Pagi
ini aku berangkat sekolah. Sebenarnya boleh berangkat ataupun nggak berangkat,
soalnya kan sudah selesai ujian semesteran, jadi sekolah memberikan kebebasan
untuk siswa. Beberapa yang berangkat sekolah itu karena untuk remidi atau
ulangan susulan pada mapel yang nilainya masih dirasa kurang. Ada juga yang
berangkat karena ngurus-ngurus event seperti Donor Darah TJRC, Diklat THA,
Futsal dalam rangka Lustrum Teladan dan lain-lain.
Hari
ini aku berangkat sekolah karena beberapa hal, antara lain untuk remidi ekonomi
yang bab perpajakan dan kebijakan Fiskal, latihan nasyid, mendampingi tamu
sekolah dari SMP swasta di kalimantan, pertemuan para danus, serta menuntaskan tugas bahasa Arab yang
suruh mencari na’at dan man’ut dalam Al-Qur’an.
Sekitar
jam 8 aku tiba di sekolah. Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan. Buka-buka
buku, belajar ekonomi. Aku berharap semoga nilaiku ekonomi bisa tuntas, makanya
aku mruput ke perpus buat belajar. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Nasthithi
(temanku, sekretaris 1 OSIS BTB) nongol di depan meja perpus tempat aku
belajar. Aku nanya:
“Ti,
ntar kamu ikut presentasi buat tamu yang dari kalimantan kan?”
“Wah
aku nggak bisa e Fid. Ada rapat sigma.” Seraya menyerahkan flashdisk berisi
materi presentasi osis kepadaku.
Lhah…
Aku mendadak jadi sedikit takut (semacam nggak siap gitu). Akrima dan Mala nggak
ikut soalnya mau ke Smada buat forum FKPO. Sedangkan Marvi ada rapat pramuka,
dan Ridwan tiba-tiba bannya bocor. Aduh..
Aku
menyudahi belajarku, dan segera ke masjid. Ada Akrima rupanya. Mbak Aje, Mbak
Tiwi, Mbak Victa, Gadis, Dini, Nimas dan Afifah juga ada. Biasa.., mereka
bermain-main dengan laptop. Mungkin ada film yang bagus.
Fikiranku
kacau. Memang aku ini orang yang termasuk jika ada masalah kecil dibuat
seakan-akan rumit. Aku bingung mau ngapain. Ketemu Akrima buat mengadu
kebingunganku, aku rasa sia-sia.
Aku
hijrah ke lobi, tepatnya ke ruang guru, menemui Bu Umi untuk remidi Ekonomi.
Wahh.. ternyata ditolak, guys. Beliau berkata bahwa tidak mau jika yang remidi
hanya satu atau dua anak saja. Harusnya langsung massal. So, yasudah nggak jadi
remidinya. Aku sedikit lega sih, tapi kecewa juga. Soalnya udah belajar..
Nelies aku sms bahwa remed dipending. Nelies nggak jadi ke sekolah.
Aku
kembali ke masjid. Ku lihat, teman-teman belum pindah posisi. Masih beradu
pandang dengan salah satu laptop mereka. Hmm.. dari tirai masjid akhwat, aku
mengintip ke arah aula. Nampak ramai sekali. Ternyata siswa-siswi kelas sepuluh
sedang ada acara penyuluhan mengenai Korupsi. Wahh… ada makanannya. Hmm..
isinya roti, pula. Enaknyaa…
Aku
mendengar salah dua dari mereka menyanyi lagu “sempurna”. Sepertinya aku tau
siapa yang menyanyikannya. Anak MPK, tapi aku lupa namanya. Suaranya bagus.
Bagus banget. Vibra dan cengkok-cengkoknya pas dan sesuai irama. Sebagian yang
akhwat (perempuan) ikut menyanyikan dengan melambai-lambaikan tangan keatas
dengan riang gembira, hingga gemuruh suara –ramainya- terdengar hingga masjid
bagian atas. Sedangkan yang ikhwan (laki-laki) kuintip hanya diam –berasa pah
poh- sambil menikmati konsum yang disediakan dengan raut ekspresi yang flat.
Sungguh datar, padahal yang nyanyi tuh akhwat, gek suaranya bagus. Aku ampek
bingung, apa yaa, yang ada di fikiran mereka.
____
Tamu
dari SMP Swasta di Kalimantan sudah tiba. Aku dan Dini menyegerakan diri untuk
ke ruang multimedia. Tampaklah ada 52 atau 54 murid SMP kelas sembilan beserta
4 orang guru pendamping. Mereka datang jauh-jauh dari Kalimantan untuk menambah
wawasan mengenai sekolah yang ada di Yogyakarta. Dan mereka memilih SMAN 1
Yogyakarta sebagai tujuan utamanya.
Setelah
pihak tamu yang memberi sambutan, dilanjutkan dengan pihak sekolah. Ada Mr.
Marmayadi, Bpk Basuki juga. Beliau menyampaikan berbagai hal mengenai SMAN 1
Yogyakarta. Beliau juga bercerita tentang awal dari program RSBI berlangsung,
dan mengenai ujian Cambridge yang dilaksanakan di Teladan tiap tahunnya.
Setelah
itu, giliran PH dan MPK yang presentasi. Awalnya Mr.Marmayadi memperkenalkan
sebagian PH dan MPK. Dari MPK, yang maju adalah tiga orang ikhwan (laki-laki)
kelas sepuluh. Yaitu dek Bismo dkk. Sedangkan yang dari PH ada saya dan dek
Hani. Sebenarnya dek Azizap juga, tapi dek Azizap sedang keluar sebentar, saat
itu. Setelah perkenalan, tiba-tiba dek Azizap masuk. Karena dek Aziz yang belum
perkenalan sendiri, maka dek Aziz disuruh perkenalan sekalian yang mewakili
presentasi osis.
Dek
Aziz Azka Putra atau yang biasa disapa dengan Azizap adalah seorang yang sangat
PD, menurutku. Kharisma dan wibawanya saat presentasi terlihat sekali.
Pemikiran-pemikirannya luas dan terlihat menguasai materi saat presentasi.
Berbeda denganku yang –kadang- merasa bahwa aku seharusnya tidak berada bersama
mereka. Menurutku, mereka (PH dan MPK) anggota-anggotanya adalah orang-orang
yang super sekali. Kecuali aku. Mungkin pula, aku bisa menjadi bagian dari
mereka itu karena bejo, keberuntungan dari Allah. Sedangkan menurutku sendiri
aku belum pantas karena aku belum melihat potensi apa yang ada pada diriku.
___
Selanjutnya,
sekitar jam setengah dua belas. Ada pertemuan para danus. Aku dan Dini bersegera
dari ruang multimedia menuju ruang 105 untuk menghadiri acara tsb.
Hujan
yang lirih mendampingi langkah kami. Setiba di ruang 105, tepatnya di lantai
bawah gedung induk dekat dengan uks, sudah ada banyak orang. Tentu kami telat.
Pemberitahuannya, mulai jam 10. Ada dek Mail dan Utari yang berada di depan
kelas.
Dek
Mail juga anggota dari OSIS, menjabat sebagai SekBid 6 yang membawahi Danus,
Kosuha, Obscura, dll. Sedangkan Utari sebagai koordinator sie danus.
Penjelasan
demi penjelasan tersampaikan dengan jelas dan lugas oleh Utari. Memang temanku
yang satu ini bagus dalam public speakingnya. Beliau kritis, profesional dalam
bekerja.
Sedangkan
saya? entah mengapa sering kali saya merasa sebagai orang yang lemot dalam
berfikir. Saya merasa bahwa teman-teman memiliki kemampuan, skill atau potensi
yang jauh lebih baik daripada saya. Entah mengapa saya sering merasa bahwa daya
tangkap atau daya dong saya sangat sangat sangat lemah, sehingga sering ketika
teman-teman sudah faham terhadap suatu hal, saya hanya mangut-mangut seolah
mengerti (padahal sebenarnya sering ‘nggak conect’).
Saya
sangat berharap bahwa suatu saat nanti saya bisa seperti mereka.. Bismillah,
tetap berusaha…..
Gerimis, pulang ke rumah tanpa mantol... :)
Syahrini berkata: "Cetar Membahana..." LOL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar