Rabu, 30 Mei 2012

Aku mencintaimu dari kejauhan..
Dari sudut yang tak bisa kau pandang..
Tersirat, dari tatapanku padamu..
Dari senyumanku kala melihatmu

Aku tak tahu, kau sadar atau  tidak
Namun, beberapa orang sekitar kita ada yang tahu
Dari  siratan raut wajahku
Dari  polah tingkahku
Terhadapmu
Yang tak pernah bisa untuk ditipu
Ataupun dibuat-buat
Karna ini memang tak disengaja

Kau tahu, inilah aku..
Yang tak bisa menyembunyikan
Dalamnya isi hatiku


Dan mungkin suatu saat nanti,
Kau akan mengetahuinya
Tentang rasa ini,
Yang tiba-tiba muncul
 Bahkan aku tak menduganya
Pula sangat sulit untuk di-sirna-kan.

Selasa, 29 Mei 2012

Diamana Allah berada?

Alkisah suatu saat Seorang Kakek yang hadir dalam sebuah pengajian yang dipimpin oleh seorang Ustad muda, bertanya: “Anakku, Tadi Anakku menyampaikan ceramah tentang Aqidah, tentang Allah, boleh kakek bertanya? Dimanakah Allah itu?”. Sebuah pertanyaan yang membuat sang Ustad muda bingung.., sangat dalam sekali.
 
 
Saat itu pula ia teringat pesan Guru-nya, jika ada yang bertanya dimana pertanyaan itu bukan sifatnya ingin tahu atau ingin sekedar menguji dan kita tidak tahu jawabannya maka berikanlah jawaban seperti ini “Sesungguhnya orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”.

Kakek itupun manggut-manggut, sambil tertunduk beliau bertanya lagi. “Anakku, Coba Ambilkan Pelita itu (sebuah kaleng cat minyak yang berisi minyak tanah dan diberi api disumbunya), boleh kakek bertanya? Kapan Pelita ini disebut Pelita?”

Kembali sang Ustad memberikan jawaban “Kakek, Saya tidak bisa menjawabnya, Terangkanlah pada Saya”.

Sang Kakek bukan malah menjawabnya tetapi memberikan pertanyaan baru lagi “Jika Kakek Tiup Api diatas Pelita ini, Kakek bertanya, Tahukan Engkau Anakku, Kemana Perginya Api Itu?”.

Allahu Akbar! Teriak bathin sang Ustad, selama ini ia tidak pernah berfikir tentang kemana perginya api ketika ditiup dari pelita yang hidup, oh iya ya, kemana perginya api itu, bahkan tidak berbekas sama sekali.
Kembali ia menjawab “Saya Tidak Tahu Kek, Berikan ilmu Pada Saya”.


Kembali Kakek itu tidak menjawab, Beliau justru menanyakan nama si Ustad “Nak, Namamu siapa?”, ia jawab “Abdullah…”, beliau manggut-manggut lagi , ia bertambah heran saja dengan kakek ini yang entah dari mana datangnya. “Boleh Kakek bertanya lagi, Dimana Abdullah Itu?”

Wah pertanyaan apa lagi ini pikirnya, untuk yang satu ini ia menjawab “Di Depan Kakek , Inilah Abdullah… ”.

Si Kakek Tua hanya geleng-geleng kepala dan merenung sejenak, si Ustad terbawa suasana merenung seperti kakek ini dan tiba-tiba beliau menepuk bahu sang Ustad dan memanggil nama nya “Abdullah…….!”.

Ia jawab dengan Spontan “Ya Kek!”.

Kakek itu tersenyum lebar dan kemudian mengatakan : “Anakku, Barusan kakek merasakan adanya Abdullah, karena bagimu Abdullah itu tidak ada, jika Kau pegang tanganmu, itu Tangan Abdullah..!, jika kau pegang Keningmu, Itu Kening Andullah..!, jika kau pegang kepalamu, itu Kepala Abdullah..!, Jika kau pegang tangan dan kakimu, itu adalah tangan dan kaki Abdullah.!, lalu…..DIMANAKAH ABDULLAH ITU?! Abdullah Itu ada saat begitu banyak orang merasakan banyaknya manfaat kehadiran dirimu, sehingga banyak orang menyebut namamu Anakku…”.

“Demikianlah perumpamaan Allah Swt, Sesungguhnya Allah itu sudah Ada sebelum apapun ada dimuka bumi ini, Allah itu sudah ada bahkan jikapun Bumi tidak diciptakan olehnya, Tapi Allah itu Tidak Ada Bagimu, Jika kamu tidak pernah mengerti tentang-NYA, Kau sebut langit itu adalah langit ciptaan Allah, kau sebut Api itu Api ciptaan Allah, Kau Sebut Air, itu adalah Air Ciptaan ALLAH, lalu dimanakah Allah?”
Dimanakah Allah? Allah itu ada bagimu, Bila kau selalu menyebut nama-NYA, kau zikirkan setiap hembusan nafasmu, Maka Dia slallu ada bersamamu, Maka Allah itu Ada Bagimu, karena ada dan tidak adanya dirimu, Allah Itu Tetap Ada..!!”, demikian si Kakek menjawab panjang.

Subhanallah, pagi Ramadhan yang indah bagi si Ustad muda, sebuah ilmu yang tidak mungkin ia dapatkan di bangku kuliah…

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahilhhamd

Sebelum perpisahan dengan kakek itu , ia masih penasaran dengan Perumpamaan Pelita yang ditanyakan tadi, sang Kakek lanjut menjelaskan “Pelita itu tidak bisa kamu sebut Pelita tanpa ada Apinya… ketika Pelita itu tidak Apinya dia hanya bisa disebut Kaleng Cat Minyak yang berisi minyak tanah dan bersumbu, itu saja…..

Baru Bisa Kau sebut Pelita apabila kau berikan Api disumbunya….

Ini bermakna demikianlah manusia, ketika ruhnya tidak ada, itu hanya bangkai yang berjalan, yang perlu kau hidupkan setiap hari adalah ruhnya, sehingga dia bisa menerangi dan memberikan manfaat bagi sekitarnya…”.

Allahu Akbar! Teriak bathin si Ustad muda.

Kembali sebuah nasehat yang luar biasa di Ramadhan ini bagi nya, dan ketika sebelum ia cium tangannya, Sang Kakek ini membisikan ke telinga “Anakku, Ingat saat Api diatas pelita itu ditiup, Api menghilang, tak berbekas dan kau tidak bisa melihatnya lagi, bahkan bentuk , rasa sudah tidak bisa kau lihat, bahkan kau tanyakan seribu kali kemana perginya Api kau tidak akan bisa menjawabnya…, Demikianlah dengan RUH anakku, saat dia pergi dari jasadmu dia tidak akan membentuk apapun , dia raib sebagaimana Zat yang menciptakannya, DIA-lah ALLAH Swt…. Maka rawat dengan benar ruh yang ada dalam jasadmu….. Assalamualaikum”.


“Wa’alaikumsalam” jawab si Ustad sembari menitikaan Air Mata, “Ya Allah, Ramadhan kali ini terasa indah bagiku, Aku ingin bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan Ya ALLAH” ia berdoa dalam hati..
Hingga hari ini, ia tidak menemukan bahkan tidak pernah mengenal nama kakek itu & tidak pernah ia lihat lagi seumur hidupnya…

 

Senin, 21 Mei 2012

HANYA MEJA -______-


Pada hari Sabtu tanggal 19 Mei 2012 pelajaran pertama adalah basa Indonesia. Aku sadar kalau jadwalnya adalah ulangan basa Indonesia dengan bab majas-majas Puisi. That’s oke. Hari itu aku tahu kalau ada tiga ulangan, yaitu basa Indonesia, PKn, Ekonomi. Well, aku berfikir buat mbolos aja. Tapi niatku kuurungkan karena ada bisikan malaikat. 


TEEETTT…. TEEEETTT…. TEEEEETTtt…., bunyi bel tanda masuk.


Aku melihat banyak bangku kosong. Lhoh? Ini anak-anak kok pada nggak masuk? Wah, dapet bangku depan kih. Lumayaan.. (tapi akhirnya aku duduk paling belakang –again-) Yang nggak masuk sebagian karena lomba, karena kecapek’an habis praPTB, dll. Kalau Winda sih, nggak masuk karena lomba matematika di jakarta (didampingin sama bu Narni -,-), kalau Zulfa karena capek habis pra PTB, Tika & Hafizh karena sakit, Gemma & Dinda karena suatu perlombaan (kayaknya loo).

Bu Puji selaku pengampu mapel Indo sudah masuk kelas. Aku dah ancang-ancang. Ternyata oh ternyata, Bu Puji bilang bahwa beliau belum menyelesaikan soal-soalnya. baru sekitar 10 pertanyaan dan belum mbuat option, katanya. 

YEEEESS!!, aku mbaten.

Sebagai gantinya, bu Puji menerangkan sekilas tentang cara-cara pembuatan puisi. Beliau mencontohkan membuat puisi dengan menyusun poin-poinnya dulu dengan menggunakan contoh ruangan kelas. Nah, dari situlah kita mengekspresikannya secara luas. Misal di dalam kelas terlihat sebuah televisi yang mati, pak presiden yang selalu tersenyum, jam dinding yang terus berdetak, dll. Lalu, kami disuruh membuat puisi yang berkaitan dengan kelas (menggunakan benda-benda yang ada di kelas) dengan tema bebas, misal kritik sosial, cinta, kehidupan, alam, dll. Up To You.

Nah, durasi waktu yang diberikan hanya sekitar 10-15 menit. Wah, waktune terlalu mepet. Aku mencari-cari ide dan terus menulis sambil mendengarkan temen-temenku yang mendapat giliran maju ke depan kelas membaca puisinya.


****


Giliranku tiba. Bu Puji memanggilku. Dari tempat duduk paling belakang, aku maju ke depan kelas. Ku lihat teman-teman pada tenang, memperhatikan. Aku mulai membaca…



 HANYA MEJA

Terbuang….
Menangis, Tersenyum, Tertawa.
Aku hanya meja, dan aku GILA!

Tak seorangpun disini.
Hanya onggokan kertas bisu, itupun ternoda.
Bersama teman-temanku yang kaku.
Seakan tak peduli isi hatiku.

Suasana ini…
Aku teringat, pedih nian rintihan rindu.
Kala mahabbah telah menggerutu.

Kelas ini sepi. Menepi.
Tak satupun sudi menemani.

Meja Kursi merintih, karena debu.
Benar-benar, ia tidak peduli.

Hanya kipas angin yang slalu berputar.
Menyapu debu,
Tanda peduli pada diriku.

Kipas, aku hanya meja.
Aku tak bisa bergerak sepertimu.
Kaku, tak sanggup ku usir debu-debu.

Aku tak berguna,
Aku lapuk, terancam jam dinding di depanku.

Tapi nanti, di esok hari.
Aku akan berguna!
Aku akan berguna!
Aku akan berguna!

Seseorang kan menjemputku.
Menyapu debu yang menyayat relung tubuhku.
Menemaniku,
Bersama putihnya buku-buku.


Plok3x, Riuh tepuk tangan teman-temanku membuatku senang. Aku juga udah lega, berasa nggak ada beban. Sekilas, aku lupa kalau ada ulangan PKn by Pak Trisna dan Ekonomi by Bu Umi. Aku senang tidak hanya karena merasa diperhatikan, namun aku juga merasa bahwa sewaktu aku membacakan puisi sederhana tadi, sebagian dari mereka ikut terbawa suasana (menghayati) hehehe. Mungkin saat mereka mendengarkan tadi, mereka jadi lebih mengerti dengan apa yang dirasakan oleh ‘si meja’ dalam cerita puisi tersebut. Hehe berasa ngehipnotis temen-temen nih. That cause pas aku mbacain puisinya memang benar-benar aku hayati, so biar temen-temen juga bisa membaca mimik wajahku, lalu bisa merasakannya (walaupun memang aku agak grogi). Kelihatan, kok. Pas aku mbacain puisi, nggak ada satu pun yang bicara. mereka menghargaiku dan guruku, Bu Puji.


Jazakumullah khairan katsira ya temen-temen tercinta. Kalian temen-temen yang baik. Love You All… Kalian teman-teman yang toleran.. J

X8, life is never flat

Jumat, 11 Mei 2012

X8 Ceria!!!!

 

Pada hari jum'at kelasku mengadakan pertunjukan "Ande-Ande Lumut" sebagai penilaian pelajaran basa jawa. Kami berangkat mruput, guna menyiapkan perlengkapan buat njathil. kami mempersiapkan kebaya, jarik, kopi (sebagai telek yang dilulurkan pada muka klething kuning), dan lain-lain. Yang memerankan drama asia ini adalah:
  1. Mahran A'fina .G. S. sebagai klething Kuning (gambar diatas)
  2. Muhammad Yasirroni sebagai Ande-Ande Lumut
  3. Ulfah Ulinuha sebagai Mboknya Ande-Ande Lumut (hehe aku lupa namanya.)
  4. Deva Mutiara sebagai kething Hijau
  5. Niken Laras Sigalih sebagai klething Ireng
  6. Dwi Pratika Anjarwati sebagai klething Merah
  7. Bernadeta Dinda Larasati sebagai klething Putih
  8. sedangkan sisanya sebagai tim paduan suara (yang nyayi mengiringi drama), dipimpin oleh bapak ketua kelas. Namanya Muhammad Umar Fariz Tumbuan.






ini keluarga besar X8 yang beranggotakan 27 orang. Orang menyebut kelas kami dengan sebutan bermacam-macam. ada yang nyebut Kelas Seniman, ada yang nyebut kelas bureng, ada yang nyebut kelas Cambridge, dan lain-lain hehe..






Selasa, 08 Mei 2012

Geje @_@

percakapan konyol--geje ini berlangsung  pas pelajaranne pak Yon.

tinta biru    : Fira
tinta hitam  : Penulis

hai firaaaaa :)

halo mbakku yang cantiikkk>>>>)

akkhh, masaaakk???? yang beneeerr???

ohhhh gitu?? Jadi skrg dah mulai g pcaya ma omonganku.....*__*

hahahaaa yo piye yo?? kasi tau g yaaa... oya, gimana tidurmu? nyenyak??

mpphh....gimana yaaa???? Gak e...aku diganngguin sama tmen2ku yang nakal..... huhuhu><

la salae turu pas pelajaranne pak yon. madan2ni cuqi wee.. whaatt?? "temen2ku"? bukane mereka jg temenku???

weee....gak cuma cuqi yaaa.....niken juga lho... hmmphh,,, ralat deh , temen2 kita... Yang jelas, aku sebel tidurku g nyenyak, tulange dho pegel2...... >__<

********* percakapan terputus, udah bel istirahat, pak yon juga sampun kundur*****

********* fira ngabur, sholat dzuhur*****

*** disambung kapan2 yaaa *******

Shabrina beside me ^,^

desiran ombat terngiang dalam rindangnya suasana kalbu. saat akan terlelap, kutermenung akan sebuah masa-masa dimana dua orang anak ingusan selalu bersama dalam suka dan duka. mentiti jejak bertoreh makna-makna sebuah persahabatan. 

Aku teringat tawa renyah si bocah itu. tingginya melibihi diriku. konyol, tapi tidak berbasa-basi..

klasik....

Penuh warna, seindah pelangi yang sudi menutupi keburukan awan kelabu....

Semerbak kerinduann...

akan aku abadikan dalam sebuah kenangan, dalam bingkai persahabatan dalam memoriku...

tertataaaaaaaa, dan lihatlahhhh.........

 waow,, hmm, itu foto pertamaku bersama orang luar negeri hehehehee. apik ta? itu fotonya di SMPN 6 Yogyakarta, ketika aku lagi kelas 9 :3


 senyum kami, kebahagiaan bagi keluarga kami.. keep smile, keep friendship


 Fida + Shabrina = Tegar. Lhohh????


kisah klasik di sore hari, Shabrina naik sepeda ontelnya bapak --" Pribadinya penuh dengan aura kesederhanaan. tidak tersirat secuil tirani dari raut wajahnya. Penuh dengan kelembutan dan senyum kasih sayang yang tak berkesudahan. 

Syukron atas segalanya, kawan :)

Walaupun kini kami beda sekolah, persahabatan kami akan selalu terjaga (insyaallah) sampai akhir hayat nanti.

Love You, My Best Friend,

Shabrina Kurniasari

Senin, 07 Mei 2012

C-I-N-T-A

aku tahu, aku memang tak pantas bersanding dengannya. aku tahu posisiku dan aku tau juga bagaimana dia. Ya, walaupun cinta ini begitu dalam dan tulus, namun sepertinya salah. fikiranku terus melayang,menerka-nerka ke penjuru dunia. 
Setiap malam, aku teringat wajahnya. Saat pelajaran, ingat lagi! saat sholatpun ingat lagi! Saktenane, iki ngganggu! aku pernah mbaca artikel dari internet, kalau seseorang sedang jatuh cinta, maka presentase kecerdasannya akan berkurang 80%. hmm, tapi juga belum pasti kebenarannya. But, ya tetep wae. nek dilogika memang bener, soalnya sebagian otak kita terfokus dengan seseorang yang kita cintai. sehingga mengurangi kepekaan/konsentrasi kita sama pelajaran.
aku bingung piye carane biar rasa ini cepet selesai. karena cinta ini konsentrasi belajarku berkurang, ibadah kendor, dan sebagian memoriku hanya terisi dia, dia, dan dia! 
tapi nek ditanya, "kamu kok gitu si? mbok ya udah, lupain aja. dari dulu tentang ituu wae."

wahh, nek ituu..

Ya maaf kalau aku buat kamu nggak nyaman dengan curcolku. mungkin kamu bosan dengan ocehanku yang melulu kayak gitu. kadang aku terima saranmu, tapi nek nglupain seseorang tuh nggak segampang itu, nduuk! aku juga udah berusaha. aku tahu sakjane ini nggak boleh dibiarin mengendap lama-lama. aku tau, aku harus jaga hati. jaga hati! Hijab itu nggak hanya fisik. tapi hati juga perlu dihijabi. tapi itu nggak gampang, mbak. teorinya aja gampang, tapi prakteknya harus dengan sangat bertatih-tatih. perasaan apa ya bisa dipaksakan? apa kamu fikir ini semua murni kesalahanku? coba kamu yang mengalaminya.
Kadang aku ngerasa seneeeenng banget nek ketemu dia. seakan dunia ini sedang berpihak sama aku. aku merasa kami dekat. kadang ketika b'papasan, aku merasa bahwa dia ngliat aku sekilas, tapi pergi lagi. tatapannya tajam. tapi aku nggak berani terus-terusan natap dia, terutama wajahnya. beraninya kalau pas dia membelakangiku. dan saat itulah hatiku berasa bergejolak. senyum-senyum di kacaa.. wahh -_____- 
Tapi itu waktu tadi. bukan sekarang. Sekarang aku berusaha untuk 'biasa wae' ketemu dia. aku nggak mau dan nggak suka kalau dia merasa gr ( gegedhen rumongso). 
Terserah bagaimana ia memandangku. buruk atau apapun, aku wes ra arep nggubris. memang inilah aku yang akan terbang meninggalkanmu, terbang dengan kedua sayapku dan akan hinggap lagi, terkait dalam seseorang yang benar-benar mencintaiku apa adanya dengan segala kelebihan-kekuranganku, di suatu saat nanti, ketika aku dewasa.  
So, jadi petuahnya Shabrina: cinta itu seperti kupu-kupu. ia tidak bisa dikejar. apabila ia dikejar, akan lari. tapi ia tidak akan lari, bahkan menemuimu bila kamu diam ditempatmu. 
kesimpulan: sekarang aku percaya pada skenario-Nya, bahwa suatu hari nanti, kebahagiaan akan menjemputku heheeheheheheee :3