Kamis, 17 Januari 2013

Dibalik Tirai Klasik TBY

 


Artikel ditulis oleh: Hafida Diah Setyowati --- SMA 1 Yogyakarta 
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik

___________________________________________________________


Taman Budaya Yogyakarta (TBY) adalah sebuah kompleks pengembangan pelatihan seni budaya yang terdapat di Yogyakarta. Kompleks yang beralamat di Jalan Sriwedari No.1 ini berdiri atas surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersamaan didirikannya pusat-pusat kebudayaan di seluruh provinsi di Indonesia. Didirikan tanggal 11 Maret 1977, tak lepas dari masukan para seniman dan cendekiawan yang ikut aktif dalam pemerhati kebudayaan Indonesia untuk mendirikan sebuah kompleks tempat untuk pengapresi dan pengembangan seni agar dapat dinikmati masyarakat umum baik nasional maupun internasional.
Kompleks dengan bangunan cagar budaya ini memiliki visi The Window of Yogyakarta atau Jendela Yogyakarta. Dari jendela inilah aroma budaya dapat terhirup, terhimpun dalam berbagai karya yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Dari jendela inilah angin segar dari berbagai budaya masuk dan menghembuskan berbagai wawasan, memperkaya pengetahuan dan pengalaman serta komunitas seni budaya di Yogyakarta. Disinilah rumah kreatif yang dapat dikembangkan sedemikian rupa, sumbangan para seniman dan masyarakat nasional maupun internasional. Untuk mewujudkan visi tersebut TBY mempunyai empat tugas pokok yaitu melaksanakan pengolahan dan pengembangan seni budaya, melaksanakan laboratorium dan eksperimentasi seni budaya, melaksanakan tata usaha dan rumah tangga dinas, dan memfasilitasi kegiatan seni budaya.
TBY mempunyai beberapa bangunan atau gedung penting yang digunakan untuk kegiatan mengenai seni dan kebudayaan. Antara lain Gedung Kesenian Sositet, Concert Hall, Ruang Pameran Seni Rupa, Ruang Seminar, Amphiteater, Pendhapa, Perpustakaan dan sebuah kantin mungil yang tak jarang penuh sesak oleh pengunjung.
Gedung Kesenian Sositet merupakan gedung cagar budaya, yang didirikan oleh Belanda, namun arsiteknya tidak diketahui. Gedung Kesenian Sositet mempunyai luas panggung 10 x 8 meter dilengkapi dengan lobi, ruang rias, AC, tata lampu dan tata suara. Dengan statusnya sebagai gedung buatan Belanda, gedung Sositet mempunyai mitos tersendiri. “Yang main teaternya kurang konsen, bisa kemasukan setan“ ujar Haryanto selaku petugas keamanan TBY (10/1). Walaupun hanya sekedar mitos, hal itu bisa dijadikan sebagai motivasi agar tetap konsentrasi dan serius dalam berlatih, tidak menyepelekan apa yang sedang dipelajari. Gedung Concert Hall terletak di lantai dua, berkapasitas 1200 penonton. Gedung ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti ruang rias, lobi, ruang stem alat musik, ruang VIP, tata lampu, tata suara dan AC sentral.
Karena letaknya yang strategis berada di sebelah Selatan Pasar Beringharjo, Utara Taman Pintar, dan Timur Benteng Vendenbrug, TBY menjadi padat pengunjung maupun para pelajar dan mahasiswa yang mengadakan sebagian aktivitas atau kegiatannya di TBY.
Tak hanya itu, pelatihan dan pengembangan seni juga diadakan baik dari pihak pengelola TBY atau dari lembaga / organisasi luar. Salah satu lembaga formal untuk pelatihan seni dan budaya adalah AFC atau Art For Children. “AFC biasanya dilaksanakan jum’at sore atau hari minggu pagi” ujar Dina, salah satu pegawai TBY (11/1). Pelatihan ini ditujukan khususnya bagi anak-anak pada jenjang TK-SMP agar memperoleh pengetahuan, pengenalan, dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap seni sebagai wujud dari pelestarian seni budaya Yogyakarta. Bidang-bidang AFC meliputi seni rupa, karawitan, seni tari, seni musik, vokal, sastra dan teater. Selain pelatihan, AFC juga mengajak anak untuk mengunjungi studio seniman, tempat pameran, dan lain-lain. Selain AFC, terdapat lembaga informal yang menyelenggarakan kursus atau pelatihan rutin sesuai izin pengelola TBY. “ Ada izin latihan dance, diluar jam kerja,” tambah Pak Adi selaku petugas pengadministrasi umum(10/1)
TBY mempunyai segudang kegiatan yang dilaksanakan secara periodik, dari bulanan hingga tahunan. “Kegiatan-kegiatannya bermacam-macam. Ada Festival Sendratari, Kethoprak, Maestro, Rekontruksi Seni Klasik, Duta Seni, Festival Teater, Pameran dan masih banyak lagi,” tambah Dina (11/1). Setiap kegiatan akan diinformasikan di papan pengumuman yang berada di samping Pendhapa dan akan didokumentasikan dalam bentuk buku agar pelestariannya tetap terjaga.
Keindahan dan kenyamanan berkunjung ke Taman Budaya Yogyakarta sering diwarnai dengan maraknya orang-orang tak dikenal yang tidur sembarangan di sepanjang halaman atau lantai gedung TBY. Petugas keamanan TBY pun segan untuk menanyakan perihal perbuatan orang-orang yang sering tidur sembarangan, dengan alasan sulitnya membedakan ciri fisik seorang seniman dan gelandangan. “Sulit misahin seniman atau gelandangan. Kan nggak enak kalau ternyata dia seniman,” komentar Adi, seorang pekerja di bidang pengadministrasian umum. Komentar berbeda diutarakan oleh Clara, pengunjung asal SMAN 1 Prambanan, “Ya ngotorin sih, mengganggu. Kan gedung seni budaya.” Keindahan, pengaturan sistem tata ruang dan nilai klasik Taman Budaya Yogyakarta memiliki nilai estetika tersendiri dari segi penampilan gedung yang menjadi salah satu cagar budaya, harus dijaga dan dirawat kerapihan dan kebersihannya sehingga nyaman dan berkesan baik bagi para pengunjung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar