Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
Twitter: @kpp_menulis | klik
___________________________________________________________
Taman Budaya Yogyakarta (TBY) adalah sebuah kompleks pengembangan
pelatihan seni budaya yang terdapat di Yogyakarta. Kompleks yang beralamat di
Jalan Sriwedari No.1 ini berdiri atas surat keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan bersamaan didirikannya pusat-pusat kebudayaan di seluruh provinsi di
Indonesia. Didirikan tanggal 11 Maret 1977, tak lepas dari masukan para seniman
dan cendekiawan yang ikut aktif dalam pemerhati kebudayaan Indonesia untuk
mendirikan sebuah kompleks tempat untuk pengapresi dan pengembangan seni agar
dapat dinikmati masyarakat umum baik nasional maupun internasional.
Kompleks dengan bangunan cagar budaya ini memiliki visi The Window of Yogyakarta atau Jendela
Yogyakarta. Dari jendela inilah aroma budaya dapat terhirup, terhimpun dalam
berbagai karya yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Dari jendela inilah
angin segar dari berbagai budaya masuk dan menghembuskan berbagai wawasan,
memperkaya pengetahuan dan pengalaman serta komunitas seni budaya di
Yogyakarta. Disinilah rumah kreatif yang dapat dikembangkan sedemikian rupa,
sumbangan para seniman dan masyarakat nasional maupun internasional. Untuk
mewujudkan visi tersebut TBY mempunyai empat tugas pokok yaitu melaksanakan
pengolahan dan pengembangan seni budaya, melaksanakan laboratorium dan
eksperimentasi seni budaya, melaksanakan tata usaha dan rumah tangga dinas, dan
memfasilitasi kegiatan seni budaya.
TBY mempunyai beberapa bangunan atau gedung penting yang digunakan untuk
kegiatan mengenai seni dan kebudayaan. Antara lain Gedung Kesenian Sositet,
Concert Hall, Ruang Pameran Seni Rupa, Ruang Seminar, Amphiteater, Pendhapa,
Perpustakaan dan sebuah kantin mungil yang tak jarang penuh sesak oleh
pengunjung.
Gedung Kesenian Sositet merupakan gedung cagar budaya, yang didirikan
oleh Belanda, namun arsiteknya tidak diketahui. Gedung Kesenian Sositet
mempunyai luas panggung 10 x 8 meter dilengkapi dengan lobi, ruang rias, AC,
tata lampu dan tata suara. Dengan
statusnya sebagai gedung buatan Belanda, gedung Sositet mempunyai mitos
tersendiri. “Yang main teaternya kurang konsen, bisa kemasukan setan“ ujar
Haryanto selaku petugas keamanan TBY (10/1). Walaupun hanya sekedar mitos, hal
itu bisa dijadikan sebagai motivasi agar tetap konsentrasi dan serius dalam
berlatih, tidak menyepelekan apa yang sedang dipelajari. Gedung Concert Hall
terletak di lantai dua, berkapasitas 1200 penonton. Gedung ini dilengkapi
dengan berbagai fasilitas seperti ruang rias, lobi, ruang stem alat musik,
ruang VIP, tata lampu, tata suara dan AC sentral.
Karena letaknya yang
strategis berada di sebelah Selatan Pasar Beringharjo, Utara Taman Pintar, dan
Timur Benteng Vendenbrug, TBY menjadi padat pengunjung maupun para pelajar dan
mahasiswa yang mengadakan sebagian aktivitas atau kegiatannya di TBY.
Tak hanya itu, pelatihan
dan pengembangan seni juga diadakan baik dari pihak pengelola TBY atau dari
lembaga / organisasi luar. Salah satu lembaga formal untuk pelatihan
seni dan budaya adalah AFC atau Art For Children. “AFC biasanya dilaksanakan
jum’at sore atau hari minggu pagi” ujar Dina, salah satu pegawai TBY (11/1).
Pelatihan ini ditujukan khususnya bagi anak-anak pada jenjang TK-SMP agar
memperoleh pengetahuan, pengenalan, dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap
seni sebagai wujud dari pelestarian seni budaya Yogyakarta. Bidang-bidang AFC
meliputi seni rupa, karawitan, seni tari, seni musik, vokal, sastra dan teater.
Selain pelatihan, AFC juga mengajak anak untuk mengunjungi studio seniman,
tempat pameran, dan lain-lain. Selain AFC, terdapat lembaga informal yang
menyelenggarakan kursus atau pelatihan rutin sesuai izin pengelola TBY. “ Ada
izin latihan dance, diluar jam kerja,” tambah Pak Adi selaku petugas
pengadministrasi umum(10/1)
TBY mempunyai segudang kegiatan yang dilaksanakan secara periodik, dari
bulanan hingga tahunan. “Kegiatan-kegiatannya bermacam-macam. Ada Festival
Sendratari, Kethoprak, Maestro, Rekontruksi Seni Klasik, Duta Seni, Festival
Teater, Pameran dan masih banyak lagi,” tambah Dina (11/1). Setiap kegiatan
akan diinformasikan di papan pengumuman yang berada di samping Pendhapa dan
akan didokumentasikan dalam bentuk buku agar pelestariannya tetap terjaga.
Keindahan dan kenyamanan berkunjung ke Taman Budaya Yogyakarta sering
diwarnai dengan maraknya orang-orang tak dikenal yang tidur sembarangan di
sepanjang halaman atau lantai gedung TBY. Petugas keamanan TBY pun segan untuk
menanyakan perihal perbuatan orang-orang yang sering tidur sembarangan, dengan
alasan sulitnya membedakan ciri fisik seorang seniman dan gelandangan. “Sulit
misahin seniman atau gelandangan. Kan nggak enak kalau ternyata dia seniman,”
komentar Adi, seorang pekerja di bidang pengadministrasian umum. Komentar berbeda
diutarakan oleh Clara, pengunjung asal SMAN 1 Prambanan, “Ya ngotorin sih,
mengganggu. Kan gedung seni budaya.” Keindahan, pengaturan sistem tata ruang
dan nilai klasik Taman Budaya Yogyakarta memiliki nilai estetika tersendiri
dari segi penampilan gedung yang menjadi salah satu cagar budaya, harus dijaga
dan dirawat kerapihan dan kebersihannya sehingga nyaman dan berkesan baik bagi
para pengunjung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar