Karya: Kartika Kusuma Ningrum , Hafida Diah Setyowati
Symphony cinta menderu kalbu
Melayangkan secarik lembar mengharu biru
Tak sampai anganku merajut pilu
Hanya rintihan rindu, itupun semu
Tak lagi raga jiwa menyatu
Merintih sukma parau
Pedih, memang
Hening
Jejak sunyi, kelam nan pekat
Namun janjiku, senja ini jiwaku takkan layu
Tetap kan bersemi dari senja kini hingga nanti sampai mati
Pancarkan indahnya zahra yang bermekaran dengan keayuan pesona kelembutan
Yang mampu membinasakan segala lara yang ada
Dan membawa nafas mengangkasa
Tiada lagi kudengar sambaran lara
Kugenggam janji jiwa, aku bisa!
puisi ini berawal dari coment2an status facebook yang dijadikan satu, membentuk sebuah puisi. Puisi ini berasal dari goresan pena saya dan dek Kartika Kusuma Ningrum, melaui Facebook secara tidak disengaja...
Rabu, 19 Desember 2012
Cetar Membahana..
Pagi
ini aku berangkat sekolah. Sebenarnya boleh berangkat ataupun nggak berangkat,
soalnya kan sudah selesai ujian semesteran, jadi sekolah memberikan kebebasan
untuk siswa. Beberapa yang berangkat sekolah itu karena untuk remidi atau
ulangan susulan pada mapel yang nilainya masih dirasa kurang. Ada juga yang
berangkat karena ngurus-ngurus event seperti Donor Darah TJRC, Diklat THA,
Futsal dalam rangka Lustrum Teladan dan lain-lain.
Hari
ini aku berangkat sekolah karena beberapa hal, antara lain untuk remidi ekonomi
yang bab perpajakan dan kebijakan Fiskal, latihan nasyid, mendampingi tamu
sekolah dari SMP swasta di kalimantan, pertemuan para danus, serta menuntaskan tugas bahasa Arab yang
suruh mencari na’at dan man’ut dalam Al-Qur’an.
Sekitar
jam 8 aku tiba di sekolah. Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan. Buka-buka
buku, belajar ekonomi. Aku berharap semoga nilaiku ekonomi bisa tuntas, makanya
aku mruput ke perpus buat belajar. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Nasthithi
(temanku, sekretaris 1 OSIS BTB) nongol di depan meja perpus tempat aku
belajar. Aku nanya:
“Ti,
ntar kamu ikut presentasi buat tamu yang dari kalimantan kan?”
“Wah
aku nggak bisa e Fid. Ada rapat sigma.” Seraya menyerahkan flashdisk berisi
materi presentasi osis kepadaku.
Lhah…
Aku mendadak jadi sedikit takut (semacam nggak siap gitu). Akrima dan Mala nggak
ikut soalnya mau ke Smada buat forum FKPO. Sedangkan Marvi ada rapat pramuka,
dan Ridwan tiba-tiba bannya bocor. Aduh..
Aku
menyudahi belajarku, dan segera ke masjid. Ada Akrima rupanya. Mbak Aje, Mbak
Tiwi, Mbak Victa, Gadis, Dini, Nimas dan Afifah juga ada. Biasa.., mereka
bermain-main dengan laptop. Mungkin ada film yang bagus.
Fikiranku
kacau. Memang aku ini orang yang termasuk jika ada masalah kecil dibuat
seakan-akan rumit. Aku bingung mau ngapain. Ketemu Akrima buat mengadu
kebingunganku, aku rasa sia-sia.
Aku
hijrah ke lobi, tepatnya ke ruang guru, menemui Bu Umi untuk remidi Ekonomi.
Wahh.. ternyata ditolak, guys. Beliau berkata bahwa tidak mau jika yang remidi
hanya satu atau dua anak saja. Harusnya langsung massal. So, yasudah nggak jadi
remidinya. Aku sedikit lega sih, tapi kecewa juga. Soalnya udah belajar..
Nelies aku sms bahwa remed dipending. Nelies nggak jadi ke sekolah.
Aku
kembali ke masjid. Ku lihat, teman-teman belum pindah posisi. Masih beradu
pandang dengan salah satu laptop mereka. Hmm.. dari tirai masjid akhwat, aku
mengintip ke arah aula. Nampak ramai sekali. Ternyata siswa-siswi kelas sepuluh
sedang ada acara penyuluhan mengenai Korupsi. Wahh… ada makanannya. Hmm..
isinya roti, pula. Enaknyaa…
Aku
mendengar salah dua dari mereka menyanyi lagu “sempurna”. Sepertinya aku tau
siapa yang menyanyikannya. Anak MPK, tapi aku lupa namanya. Suaranya bagus.
Bagus banget. Vibra dan cengkok-cengkoknya pas dan sesuai irama. Sebagian yang
akhwat (perempuan) ikut menyanyikan dengan melambai-lambaikan tangan keatas
dengan riang gembira, hingga gemuruh suara –ramainya- terdengar hingga masjid
bagian atas. Sedangkan yang ikhwan (laki-laki) kuintip hanya diam –berasa pah
poh- sambil menikmati konsum yang disediakan dengan raut ekspresi yang flat.
Sungguh datar, padahal yang nyanyi tuh akhwat, gek suaranya bagus. Aku ampek
bingung, apa yaa, yang ada di fikiran mereka.
____
Tamu
dari SMP Swasta di Kalimantan sudah tiba. Aku dan Dini menyegerakan diri untuk
ke ruang multimedia. Tampaklah ada 52 atau 54 murid SMP kelas sembilan beserta
4 orang guru pendamping. Mereka datang jauh-jauh dari Kalimantan untuk menambah
wawasan mengenai sekolah yang ada di Yogyakarta. Dan mereka memilih SMAN 1
Yogyakarta sebagai tujuan utamanya.
Setelah
pihak tamu yang memberi sambutan, dilanjutkan dengan pihak sekolah. Ada Mr.
Marmayadi, Bpk Basuki juga. Beliau menyampaikan berbagai hal mengenai SMAN 1
Yogyakarta. Beliau juga bercerita tentang awal dari program RSBI berlangsung,
dan mengenai ujian Cambridge yang dilaksanakan di Teladan tiap tahunnya.
Setelah
itu, giliran PH dan MPK yang presentasi. Awalnya Mr.Marmayadi memperkenalkan
sebagian PH dan MPK. Dari MPK, yang maju adalah tiga orang ikhwan (laki-laki)
kelas sepuluh. Yaitu dek Bismo dkk. Sedangkan yang dari PH ada saya dan dek
Hani. Sebenarnya dek Azizap juga, tapi dek Azizap sedang keluar sebentar, saat
itu. Setelah perkenalan, tiba-tiba dek Azizap masuk. Karena dek Aziz yang belum
perkenalan sendiri, maka dek Aziz disuruh perkenalan sekalian yang mewakili
presentasi osis.
Dek
Aziz Azka Putra atau yang biasa disapa dengan Azizap adalah seorang yang sangat
PD, menurutku. Kharisma dan wibawanya saat presentasi terlihat sekali.
Pemikiran-pemikirannya luas dan terlihat menguasai materi saat presentasi.
Berbeda denganku yang –kadang- merasa bahwa aku seharusnya tidak berada bersama
mereka. Menurutku, mereka (PH dan MPK) anggota-anggotanya adalah orang-orang
yang super sekali. Kecuali aku. Mungkin pula, aku bisa menjadi bagian dari
mereka itu karena bejo, keberuntungan dari Allah. Sedangkan menurutku sendiri
aku belum pantas karena aku belum melihat potensi apa yang ada pada diriku.
___
Selanjutnya,
sekitar jam setengah dua belas. Ada pertemuan para danus. Aku dan Dini bersegera
dari ruang multimedia menuju ruang 105 untuk menghadiri acara tsb.
Hujan
yang lirih mendampingi langkah kami. Setiba di ruang 105, tepatnya di lantai
bawah gedung induk dekat dengan uks, sudah ada banyak orang. Tentu kami telat.
Pemberitahuannya, mulai jam 10. Ada dek Mail dan Utari yang berada di depan
kelas.
Dek
Mail juga anggota dari OSIS, menjabat sebagai SekBid 6 yang membawahi Danus,
Kosuha, Obscura, dll. Sedangkan Utari sebagai koordinator sie danus.
Penjelasan
demi penjelasan tersampaikan dengan jelas dan lugas oleh Utari. Memang temanku
yang satu ini bagus dalam public speakingnya. Beliau kritis, profesional dalam
bekerja.
Sedangkan
saya? entah mengapa sering kali saya merasa sebagai orang yang lemot dalam
berfikir. Saya merasa bahwa teman-teman memiliki kemampuan, skill atau potensi
yang jauh lebih baik daripada saya. Entah mengapa saya sering merasa bahwa daya
tangkap atau daya dong saya sangat sangat sangat lemah, sehingga sering ketika
teman-teman sudah faham terhadap suatu hal, saya hanya mangut-mangut seolah
mengerti (padahal sebenarnya sering ‘nggak conect’).
Saya
sangat berharap bahwa suatu saat nanti saya bisa seperti mereka.. Bismillah,
tetap berusaha…..
Gerimis, pulang ke rumah tanpa mantol... :)
Syahrini berkata: "Cetar Membahana..." LOL
Berdikari
Bismillahirrohmanirrohim. Cerpen ini aku persembahkan teruntuk sahabatku tercinta (SK), yang Allah pertemukan kami pada bangku SLTP, tepatnya di SMPN 6 Yogyakarta. Walaupun kini berbeda sekolah, semoga ukhwah tetap dalam genggaman sampai akhir hayat nanti.
Berdikari.
Aku
ingat saat-saat itu. Aku ingat celoteh dan guyonan garingnya. Damai terajut
dalam kebahagaiaan bersama. Tawa canda, senantiasa merekah di bawah payung
persahabatan. Kuingat, dari dulu kami selalu bersama. Jalan bersama, belajar
bersama, duduk semeja bersama, sedih senang bersama, makan bersama, sholat
Dhuha bersama, tertawa bersama, nginep bersama, nggibah bersama, nggak
ngerjakan PR bersama, dan visi-misinya juga sama. Walau kadang kala ada
perselisihan, itu adalah lumrah.
Dia,
sebut saja Rizka. Rizka adalah sahabat sejatiku semenjak kelas 1 SMP. Seseorang
yang penuh pendirian, jujur, punya prinsip dan berkarakter. Tinggi badannya
melebihi rata-rata orang biasa. Tinggiku saja kira-kira hanya sedagunya. Wah,
aku merasa kerdil di dekatnya. Tapi tak sekalipun ia menjelek-jelekkanku walau
hanya sebuah guyonan. Walaupun kadang galak, tapi galaknya adalah tipe galak
bermotivasi dan berkualitas tinggi. Kegalakannya bisa membuat seseorang yang
bersalah menjadi sadar dan ternasihati, ya walaupun sedikit atos dan nylekit.
Suaranya lembut, namun menggelegar dalam ruang kalbu para pendengar. Memang
sahabatku ini termasuk makhluk yang sangat langka. Spesiesnya jarang sekali
ditemukan. Aku tidak melihat ada teman-teman yang punya hati semulia dia. Dalam
hal ini bukan berarti apapun, tapi mungkin saking kagumnya diriku terhadapnya.
Dia selalu berusaha optimis dalam menjalani hiruk-pikuk kehidupan, tak kenal
menyerah, selalu ber-positive thinking,
disiplin tinggi, tapat janji, tapi sedikit lelet dan nggak cakcek. Cala
berjalannya juga aneh, menurutku. Dulu waktu pertama aku bertemu dengannya, aku
mbatin, “nih anak, jalannya lemot banget. Iuhh, kayak penyu mo ngelahirin”.
Yah, maklumlah waktu itu aku memang sedikit mendes, juga belum kenal dengan
pribadinya. Kata teman-teman dekatku, Rizka tu orangnya jujur dan polos banget.
Ya, itu emang benar. Menurutku tak hanya itu, sosoknya yang berkarisma
mencerminkan pribadinya yang cantik dari dalam hatinya. Inner beautiy, bahasa gaulnya.
Temenku bilang, “Rizka orangnya care, baik, menghargai teman, dan kalau aku mau
ngutang, dia pasti ndak pernah berkeberatan. Padahal dulu aku sering banget
ngutang ama dia. Tapi saking baiknya tuh bocah polos, mau kubayar aja, belagak
lupa”. Sungguh, sosoknya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin inipun
tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya.
Aku
ingat beberapa bulan lalu saat dia menjadi bendahara di kelasku. Sebagai orang
yang tegas dan disiplin, dia aktif sekali dalam hal tagih-menagih iuran rutin
kas kelas. Tak pernah sekalipun ia menunggu teman-teman datang ke mejanya untuk
mbayar kas, karena dia tau belum ada kesadaran dari diri teman-teman untuk
mbayar pajak kelas. Setiap hari Jum’at adalah jatah untuk mbayar pajak kelas
alias uang kas. Saat itulah dia mulai
beraksi. Nagih sana-sini, nggak kenal lelah. Dia tahu kalau jadi bendahara
adalah amanah yang besar. Makanya, dia tak bosan-bosannya mengingatkan,
menagih, menegur, menceramahi teman-teman yang alot ditarik uang pajak,
termasuk aku.
“Willy,
mbayaarr!!!”
“Besok
Ka, besok.
“Ndak
boleh! Pokoknya harus sekarang. Kamu dah telat berminggu-minggu. Pokok’e kudu
mbayar sekarang!”
“Besok,
Ka. Tenan aku ndak bohong. Aku ndak disangoni sama bapakku.”
“Alah
ngapusi we. Cepet mbayar!! Nek ndak mbayar tak bilangin Bu Esti”
Deg!
Mendengar kata ‘Bu Esti’, raut mukanya langsung berubah.
“Wah,
jangan, Ka. Sampeyan ki cangkeman. Yowis, sekarang aku mbayar. Nih, adanya baru
seribu doang.” Kata Willy si Ketua Kelas yang terkenal gondes, ngutangan,
misuhan, suka nongkrong di angkringan, mbolosan, nyontekan, ndobosan dan suka merokok sambil mengeluarkan selembar uang
lecek dari dompet kulit warna coklatnya.
Bu
Esti adalah guru yang sangat Aku dan Rizka sayangi. Beliau adalah sesosok guru
gemuk, bulet seperti onde-onde, tidak terlalu tinggi, killer, dan selalu mbawa
kipas –semacam kipas kondangan- tiap mengajar di kelas. Beliau terkenal galak,
namun wibawanya luar biasa. Kami tahu bahwa dibalik sifatnya itu terdapat hati
yang sangat bijaksana dan penuh penyayang. Beliau selalu membentak-bentak kami
dengan kata-kata motivasi dengan semangat yang membara, semacam dengan sifat
sahabatku, Rizka. Kata-katanya slalu merasuk kalbu bagi tiap orang yang
mendengarnya. Semangat hidup menjadi berkobar menyala-nyala. Motivasinya tak
kalah dengan motivasi dalam novel-novel best
seller karangan Andrea Hirata. Tatapan matanya setajam halilintar yang
menyambar tiap manusia. Hati menjadi tergugah, jiwa raga terketuk untuk
melangkah, mengubah pandangan tiap siswa yang bersalah. Kata-kata Beliau
bagaikan Bung Tomo yang berhasil mengobarkan semangat arek-arek surabaya untuk
berani bertempur mengusir penjajah sampai titik darah penghabisan. Sungguh, motivasi
Bliau sampai sekarang masih terngiang dan menjadi salah satu motivasi dalam
hidupku. Mungkin itulah sebabnya Rizka sangat menyegani dan menghormati Bu Esti
sebagai wali kelas kami. Entah karena kepercayaan kepada guru kami tercinta
ini, kami pernah sampai curhat-curhat kepada Beliau mengenai masalah yang ada
di kelas. Tentang masalah pertemanan, masalah anak-anak yang gondes dan mendes,
masalah gank, masalah uang kas, masalah piket kelas, masalah kekompakan,
masalah contek-mencontek, masalah cinta, dan lain-lain.
“Bu
Guru, Rafli kok orangnya atos sama saya ya? Dan dia nggak bisa ramah sama saya.
Atau mungkin saya yang ndak bisa akrab dan berbaur sama dia?”
“Emm,..”
(Bu Guru terlihat berfikir sejenak). “Kamu
ndak perlu merasa gimana-gimana tentang itu. Karakter tiap orang itu
berbeda-beda. Ada yang berkarakter lembut, atos, dan sebagainya itu sudah
menjadi pribadinya. Kamu juga harus bisa menerima perbedaan-perbedaan itu.
Tidak semua yang kita pandang buruk itu memang buruk, tetapi mungkin karena
kita belum terlalu mengenal pribadinya. Mungkin saja dibalik sifatnya yang
terkesan ketus dan cuek, namun orangnya sangat baik. Kita ndak boleh mandang
orang dari satu sudut pandang aja. Setiap orang pasti berbeda. Itu pasti. Kamu
pun berbeda. Tak akan ada yang sama denganmu. Saya juga berbeda. Demikian juga Rafli,
dia juga berbeda. Dengan sangat adilnya, Allah memberikan kita berbagai hal
yang membedakan diri kita dengan yang lain. Dengan kelebihan dan kekurangan
yang kita miliki. Tinggal gimana caranya kamu bisa memahami perbedaan itu.”
“Lha
kalau perbedaan itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan gimana Bu?” tanyaku.
“Kita
tidak boleh terlalu mengharap kepada seseorang. Kita tidak boleh mengharap dia
lembut pada kita, sedangkan sifat atosnya itu memang asli sudah melekat dalam
dirinya. Jika kita terus saja berharap pada manusia, kita akan merasa tersakiti
apabila tidak mendapatkan yang diharapkan.”
“Bingung,
Bu. Contohnya gimana, Bu Guru?”
“Contohnya
adalah apabila kita sedang mencintai seseorang. Kita ndak perlu bertahun-tahun
menunggu sampai dia membuka pintu hatinya pada kita. Kita ndak perlu
berangan-angan hidup bersamanya bila kita tahu cinta kita bertepuk sebelah
tangan. Kita ndak perlu bersedih hati, meratap, menangisi, mendesah diiringi
lagu cinta sambil meneteskan kepedihan air mata karena terbayang-bayang
tersakiti oleh dirinya. Manusia bukan tempat untuk berharap! Janganlah terlalu
berlebihan dalam berharap pada manusia. Kita hanya diperbolehkan berharap
kepada Allah! Jika kita terlalu berharap kepada manusia, apabila harapan
tersebut tidak tercapai, kita akan terus merasa kecewa dan tersakiti. Coba aja
kau fikirkan. Kau berlarut-larut dalam kesedihan memikirkan dan membayangkan
seseorang yang kau cintai sejak lama, menantinya, dan terus saja berharap agar
dia bisa ‘melihat’mu. Kau tidak tahu kan, apakah dia memikirkanmu kembali atau
malah cuek bebek? Apa dia juga berlarut-larut memikirkanmu, seperti kau
memikirkan dia tiap waktu? Bagaimana bila tidak? Bagaimana bila harapanmu malah
bertolak belakang? Itulah alasannya kenapa jangan terlalu berharap kepada
seseorang. Untuk apa kau memikirkan
orang, yang orang tersebut tak pernah memikirkanmu sama sekali? Untuk apa kau
meratapi dan menagisi seseorang, sedangkan orang tersebut ndak pernah
menangisimu? Bagaimana bila kau tahu itu? Apa ndak sakit hati?” kata Bu Esti
dengan raut muka bijaksana, laksana bidadari turun dari langit, menebar
benih-benih kedamaian dan kesejukan jiwa. Rautnya teduh, tak sedikitpun
terlihat kerutan tilas kegalakannya kepada teman-teman gondes-mendes di
kelasku.
Aku
dan Rizka fokus dan mangut-mangut tanda mengerti terhadap ceramah dari Bu Guru.
Ya, jawabannya cukup memuaskan untuk curhatan kami pada siang hari saat kelas 3
SMP di ruang perpustakaan sekolah dengan suguhan AC dan TVOne. Setelah itu,
kami nonton berita di TVOne bersama-sama dengan damai dan bahagia, aman
sentosa.
***
Tertunduk
lemas diantara pemandangan riuh teman-teman sekelas, di sebuah SMA favorit di
Ibu Kota Jakarta. Ditengah pelajaran Sosiologi yang kuanggap membosankan, aku
termenung. Mendung menghiasi wajahku tanda kesedihan dan kerinduan seorang
teman sejati. Teman-teman sibuk dengan tawa canda mereka, menggosip sana-sini,
foto-foto dengan gaya narsis alainya.
Aku
mengamati mereka satu per satu.
Aku mengamati Zana dan gerombolannya. Yah,
mereka terlalu bureng (buru rengking). Aku nggak terlalu suka dengan
orang-orang yang terlalu melulu menghabiskan masa-masa remaja mereka dengan buku
tiap hari, pagi, siang, dan malam. Kehidupan nggak hanya untuk dunia aja,
batinku. Besok kalau kita dewasa, kita akan kerja dan bermasyarakat. Tidak
hanya nilai yang bisa membawa mereka sukses, tetapi juga pintar tidaknya mereka
dalam bermasyarakat. Mengenai bagaimana hubungan sosial mereka dengan yang
lain. Mereka terlalu over, terlalu mengejar-ngejar ranking, sehingga pertemanan
diantara mereka tidak akrab, menjadi lenggang. Dan menurutku itu buruk. Aku
ndak begitu srek sama mereka.
Berikutnya,
aku mengamati gerombolannya Laura, yang terdiri dari 3 cewek mendes, menurutku.
Gerombolan ini terdiri dari Laura, Poppy, dan Hira. Mereka tidak mementingkan
pelajaran. Terlalu malas dan tidak profesional. Kerjanya hanya maen blackbarry
aja sambil cari perhatian dengan membuat ulah-ulah aneh di kelas. Jika ada
tugas kelas, mereka kerap kali mengabaikannya. Tapi walau begitu, mereka
lumayan pinter. Mereka sukanya shopping
kesana sini, dan lebih mementingkan popularitas. Kuintip, ada bedak, sisir, dan
parfum dalam laci mereka. Mereka seakan ingin diketahui oleh dunia, bahwa
mereka itu ada, dan mereka eksis. Mereka cuek dengan yang selain kalangannya,
termasuk denganku. Mungkin mereka tak menganggapku ada. Aku terheran-heran, kok bisa ya, mereka kayak
gitu? Mereka memang dari kalangan orang berada. Tapi gaya dan kelakuannya,
membuatku jadi ilang feeling. Raut wajahnya juga nggak bersahabat. Terlihat
glamor dan terkesan ingin menonjolkan diri. Lebai.
Giliran
selanjutnya, kuamati kerumunan teman-teman yang tidak terlalu burank dan tidak
menonjolkan diri layaknya Laura dan kawan-kawannya. Mereka lebih suka dengan
belajar bareng, jajan bareng, jala-jalan bareng, dan hidup apa adanya. Mereka
suka berfoto ria, namun tidak terlalu sering. Kebanyakan dari mereka berada di
peringkat tengahan, sepertiku. Keakraban mereka begitu melekat. Tawa canda senantiasa
tercurahkan dalam kesehariannya. Kekompakan terlihat saat mereka mengerjakan
tugas bersama. Tidak ada yang terlihat ingin bersaing layaknya teman-temanku
yang aku klaim bureng. Aku lebih suka dengan teman-teman ini. Aku pun masuk
dalam kelompoknya. Namun ada beberapa hal yang tidak aku sukai dari mereka. Ya,
biasanya dalam kerja kelompok, mereka lebih suka menggosip daripada belajar.
Lebih suka guyon yang berlebihan. Menurutku, mereka melakukan hal-hal yang
biasa-biasa saja. Kurang tegas dan penurut dalam situasi dan kondisi. Tak ada
motivasi dan hal positif yang aku dapat dari mereka. Hidupku terasa datar-datar
saja. Tak ada teguran, bila aku melakukan kesalahan, ataupun hal memalukan.
Mungki malah ditertawakan. Tapi aku tahu, mereka hanya bercanda. Aku tahu itu.
Lama
aku terdiam. Menatap tetes hujan dibalik tirai jendela. Kulihat,
rintik-rintiknya begitu indah saat tersangkut di dedaunan. Teksturnya berbentuk
bulatan kecil, bening, dan tampak anggun. Rintik-rintik itu seakan bercengkrama
dengan teman-temannya. Damai terajut penuh kebersamaan. Rintik-rintik itu
mengusik masa laluku. Mengingatkanku pada seseorang yang kini tak ada di
sampingku. Sendiri. Aku memang sengaja memojokkan diri di kursi siswa paling
pojok-belakang untuk berfikir dan merenung. Mengamati setiap gerak dan langkah
teman-teman. Menelaah makna dibalik senandung kehidupan. Berangan-angan, sambil
memutar memori masalalu. Memang sulit untuk menemukan sesosok teman sejati
seperti dia. Rizka. Dia berbeda. Sulit sekali aku menemukan sesosok teman
sebegitu mulia seperti dia. Parasnya yang lugu tak ada yang menyamai. Suasana
hatinya yang menyejukkan dan tatapan khas matanya yang istimewa tak tertandingi.
Berbeda. Dia mempunyai wawasan hidup yang sangat besar. Selalu menemaniku
dengan petuah-petuah dan pembaharuan baru. Fikirannya selalu sejalan dengan apa
yang aku fikirkan. Mempunyai segudang impian dan harapan, punya bekal niat dan
tekat untuk mewujudkannya. Pola hidupnya sederhana, tapi pola fikirnya
mendunia. Hatinya sungguh mulia, membuatku terkesima ingin mencontoh tingkah
lakunya. Mengajarkanku pada hal-hal berbau positif, mengajakku membaca
novel-novel bernuansa motivatif, juga menceramahi untuk tidak berperilaku
konsumtif. Ku sadar, saat itu. Dialah teman sejatiku. Teman
yang mengingatkanku bila aku salah, teman yang selalu menyemangatiku ketika
tertimpa masalah, teman yang setia bersamaku ketika hatiku gundah, teman
sebagai penyejuk saat aku berkeluh kesah, teman yang melindungiku dari salahnya
langkah, teman sebagai motivasi kala semangat sedang patah, teman pemberi
petuah hidup yang menggugah. Sungguh, betapa aku merindukan sosoknya. Kenapa
jarang sekali ada sosok seperti dia. Bahkan di sekolah baruku ini, aku belum
menemukan sahabat yang benar-benar bisa mengertiku seperti Rizka.
Andai
saja saat ini aku sedang bersamanya, mungkin aku tidak akan merasa kesepian.
Mungkin kami akan bertukar cerita kembali tentang para ilmuwan besar seperti
dulu saat kami duduk di bangku SMP. Kami akan saling bercerita mengenai mimpi
dan angan kami kelak kalau sudah dewasa. Kami bercerita tentang rendahnya
kualitas SDM Indonesia yang tidak bisa memanfaatkan SDA seoptimal mungkin,
sehingga kekayaan alam pindah ke tangan negara asing. Kami juga bercerita tentang
sistem pemerintahan di Indonesia yang amburadul. Kami bercerita tentang
Istri-istri Soekarno, Kepemimpinan Soeharto, Perjuangan BJ Habibie, Albert
Einsten yang pernah membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Aku benar-benar merasakan
hidup yang penuh warna saat bersamanya. Aku merasakan mimpi dan anganku begitu
nyata, saat itu. Tapi itu dulu. Dulu ketika aku masih SMP, saat sedang
bersamanya. Kini ternyata telah berbeda. Dia sudah tidak bersamaku lagi. Nem
UAN memisahkan kami berdua. Kini dia berada di SMA 103 yang ada di Jakarta.
Kami sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Kadang kerinduan
hanya bisa terbalas dengan saling menelpon, tanpa langsung bertatap muka.
“Teeeeeettttttt
Teeeeeetttt”
Bel mulai berbunyi, mengagetkanku yang sedang bermesraan
dengan masa laluku. Aku meringkas lamunanku. Kini kami telah berbeda. Kami
menempuh jalan hidup masing-masing. Aku tidak boleh terus-menerus bergantung
pada dirinya. Aku harus bisa menghargai perbedaan. Aku harus sadar, inilah
duniaku. Aku yakin bahwa aku bisa merajut impianku dengan tanganku sendiri. Aku
tak perlu bersedih kembali. Masa depan ada di depan mata. Tinggal gimana kita
dalam menyikapinya. Aku akan bergerak. Aku akan berusaha terbang menembus pintu
dunia, membuka cakrawala. Aku yakin aku bisa.
Sahabat, kaulah penyemangatku. Kau
buatkan aku rumah baru dengan bekal semangat, dorongan, dan motivasimu. Kau
berikan penyangga yang tegap, atap yang kokoh sebagai pendongkrak semangat
dalam hidupku. Tapi aku tahu, aku
menyadari. Rumah baruku ini harus aku sendiri yang mengisi. Aku tak boleh
memintamu kembali untuk memasangkan lampu sebagai penerang di rumahku. Aku
harus menyalakannya sendiri. Aku harus menyinari rumahku dengan keringatku
sendiri. Aku tidak boleh terus-terusan bergantung dan bersandar di bahu orang
lain. BERDIKARI. Berdiri diatas kaki sendiri. Itulah sebuah pesan sarat makna
dari Bung Karno. Terimakasih, kawan. Aku akan buat rumahku senyaman mungkin.
Penuh dengan angan dan impianku, serta kenangan kita bersama. Akan kujaga rumah
itu, demi persahabatan kita bersama. Semoga ikatan persahabatan kita senantiasa
abadi sampai akhir hayat nanti.
***
Senin, 17 Desember 2012
lustrum Tld, hampir lupaa -____-
Dear WhiteSun,
Kemarin hari minggu pagi, aku merencanakan untuk jalan-jalan ke sunmor (sunday morning) di UGM. Setelah aku merencanakan acara tersebut dengan matang-matang dan dengan hati penuh nuansa kegirangan, ternyataaa............
Drrrtt... Drrrtttt... -apaan tuh?- ternyata hpku bergetar. Oh tidaaaaaakkkk.... Sms menyapa..
Kubaca, oh dari Netta temenku IPA8.
"Fid, kamu dimana?''
aku mbales smsnya: "dirumah, Nett. Emang ada apa?"
Kurang dari semenit, sms dari Netta nongol lagi. "kamu nggak ke UMY fid"
(aku lupa mbales apa) tapi kayaknya aku mbales gini: " nggak. loh emang ada apaa?"
ternyata oh ternyata...
ADA LUSTRUM TELADAN 55!!! aku sih nggak kaget. biasa aja hahaaa...
beberapa detik kemudian ada sms dari seorang penceramah, jubirnya ipa8. Namanya Ulfah.
Drrrttt... drrtttt... hapeku getar lagi...
Keluarlah aungan dari sang penakluk jiwa yang hampa, seorang putri dari istana ipa8 yang terkenal dengan julukan "kelas Cambridge", menggugah nuraniku untuk segera mandi dan langsung tergugah untuk pergi ke UMY, menyemarakkan LUSTRUM TELADAN 55..
"Fid, kamu tuh IKAP. harusnya kamu ngajarin adek-adekmu buat cinta Teladan dong. bla bla bla blaaa...... "
Smsnya panjang lebar.(aku lupa terusannya. udah dihapus smsnya -,- )
Jleb Jleb Jleb.
Kalau udah menyangkut-pautkan IKAP, aku dah nggak bisa berkutik lagi. Ya jelas malulah, kalau ntar adek ikap ada yang tahu..Aku nggak mau jadi mbak ikap yang buruk, yang nggak bisa dijadiin contoh buat adek-adekknya.
Serentak. Aku mandi. Ganti baju seragam, serapih mungkin. Semangat kembali membara! Semangat, kubisikkan pada diriku sendiri. Hmm.... untung ada ulfah dan temen2 ipa8 yang mengingatkanku.
Tapi oh Tapiii, sebenarnya aku nggak mau ikut ke UMY buat upacara pembukaan itu karena jas almamaterku hilang.
Sebelumnya waktu malem sebelum hari H, aku ketemu Fira (sahabatku -mungkin- gejenya semacamku) di masjid Syuhada'. Teyus kami pun sepakat buat nggak ikut LUSTRUM karena nggak punya jas alma :( so, ya gituu....
Kami (aku sama fira) tiba di UMY sekitar jam 9.30an. Ahhhhhh...... Ketika pertama masuk gerbang sportorium UMY, aku melihat banyak anak teladan yang menggunakan pakaian panitia, sebagian yang lain menggunakan seragam.
Aku melihat anak-anak kelas 1 lagi berprofesi jadi tukang parkir...
Saat mau memparkirkan motor, aku lihat Marvi (ketua osis di sekolahku). Marvi langsung ngomong (agak keras -,- ):
"Wooohh... Lagi berangkat to Fid....."
ahhh.... syid.... aku iniii semacam orang yang tidak ada rasa cinta sama SMA N 1. Padahal kawann, bukan itu niatanku.. hikss T.T
mukaku waktu ituuu... berasa pengen tak balang sepatuuu.. terbesit, "nggak malu o?..''
yaudah lah,, buat lucu-lucuan ajaaa....
Di UMY, tiap sinom mendirikan stand masing2 buat cari dana event mereka. Contohnya, anak TJRC jualan Pop ice, ank sigma jualan gantungan kunci stiker makanan dll, anak TSC jualan minum jugaa sambil (tersirat) promosi exacta gituu.. anak Np juga pada jualann....
hmm... aku sama Fira jalan-jalan mulu kayak orang ilang. Luntang lantung nggak tau tujuan.
Dan akhirnya.. duduk di suatu pohon yang rindang -semacam shidarta yang duduk di bawah pohon bodhisatwa-. Melihat tonti dari sekolah2 lain...
Hmm... it's fun :D
Kemarin hari minggu pagi, aku merencanakan untuk jalan-jalan ke sunmor (sunday morning) di UGM. Setelah aku merencanakan acara tersebut dengan matang-matang dan dengan hati penuh nuansa kegirangan, ternyataaa............
Drrrtt... Drrrtttt... -apaan tuh?- ternyata hpku bergetar. Oh tidaaaaaakkkk.... Sms menyapa..
Kubaca, oh dari Netta temenku IPA8.
"Fid, kamu dimana?''
aku mbales smsnya: "dirumah, Nett. Emang ada apa?"
Kurang dari semenit, sms dari Netta nongol lagi. "kamu nggak ke UMY fid"
(aku lupa mbales apa) tapi kayaknya aku mbales gini: " nggak. loh emang ada apaa?"
ternyata oh ternyata...
ADA LUSTRUM TELADAN 55!!! aku sih nggak kaget. biasa aja hahaaa...
beberapa detik kemudian ada sms dari seorang penceramah, jubirnya ipa8. Namanya Ulfah.
Drrrttt... drrtttt... hapeku getar lagi...
Keluarlah aungan dari sang penakluk jiwa yang hampa, seorang putri dari istana ipa8 yang terkenal dengan julukan "kelas Cambridge", menggugah nuraniku untuk segera mandi dan langsung tergugah untuk pergi ke UMY, menyemarakkan LUSTRUM TELADAN 55..
"Fid, kamu tuh IKAP. harusnya kamu ngajarin adek-adekmu buat cinta Teladan dong. bla bla bla blaaa...... "
Smsnya panjang lebar.(aku lupa terusannya. udah dihapus smsnya -,- )
Jleb Jleb Jleb.
Kalau udah menyangkut-pautkan IKAP, aku dah nggak bisa berkutik lagi. Ya jelas malulah, kalau ntar adek ikap ada yang tahu..Aku nggak mau jadi mbak ikap yang buruk, yang nggak bisa dijadiin contoh buat adek-adekknya.
Serentak. Aku mandi. Ganti baju seragam, serapih mungkin. Semangat kembali membara! Semangat, kubisikkan pada diriku sendiri. Hmm.... untung ada ulfah dan temen2 ipa8 yang mengingatkanku.
Tapi oh Tapiii, sebenarnya aku nggak mau ikut ke UMY buat upacara pembukaan itu karena jas almamaterku hilang.
Sebelumnya waktu malem sebelum hari H, aku ketemu Fira (sahabatku -mungkin- gejenya semacamku) di masjid Syuhada'. Teyus kami pun sepakat buat nggak ikut LUSTRUM karena nggak punya jas alma :( so, ya gituu....
Kami (aku sama fira) tiba di UMY sekitar jam 9.30an. Ahhhhhh...... Ketika pertama masuk gerbang sportorium UMY, aku melihat banyak anak teladan yang menggunakan pakaian panitia, sebagian yang lain menggunakan seragam.
Aku melihat anak-anak kelas 1 lagi berprofesi jadi tukang parkir...
Saat mau memparkirkan motor, aku lihat Marvi (ketua osis di sekolahku). Marvi langsung ngomong (agak keras -,- ):
"Wooohh... Lagi berangkat to Fid....."
ahhh.... syid.... aku iniii semacam orang yang tidak ada rasa cinta sama SMA N 1. Padahal kawann, bukan itu niatanku.. hikss T.T
mukaku waktu ituuu... berasa pengen tak balang sepatuuu.. terbesit, "nggak malu o?..''
yaudah lah,, buat lucu-lucuan ajaaa....
Di UMY, tiap sinom mendirikan stand masing2 buat cari dana event mereka. Contohnya, anak TJRC jualan Pop ice, ank sigma jualan gantungan kunci stiker makanan dll, anak TSC jualan minum jugaa sambil (tersirat) promosi exacta gituu.. anak Np juga pada jualann....
hmm... aku sama Fira jalan-jalan mulu kayak orang ilang. Luntang lantung nggak tau tujuan.
Dan akhirnya.. duduk di suatu pohon yang rindang -semacam shidarta yang duduk di bawah pohon bodhisatwa-. Melihat tonti dari sekolah2 lain...
Hmm... it's fun :D
Sabtu, 15 Desember 2012
Belajar nyambi berwirausaha :D
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh..
Temans, ketika penulis mulai googling tentang hal 'berwirausaha', penulis dapet suatu artikel menarik nih buat bacaan dan nambah-nambah pengetahuan.
Dibaca yuks...
Saat ini banyak orang terpikir untuk memulai usaha sendiri. Tak aneh memang, di saat lapangan kerja yang makin sulit, atau kalaupun telah bekerja namun penghasilan masih belum mencukupi kehidupan sehari-hari. Atau kalaupun sudah mencukupi, tapi waktu untuk keluarga justru tak ada. Maka, memulai usaha sendiri menjadi pilihan untuk mengubah kondisi itu.
Akan tetapi masih banyak juga yang tak kunjung mau ACTION memulai wirausaha. Mengapa? Konon, ada banyak hambatannya. Yang bila kita tanya pada orang yang belum memulainya, banyaknya hambatan tersebut bisa dari A sampai Z.
Ok… saya paham, tiap orang itu unik. Tiap orang punya kondisinya masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Namun, secara umum, orang yang tak kunjung mencoba wirausaha, biasanya alasannya karena di bawah ini.
- Modal. Sering orang yang berniat memulai usaha, modal menjadi kambing hitam. Modal di sini diidentikkan dengan uang. Karena tak memiliki modal uang yang mencukupi, maka tak kunjung mulai usaha.Ya, saya tahu modal uang itu penting. Tapi ada banyak modal lain yang saya kira juga tak kalah penting seperti jaringan atau bahkan diri anda sendiri. Kejujuran, ketekunan dan sikap pantang menyerah yang anda miliki adalah modal besar untuk sukses berwirausaha.Banyak cerita juga bagaimana banyak wirausahawan sukses lahir bukan karena berlimpah-ruahnya modal uang, tapi modal sosial atau modal yang ada dalam dirinya.Kalau yang mau memulai usaha online, bisa dicoba bisnis afiliasi, seperti afiliasi Mr Action Club dan Aset Virtual contohnya. Ini usaha yang tanpa modal uang. Tinggal promosi dan hasilkan komisi.
- Tak tahu bagaimana cara memulai usaha. Anda tak tahu bagaimana cara memulainya, sehingga tak kunjung mulai usaha. Kalau yang ini, mau tak mau anda harus belajar.Belajar tak harus seperti orang yang sekolah datang ke ruang kelas, tapi anda bisa diskusi atau ngobrol dengan orang yang telah mulai usaha. Anda serap ilmunya dan tinggal praktekkan.
Dan mungkin banyak lagi hambatan lainnya…
Tapi semua itu, menurut saya, akar masalahnya terletak pada mindset. Bagi yang belum terbentuk mindset bisnisnya, mungkin terasa tak mudah untuk memulainya.
Kalau yang sebelumnya sudah punya penghasilan tetap, tiba-tiba terbayang harus beralih ke kondisi yang tak pasti. Tak jelas berapa penghasilan yang diperoleh bulan depan, belum jelas bagaimana usaha yang akan dicobanya nanti, dst.
Ketakutan dan kekhawatiran semacam itu mampu menahan mereka untuk tidak kunjung ACTION memulai usaha sendiri.
So, bagaimana?
Asah mindset bisnis anda. Bergaul dengan orang-orang yang berwirausaha bisa membantu mengasah mindset bisnis anda. Bukan saja anda belajar cara teknisnya, tapi juga belajar dari suka-duka yang mereka lalui sebagai wirausahawan.
Langkah lain yang “relatif aman” adalah dengan memulainya sebagai bisnis sampingan. Tanpa melepaskan pekerjaan saat ini, sambil mulai mencoba buka usaha sendiri. Dengan demikian, diharapkan mindset bisnis perlahan semakin teruji.
Sebab wirausaha itu butuh praktek, butuh ACTION!
Kalau anda belum juga mulai usaha, ada baiknya anda lihat ke dalam diri anda sendiri. Ada apakah dengan diri anda?
Menurut saya, seorang wirausahawan itu punya ciri atau karakter yang terangkum dalam kata ACTION.
A = ACTION
Action atau tindakan adalah karakter wirausaha. Menjadi wirausaha berarti mau mengambil inisiatif, mau melakukan ACTION, mau mengambil tindakan untuk mengambil peluang yang ada. Wirausahawan bukan sosok yang mudah berdiam diri. Mereka mengutamakan tindakan dalam kesehariannya.
C= CREATIVE
Wirausahawan itu sosok kreatif. Mereka mampu menciptakan/mengembangkan sesuatu yang mungkin sebelumnya dianggap biasa atau bahkan mustahil oleh banyak orang. Kreativitas tersebut membuatnya berhasil membuat nilai tambah dalam apapun yang digelutinya. Masalah mampu diubahnya menjadi peluang.
Mereka juga kreatif untuk menghadapi tantangan usaha yang dihadapi. Tantangan yang kian besar justru memompa semangatnya untuk lebih kreatif dalam menghadapi tantangan usaha.
T= TRUST
Wirausahawan memegang trust sebagai prinsip hidupnya. Dalam pengertian ke luar diri, trust berarti tekad untuk memegang kepercayaan konsumen. Mereka sadar, kepercayaan adalah modal utama dalam bisnis.
Ke dalam diri, trust berarti percaya pada dirinya, pada apa yang di-ACTION-kannya. Wirausahawan punya rasa percaya diri untuk melakukan ACTION.
I = INDEPENDENT
Independent atau kemandirian menjadi jiwa wirausahawan. Mereka ingin bebas, ingin mengatur hidupnya sesuai yang dia mau. Wirausaha mandiri ingin bekerja untuk dirinya sendiri. Mereka mau mewujudkan impian-impiannya lewat usaha mandirinya itu.
Kemandirian tersebut juga membuatnya sadar akan resiko yang mungkin terjadi, dan dia siap menanggungnya sebab telah memilih jalan wirausaha.
O= OPPORTUNITY
Opportunity atau kejelian melihat peluang/kesempatan adalah ciri wirausahawan. Dimana-mana dia temukan ide ide bisnis yang bisa menjadi peluang bisnis baru.
Kejeliannya melihat peluang tersebut bukan saja menghasilkan uang bagi dirinya sendiri, tapi banyak orang lainnya.
N = NO QUIT
Wirausahawan sejati tak pernah menyerah. Mereka tak pernah berhenti ACTION. Kegagalan tak pernah dianggapnya sebagai kegagalan. Setiap kali jatuh, dengan cepat mereka bangkit dan ACTION lagi. Mereka percaya kesuksesan itu pasti akan datang.
Kesuksesan itu tak datang tiba-tiba. Tapi melalui proses penuh keringat. Dan semuanya itu akan terbayar lunas saat menjadi wirausaha sukses.
Sempat beberapa waktu lalu dalam diskusi dengan Pak Imanuel Ginting dalam komentar di postingan Siapkah Menghasilkan Uang dari Internet secara Full Time?saya katakan…
“Saat melihat seseorang yang sudah sukses, pelajari juga proses jatuh bangunnya. Sebab itu akan mengasah mental entrepreneur kita.”
Mari ACTION! Jangan tunda lagi. Setiap detik yang ditunda untuk memulai sesuatu, berarti anda sendiri yang menundanya untuk lekas terwujud.
Salam ACTION!
so, teman... walaupun kita masih duduk dibangku SMA, kita tetap bisa belajar, berorganisasi, dan berwirausaha asal punya tekat dan kemauan. Tumbuhkan jiwa kemandirian dgn berwirausaha, sehingga juga bisa untuk melatih dan memanajemen diri, pengalaman buat masa depan. It's simple, right?
Selalu ada matahari terbit setelah matahari terbenam -Teladan Science Club-
Satu kunci: Pantang Menyerah!!! :D :D :D :D :D
Minggu, 09 Desember 2012
Desember, Semangat :D
Desember. Ini tahun 2012. Alhamdulillah, hampil tak terasa, begitu singkatnya waktu menemaniku berjalan-berlarian diusia remajaku kini. Hmm... bulan di akhir tahun, seharusnya bisa dibuat untuk bermuhasabah pada diri kita selama satu tahun ini. mengidentifikasi apa saja kekurangan-kekurangan, kendala, kritikan dan sejenisnya, dirangkum dalam sebuah buku dan jadikan sebagai pembanding buat tahun depan agar jadi lebih baik lagi.
Desember. Bulan lahirku. Besok pada tanggal 11, usiaku genap 17 tahun. Itu artinya aku memang bukan anak kecil lagi. Mencoba untuk bersikap dewasa, bijaksana dalam bertindak dan mengambil keputusan. Masa-masa ini seharusnya kita jadikan sebagai ajang menuntut ilmu sebanyak mungkin, mengingat semakin mudahnya akses untuk menimba ilmu dari berbagai sumber. Tapi juga harus bisa memilah-milah mana ilmu yang benarr dan mana yang salah..
Nah, kan UAS dah selesai. Penulis jadi sedikit leluasa untuk berselancar di dunia maya (entah mau ngapain -.-) karena dah nggak ada tugas-tugas dari bapak ibuk guruu. Yeee... jadi bisa merasakan remaja yang tanpa beban.. Alhamdulillah diberi waktu buat santai sejenak, bisa digunakan untuk menambah wawasan tentang pemerintahan dan kasus-kasus korupt serta panasnya pertikaian politik di Indonesia (baca: nonton berita di TVOne), bisa berinteraksi dan menjaga ukhwah sama temen2 SMA maupun SMP (baca: facebookan dan twitteran), berburu ilmu agama (ngikut2 kalau ada kajian), berorganisasi, refreshing dan lain-lain..
Waduuuhh... nilai raporku besok gimana yaa? oh iyaa.. aku jadi inget. aku kan belum ngumpulin raport. Astagfirullah lupa terus. Entah kenapa penyakit lupaanku ini sering banget kambuhnya. gara2 ini, banyak barang2ku yang pada ketlingsut. Alhasil, apesnya jadi sering kena marah ortu.
Kalau nilai raporku jelek gimana yaa? Tuiinngg... Orang Tua! Itu yang pertama. Sebenarnya kalau aku dimarahpun nggak masalah. tapi, yang aku nggak mau itu mengecewakan orang tua. Sejujurnya merekalah motivasi terbesar aku buat belajar.
Memang karena aku dari kalangan keluarga yang biasa-sederhana, maka aku sangat sangat sangat ingin kelak bisa sukses (dunia dan akhirat) agar bisa melihat kedua orang tuaku menumpahkan air mata kebahagiaan dan senyuman dengan melihat anak2nya berhasil. Berusaha keras! ayo lawan rasa malas yang terkadang menyelimuti tubuhku.
hmm.. ketika rasa malas itu datang, ku buka qur'an warna pink-ku. ku buka pada halaman paling awal (berisi beraneka ragam kertas kertas atau foto penting dalam hidupku). Ku buka foto itu (fotoku bersama dengan ibu). Teringat beliau, aku teringat betapa kerasnya perjuangan dan jerih payah beliau demi kesuksesan anak-anaknya. Aku teringat ketika beliau bekerja mencari uang kesana-sini dengan satu tujuan, Keluarga. tak lebih dari itu. demikian juga bapak. Sesaat, foto itu kurenungi, kucium, lalu hampir tertetes air mataku. Semangat membara untuk belajar muncul lagi. Rasa malas itu kemudian pergi. Inilah motivasiku. Ibu. Aku sangat menyayanginya.
Bismillah, aku ingin sekali bisa diterima di Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ekonomi Bisnis, Jurusan Manajemen. Itu pilihanku, selebihnya ada di tangan Allah. Dia yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku di kemudian hari.
Doa, Ikhtiar, Tawakal..
SEMANGAT
Semoga raporku semester ini bagusss...
Amiiiinn
Langganan:
Postingan (Atom)