Rabu, 19 Desember 2012

Berdikari



Bismillahirrohmanirrohim. Cerpen ini aku persembahkan teruntuk sahabatku tercinta (SK), yang Allah pertemukan kami pada bangku SLTP, tepatnya di SMPN 6 Yogyakarta. Walaupun kini berbeda sekolah, semoga ukhwah tetap dalam genggaman sampai akhir hayat nanti.

Berdikari. 


Aku ingat saat-saat itu. Aku ingat celoteh dan guyonan garingnya. Damai terajut dalam kebahagaiaan bersama. Tawa canda, senantiasa merekah di bawah payung persahabatan. Kuingat, dari dulu kami selalu bersama. Jalan bersama, belajar bersama, duduk semeja bersama, sedih senang bersama, makan bersama, sholat Dhuha bersama, tertawa bersama, nginep bersama, nggibah bersama, nggak ngerjakan PR bersama, dan visi-misinya juga sama. Walau kadang kala ada perselisihan, itu adalah lumrah.
Dia, sebut saja Rizka. Rizka adalah sahabat sejatiku semenjak kelas 1 SMP. Seseorang yang penuh pendirian, jujur, punya prinsip dan berkarakter. Tinggi badannya melebihi rata-rata orang biasa. Tinggiku saja kira-kira hanya sedagunya. Wah, aku merasa kerdil di dekatnya. Tapi tak sekalipun ia menjelek-jelekkanku walau hanya sebuah guyonan. Walaupun kadang galak, tapi galaknya adalah tipe galak bermotivasi dan berkualitas tinggi. Kegalakannya bisa membuat seseorang yang bersalah menjadi sadar dan ternasihati, ya walaupun sedikit atos dan nylekit. Suaranya lembut, namun menggelegar dalam ruang kalbu para pendengar. Memang sahabatku ini termasuk makhluk yang sangat langka. Spesiesnya jarang sekali ditemukan. Aku tidak melihat ada teman-teman yang punya hati semulia dia. Dalam hal ini bukan berarti apapun, tapi mungkin saking kagumnya diriku terhadapnya. Dia selalu berusaha optimis dalam menjalani hiruk-pikuk kehidupan, tak kenal menyerah, selalu ber-positive thinking, disiplin tinggi, tapat janji, tapi sedikit lelet dan nggak cakcek. Cala berjalannya juga aneh, menurutku. Dulu waktu pertama aku bertemu dengannya, aku mbatin, “nih anak, jalannya lemot banget. Iuhh, kayak penyu mo ngelahirin”. Yah, maklumlah waktu itu aku memang sedikit mendes, juga belum kenal dengan pribadinya. Kata teman-teman dekatku, Rizka tu orangnya jujur dan polos banget. Ya, itu emang benar. Menurutku tak hanya itu, sosoknya yang berkarisma mencerminkan pribadinya yang cantik dari dalam hatinya. Inner beautiy, bahasa gaulnya. Temenku bilang, “Rizka orangnya care, baik, menghargai teman, dan kalau aku mau ngutang, dia pasti ndak pernah berkeberatan. Padahal dulu aku sering banget ngutang ama dia. Tapi saking baiknya tuh bocah polos, mau kubayar aja, belagak lupa”. Sungguh, sosoknya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin inipun tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya.
Aku ingat beberapa bulan lalu saat dia menjadi bendahara di kelasku. Sebagai orang yang tegas dan disiplin, dia aktif sekali dalam hal tagih-menagih iuran rutin kas kelas. Tak pernah sekalipun ia menunggu teman-teman datang ke mejanya untuk mbayar kas, karena dia tau belum ada kesadaran dari diri teman-teman untuk mbayar pajak kelas. Setiap hari Jum’at adalah jatah untuk mbayar pajak kelas alias uang kas.  Saat itulah dia mulai beraksi. Nagih sana-sini, nggak kenal lelah. Dia tahu kalau jadi bendahara adalah amanah yang besar. Makanya, dia tak bosan-bosannya mengingatkan, menagih, menegur, menceramahi teman-teman yang alot ditarik uang pajak, termasuk aku.
“Willy, mbayaarr!!!”
“Besok Ka, besok.
“Ndak boleh! Pokoknya harus sekarang. Kamu dah telat berminggu-minggu. Pokok’e kudu mbayar sekarang!”
“Besok, Ka. Tenan aku ndak bohong. Aku ndak disangoni sama bapakku.”
“Alah ngapusi we. Cepet mbayar!! Nek ndak mbayar tak  bilangin Bu Esti”
Deg! Mendengar kata ‘Bu Esti’, raut mukanya langsung berubah.
“Wah, jangan, Ka. Sampeyan ki cangkeman. Yowis, sekarang aku mbayar. Nih, adanya baru seribu doang.” Kata Willy si Ketua Kelas yang terkenal gondes, ngutangan, misuhan, suka nongkrong di angkringan, mbolosan, nyontekan, ndobosan dan  suka merokok sambil mengeluarkan selembar uang lecek dari dompet kulit warna coklatnya.
Bu Esti adalah guru yang sangat Aku dan Rizka sayangi. Beliau adalah sesosok guru gemuk, bulet seperti onde-onde, tidak terlalu tinggi, killer, dan selalu mbawa kipas –semacam kipas kondangan- tiap mengajar di kelas. Beliau terkenal galak, namun wibawanya luar biasa. Kami tahu bahwa dibalik sifatnya itu terdapat hati yang sangat bijaksana dan penuh penyayang. Beliau selalu membentak-bentak kami dengan kata-kata motivasi dengan semangat yang membara, semacam dengan sifat sahabatku, Rizka. Kata-katanya slalu merasuk kalbu bagi tiap orang yang mendengarnya. Semangat hidup menjadi berkobar menyala-nyala. Motivasinya tak kalah dengan motivasi dalam novel-novel best seller karangan Andrea Hirata. Tatapan matanya setajam halilintar yang menyambar tiap manusia. Hati menjadi tergugah, jiwa raga terketuk untuk melangkah, mengubah pandangan tiap siswa yang bersalah. Kata-kata Beliau bagaikan Bung Tomo yang berhasil mengobarkan semangat arek-arek surabaya untuk berani bertempur mengusir penjajah sampai titik darah penghabisan. Sungguh, motivasi Bliau sampai sekarang masih terngiang dan menjadi salah satu motivasi dalam hidupku. Mungkin itulah sebabnya Rizka sangat menyegani dan menghormati Bu Esti sebagai wali kelas kami. Entah karena kepercayaan kepada guru kami tercinta ini, kami pernah sampai curhat-curhat kepada Beliau mengenai masalah yang ada di kelas. Tentang masalah pertemanan, masalah anak-anak yang gondes dan mendes, masalah gank, masalah uang kas, masalah piket kelas, masalah kekompakan, masalah contek-mencontek, masalah cinta, dan lain-lain.
“Bu Guru, Rafli kok orangnya atos sama saya ya? Dan dia nggak bisa ramah sama saya. Atau mungkin saya yang ndak bisa akrab dan berbaur sama dia?”
“Emm,..” (Bu Guru terlihat berfikir sejenak).  “Kamu ndak perlu merasa gimana-gimana tentang itu. Karakter tiap orang itu berbeda-beda. Ada yang berkarakter lembut, atos, dan sebagainya itu sudah menjadi pribadinya. Kamu juga harus bisa menerima perbedaan-perbedaan itu. Tidak semua yang kita pandang buruk itu memang buruk, tetapi mungkin karena kita belum terlalu mengenal pribadinya. Mungkin saja dibalik sifatnya yang terkesan ketus dan cuek, namun orangnya sangat baik. Kita ndak boleh mandang orang dari satu sudut pandang aja. Setiap orang pasti berbeda. Itu pasti. Kamu pun berbeda. Tak akan ada yang sama denganmu. Saya juga berbeda. Demikian juga Rafli, dia juga berbeda. Dengan sangat adilnya, Allah memberikan kita berbagai hal yang membedakan diri kita dengan yang lain. Dengan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Tinggal gimana caranya kamu bisa memahami perbedaan itu.”
“Lha kalau perbedaan itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan gimana Bu?” tanyaku.
“Kita tidak boleh terlalu mengharap kepada seseorang. Kita tidak boleh mengharap dia lembut pada kita, sedangkan sifat atosnya itu memang asli sudah melekat dalam dirinya. Jika kita terus saja berharap pada manusia, kita akan merasa tersakiti apabila tidak mendapatkan yang diharapkan.”
“Bingung, Bu. Contohnya gimana, Bu Guru?”
“Contohnya adalah apabila kita sedang mencintai seseorang. Kita ndak perlu bertahun-tahun menunggu sampai dia membuka pintu hatinya pada kita. Kita ndak perlu berangan-angan hidup bersamanya bila kita tahu cinta kita bertepuk sebelah tangan. Kita ndak perlu bersedih hati, meratap, menangisi, mendesah diiringi lagu cinta sambil meneteskan kepedihan air mata karena terbayang-bayang tersakiti oleh dirinya. Manusia bukan tempat untuk berharap! Janganlah terlalu berlebihan dalam berharap pada manusia. Kita hanya diperbolehkan berharap kepada Allah! Jika kita terlalu berharap kepada manusia, apabila harapan tersebut tidak tercapai, kita akan terus merasa kecewa dan tersakiti. Coba aja kau fikirkan. Kau berlarut-larut dalam kesedihan memikirkan dan membayangkan seseorang yang kau cintai sejak lama, menantinya, dan terus saja berharap agar dia bisa ‘melihat’mu. Kau tidak tahu kan, apakah dia memikirkanmu kembali atau malah cuek bebek? Apa dia juga berlarut-larut memikirkanmu, seperti kau memikirkan dia tiap waktu? Bagaimana bila tidak? Bagaimana bila harapanmu malah bertolak belakang? Itulah alasannya kenapa jangan terlalu berharap kepada seseorang.  Untuk apa kau memikirkan orang, yang orang tersebut tak pernah memikirkanmu sama sekali? Untuk apa kau meratapi dan menagisi seseorang, sedangkan orang tersebut ndak pernah menangisimu? Bagaimana bila kau tahu itu? Apa ndak sakit hati?” kata Bu Esti dengan raut muka bijaksana, laksana bidadari turun dari langit, menebar benih-benih kedamaian dan kesejukan jiwa. Rautnya teduh, tak sedikitpun terlihat kerutan tilas kegalakannya kepada teman-teman gondes-mendes di kelasku.
Aku dan Rizka fokus dan mangut-mangut tanda mengerti terhadap ceramah dari Bu Guru. Ya, jawabannya cukup memuaskan untuk curhatan kami pada siang hari saat kelas 3 SMP di ruang perpustakaan sekolah dengan suguhan AC dan TVOne. Setelah itu, kami nonton berita di TVOne bersama-sama dengan damai dan bahagia, aman sentosa.
***
Tertunduk lemas diantara pemandangan riuh  teman-teman sekelas, di sebuah SMA favorit di Ibu Kota Jakarta. Ditengah pelajaran Sosiologi yang kuanggap membosankan, aku termenung. Mendung menghiasi wajahku tanda kesedihan dan kerinduan seorang teman sejati. Teman-teman sibuk dengan tawa canda mereka, menggosip sana-sini, foto-foto dengan gaya narsis alainya.
Aku mengamati mereka satu per satu.
 Aku mengamati Zana dan gerombolannya. Yah, mereka terlalu bureng (buru rengking). Aku nggak terlalu suka dengan orang-orang yang terlalu melulu menghabiskan masa-masa remaja mereka dengan buku tiap hari, pagi, siang, dan malam. Kehidupan nggak hanya untuk dunia aja, batinku. Besok kalau kita dewasa, kita akan kerja dan bermasyarakat. Tidak hanya nilai yang bisa membawa mereka sukses, tetapi juga pintar tidaknya mereka dalam bermasyarakat. Mengenai bagaimana hubungan sosial mereka dengan yang lain. Mereka terlalu over, terlalu mengejar-ngejar ranking, sehingga pertemanan diantara mereka tidak akrab, menjadi lenggang. Dan menurutku itu buruk. Aku ndak begitu srek sama mereka.
Berikutnya, aku mengamati gerombolannya Laura, yang terdiri dari 3 cewek mendes, menurutku. Gerombolan ini terdiri dari Laura, Poppy, dan Hira. Mereka tidak mementingkan pelajaran. Terlalu malas dan tidak profesional. Kerjanya hanya maen blackbarry aja sambil cari perhatian dengan membuat ulah-ulah aneh di kelas. Jika ada tugas kelas, mereka kerap kali mengabaikannya. Tapi walau begitu, mereka lumayan pinter.  Mereka sukanya shopping kesana sini, dan lebih mementingkan popularitas. Kuintip, ada bedak, sisir, dan parfum dalam laci mereka. Mereka seakan ingin diketahui oleh dunia, bahwa mereka itu ada, dan mereka eksis. Mereka cuek dengan yang selain kalangannya, termasuk denganku. Mungkin mereka tak menganggapku ada.  Aku terheran-heran, kok bisa ya, mereka kayak gitu? Mereka memang dari kalangan orang berada. Tapi gaya dan kelakuannya, membuatku jadi ilang feeling. Raut wajahnya juga nggak bersahabat. Terlihat glamor dan terkesan ingin menonjolkan diri. Lebai.
Giliran selanjutnya, kuamati kerumunan teman-teman yang tidak terlalu burank dan tidak menonjolkan diri layaknya Laura dan kawan-kawannya. Mereka lebih suka dengan belajar bareng, jajan bareng, jala-jalan bareng, dan hidup apa adanya. Mereka suka berfoto ria, namun tidak terlalu sering. Kebanyakan dari mereka berada di peringkat tengahan, sepertiku. Keakraban  mereka begitu melekat. Tawa canda senantiasa tercurahkan dalam kesehariannya. Kekompakan terlihat saat mereka mengerjakan tugas bersama. Tidak ada yang terlihat ingin bersaing layaknya teman-temanku yang aku klaim bureng. Aku lebih suka dengan teman-teman ini. Aku pun masuk dalam kelompoknya. Namun ada beberapa hal yang tidak aku sukai dari mereka. Ya, biasanya dalam kerja kelompok, mereka lebih suka menggosip daripada belajar. Lebih suka guyon yang berlebihan. Menurutku, mereka melakukan hal-hal yang biasa-biasa saja. Kurang tegas dan penurut dalam situasi dan kondisi. Tak ada motivasi dan hal positif yang aku dapat dari mereka. Hidupku terasa datar-datar saja. Tak ada teguran, bila aku melakukan kesalahan, ataupun hal memalukan. Mungki malah ditertawakan. Tapi aku tahu, mereka hanya bercanda. Aku tahu itu.
Lama aku terdiam. Menatap tetes hujan dibalik tirai jendela. Kulihat, rintik-rintiknya begitu indah saat tersangkut di dedaunan. Teksturnya berbentuk bulatan kecil, bening, dan tampak anggun. Rintik-rintik itu seakan bercengkrama dengan teman-temannya. Damai terajut penuh kebersamaan. Rintik-rintik itu mengusik masa laluku. Mengingatkanku pada seseorang yang kini tak ada di sampingku. Sendiri. Aku memang sengaja memojokkan diri di kursi siswa paling pojok-belakang untuk berfikir dan merenung. Mengamati setiap gerak dan langkah teman-teman. Menelaah makna dibalik senandung kehidupan. Berangan-angan, sambil memutar memori masalalu. Memang sulit untuk menemukan sesosok teman sejati seperti dia. Rizka. Dia berbeda. Sulit sekali aku menemukan sesosok teman sebegitu mulia seperti dia. Parasnya yang lugu tak ada yang menyamai. Suasana hatinya yang menyejukkan dan tatapan khas matanya yang istimewa tak tertandingi. Berbeda. Dia mempunyai wawasan hidup yang sangat besar. Selalu menemaniku dengan petuah-petuah dan pembaharuan baru. Fikirannya selalu sejalan dengan apa yang aku fikirkan. Mempunyai segudang impian dan harapan, punya bekal niat dan tekat untuk mewujudkannya. Pola hidupnya sederhana, tapi pola fikirnya mendunia. Hatinya sungguh mulia, membuatku terkesima ingin mencontoh tingkah lakunya. Mengajarkanku pada hal-hal berbau positif, mengajakku membaca novel-novel bernuansa motivatif, juga menceramahi untuk tidak berperilaku konsumtif. Ku sadar, saat itu. Dialah teman sejatiku. Teman yang mengingatkanku bila aku salah, teman yang selalu menyemangatiku ketika tertimpa masalah, teman yang setia bersamaku ketika hatiku gundah, teman sebagai penyejuk saat aku berkeluh kesah, teman yang melindungiku dari salahnya langkah, teman sebagai motivasi kala semangat sedang patah, teman pemberi petuah hidup yang menggugah. Sungguh, betapa aku merindukan sosoknya. Kenapa jarang sekali ada sosok seperti dia. Bahkan di sekolah baruku ini, aku belum menemukan sahabat yang benar-benar bisa mengertiku seperti Rizka.
Andai saja saat ini aku sedang bersamanya, mungkin aku tidak akan merasa kesepian. Mungkin kami akan bertukar cerita kembali tentang para ilmuwan besar seperti dulu saat kami duduk di bangku SMP. Kami akan saling bercerita mengenai mimpi dan angan kami kelak kalau sudah dewasa. Kami bercerita tentang rendahnya kualitas SDM Indonesia yang tidak bisa memanfaatkan SDA seoptimal mungkin, sehingga kekayaan alam pindah ke tangan negara asing. Kami juga bercerita tentang sistem pemerintahan di Indonesia yang amburadul. Kami bercerita tentang Istri-istri Soekarno, Kepemimpinan Soeharto, Perjuangan BJ Habibie, Albert Einsten yang pernah membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Aku benar-benar merasakan hidup yang penuh warna saat bersamanya. Aku merasakan mimpi dan anganku begitu nyata, saat itu. Tapi itu dulu. Dulu ketika aku masih SMP, saat sedang bersamanya. Kini ternyata telah berbeda. Dia sudah tidak bersamaku lagi. Nem UAN memisahkan kami berdua. Kini dia berada di SMA 103 yang ada di Jakarta. Kami sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Kadang kerinduan hanya bisa terbalas dengan saling menelpon, tanpa langsung bertatap muka.
“Teeeeeettttttt Teeeeeetttt”
 Bel mulai berbunyi, mengagetkanku yang sedang bermesraan dengan masa laluku. Aku meringkas lamunanku. Kini kami telah berbeda. Kami menempuh jalan hidup masing-masing. Aku tidak boleh terus-menerus bergantung pada dirinya. Aku harus bisa menghargai perbedaan. Aku harus sadar, inilah duniaku. Aku yakin bahwa aku bisa merajut impianku dengan tanganku sendiri. Aku tak perlu bersedih kembali. Masa depan ada di depan mata. Tinggal gimana kita dalam menyikapinya. Aku akan bergerak. Aku akan berusaha terbang menembus pintu dunia, membuka cakrawala. Aku yakin aku bisa.

Sahabat, kaulah penyemangatku. Kau buatkan aku rumah baru dengan bekal semangat, dorongan, dan motivasimu. Kau berikan penyangga yang tegap, atap yang kokoh sebagai pendongkrak semangat dalam hidupku.  Tapi aku tahu, aku menyadari. Rumah baruku ini harus aku sendiri yang mengisi. Aku tak boleh memintamu kembali untuk memasangkan lampu sebagai penerang di rumahku. Aku harus menyalakannya sendiri. Aku harus menyinari rumahku dengan keringatku sendiri. Aku tidak boleh terus-terusan bergantung dan bersandar di bahu orang lain. BERDIKARI. Berdiri diatas kaki sendiri. Itulah sebuah pesan sarat makna dari Bung Karno. Terimakasih, kawan. Aku akan buat rumahku senyaman mungkin. Penuh dengan angan dan impianku, serta kenangan kita bersama. Akan kujaga rumah itu, demi persahabatan kita bersama. Semoga ikatan persahabatan kita senantiasa abadi sampai akhir hayat nanti.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar