura, Poppy, dan Hira. Mereka tidak mementingkan
pelajaran. Terlalu malas dan tidak profesional. Kerjanya hanya maen blackbarry
aja sambil cari perhatian dengan membuat ulah-ulah aneh di kelas. Jika ada
tugas kelas, mereka kerap kali mengabaikannya. Tapi walau begitu, mereka
lumayan pinter. Mereka sukanya shopping
kesana sini, dan lebih mementingkan popularitas. Kuintip, ada bedak, sisir, dan
parfum dalam laci mereka. Mereka seakan ingin diketahui oleh dunia, bahwa
mereka itu ada, dan mereka eksis. Mereka cuek dengan yang selain kalangannya,
termasuk denganku. Mungkin mereka tak menganggapku ada. Aku terheran-heran, kok bisa ya, mereka kayak
gitu? Mereka memang dari kalangan orang berada. Tapi gaya dan kelakuannya,
membuatku jadi ilang feeling. Raut wajahnya juga nggak bersahabat. Terlihat
glamor dan terkesan ingin menonjolkan diri. Lebai.
Giliran
selanjutnya, kuamati kerumunan teman-teman yang tidak terlalu burank dan tidak
menonjolkan diri layaknya Laura dan kawan-kawannya. Mereka lebih suka dengan
belajar bareng, jajan bareng, jala-jalan bareng, dan hidup apa adanya. Mereka
suka berfoto ria, namun tidak terlalu sering. Kebanyakan dari mereka berada di
peringkat tengahan, sepertiku. Keakraban mereka begitu melekat. Tawa canda senantiasa
tercurahkan dalam kesehariannya. Kekompakan terlihat saat mereka mengerjakan
tugas bersama. Tidak ada yang terlihat ingin bersaing layaknya teman-temanku
yang aku klaim bureng. Aku lebih suka dengan teman-teman ini. Aku pun masuk
dalam kelompoknya. Namun ada beberapa hal yang tidak aku sukai dari mereka. Ya,
biasanya dalam kerja kelompok, mereka lebih suka menggosip daripada belajar.
Lebih suka guyon yang berlebihan. Menurutku, mereka melakukan hal-hal yang
biasa-biasa saja. Kurang tegas dan penurut dalam situasi dan kondisi. Tak ada
motivasi dan hal positif yang aku dapat dari mereka. Hidupku terasa datar-datar
saja. Tak ada teguran, bila aku melakukan kesalahan, ataupun hal memalukan.
Mungki malah ditertawakan. Tapi aku tahu, mereka hanya bercanda. Aku tahu itu.
Lama
aku terdiam. Menatap tetes hujan dibalik tirai jendela. Kulihat,
rintik-rintiknya begitu indah saat tersangkut di dedaunan. Teksturnya berbentuk
bulatan kecil, bening, dan tampak anggun. Rintik-rintik itu seakan bercengkrama
dengan teman-temannya. Damai terajut penuh kebersamaan. Rintik-rintik itu
mengusik masa laluku. Mengingatkanku pada seseorang yang kini tak ada di
sampingku. Sendiri. Aku memang sengaja memojokkan diri di kursi siswa paling
pojok-belakang untuk berfikir dan merenung. Mengamati setiap gerak dan langkah
teman-teman. Menelaah makna dibalik senandung kehidupan. Berangan-angan, sambil
memutar memori masalalu. Memang sulit untuk menemukan sesosok teman sejati
seperti dia. Rizka. Dia berbeda. Sulit sekali aku menemukan sesosok teman
sebegitu mulia seperti dia. Parasnya yang lugu tak ada yang menyamai. Suasana
hatinya yang menyejukkan dan tatapan khas matanya yang istimewa tak tertandingi.
Berbeda. Dia mempunyai wawasan hidup yang sangat besar. Selalu menemaniku
dengan petuah-petuah dan pembaharuan baru. Fikirannya selalu sejalan dengan apa
yang aku fikirkan. Mempunyai segudang impian dan harapan, punya bekal niat dan
tekat untuk mewujudkannya. Pola hidupnya sederhana, tapi pola fikirnya
mendunia. Hatinya sungguh mulia, membuatku terkesima ingin mencontoh tingkah
lakunya. Mengajarkanku pada hal-hal berbau positif, mengajakku membaca
novel-novel bernuansa motivatif, juga menceramahi untuk tidak berperilaku
konsumtif. Ku sadar, saat itu. Dialah teman sejatiku. Teman
yang mengingatkanku bila aku salah, teman yang selalu menyemangatiku ketika
tertimpa masalah, teman yang setia bersamaku ketika hatiku gundah, teman
sebagai penyejuk saat aku berkeluh kesah, teman yang melindungiku dari salahnya
langkah, teman sebagai motivasi kala semangat sedang patah, teman pemberi
petuah hidup yang menggugah. Sungguh, betapa aku merindukan sosoknya. Kenapa
jarang sekali ada sosok seperti dia. Bahkan di sekolah baruku ini, aku belum
menemukan sahabat yang benar-benar bisa mengertiku seperti Rizka.
Andai
saja saat ini aku sedang bersamanya, mungkin aku tidak akan merasa kesepian.
Mungkin kami akan bertukar cerita kembali tentang para ilmuwan besar seperti
dulu saat kami duduk di bangku SMP. Kami akan saling bercerita mengenai mimpi
dan angan kami kelak kalau sudah dewasa. Kami bercerita tentang rendahnya
kualitas SDM Indonesia yang tidak bisa memanfaatkan SDA seoptimal mungkin,
sehingga kekayaan alam pindah ke tangan negara asing. Kami juga bercerita tentang
sistem pemerintahan di Indonesia yang amburadul. Kami bercerita tentang
Istri-istri Soekarno, Kepemimpinan Soeharto, Perjuangan BJ Habibie, Albert
Einsten yang pernah membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Aku benar-benar merasakan
hidup yang penuh warna saat bersamanya. Aku merasakan mimpi dan anganku begitu
nyata, saat itu. Tapi itu dulu. Dulu ketika aku masih SMP, saat sedang
bersamanya. Kini ternyata telah berbeda. Dia sudah tidak bersamaku lagi. Nem
UAN memisahkan kami berdua. Kini dia berada di SMA 103 yang ada di Jakarta.
Kami sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Kadang kerinduan
hanya bisa terbalas dengan saling menelpon, tanpa langsung bertatap muka.
“Teeeeeettttttt
Teeeeeetttt”
Bel mulai berbunyi, mengagetkanku yang sedang bermesraan
dengan masa laluku. Aku meringkas lamunanku. Kini kami telah berbeda. Kami
menempuh jalan hidup masing-masing. Aku tidak boleh terus-menerus bergantung
pada dirinya. Aku harus bisa menghargai perbedaan. Aku harus sadar, inilah
duniaku. Aku yakin bahwa aku bisa merajut impianku dengan tanganku sendiri. Aku
tak perlu bersedih kembali. Masa depan ada di depan mata. Tinggal gimana kita
dalam menyikapinya. Aku akan bergerak. Aku akan berusaha terbang menembus pintu
dunia, membuka cakrawala. Aku yakin aku bisa.
Sahabat, kaulah penyemangatku. Kau
buatkan aku rumah baru dengan bekal semangat, dorongan, dan motivasimu. Kau
berikan penyangga yang tegap, atap yang kokoh sebagai pendongkrak semangat
dalam hidupku. Tapi aku tahu, aku
menyadari. Rumah baruku ini harus aku sendiri yang mengisi. Aku tak boleh
memintamu kembali untuk memasangkan lampu sebagai penerang di rumahku. Aku
harus menyalakannya sendiri. Aku harus menyinari rumahku dengan keringatku
sendiri. Aku tidak boleh terus-terusan bergantung dan bersandar di bahu orang
lain. BERDIKARI. Berdiri diatas kaki sendiri. Itulah sebuah pesan sarat makna
dari Bung Karno. Terimakasih, kawan. Aku akan buat rumahku senyaman mungkin.
Penuh dengan angan dan impianku, serta kenangan kita bersama. Akan kujaga rumah
itu, demi persahabatan kita bersama. Semoga ikatan persahabatan kita senantiasa
abadi sampai akhir hayat nanti.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar