Rabu, 19 Desember 2012

(tanpa judul)

Karya: Kartika Kusuma Ningrum , Hafida Diah Setyowati


Symphony cinta menderu kalbu
Melayangkan secarik lembar mengharu biru
Tak sampai anganku merajut pilu
Hanya rintihan rindu, itupun semu

Tak lagi raga jiwa menyatu
Merintih sukma parau

Pedih, memang
Hening
Jejak sunyi, kelam nan pekat
Namun janjiku, senja ini jiwaku takkan layu

Tetap kan bersemi dari senja kini hingga nanti sampai mati
Pancarkan indahnya zahra yang bermekaran dengan keayuan pesona kelembutan
Yang mampu membinasakan segala lara yang ada
Dan membawa nafas mengangkasa

Tiada lagi kudengar sambaran lara
Kugenggam janji jiwa, aku bisa!


puisi ini berawal dari coment2an status facebook yang dijadikan satu, membentuk sebuah puisi. Puisi ini berasal dari goresan pena saya dan dek Kartika Kusuma Ningrum, melaui Facebook secara tidak disengaja...

Cetar Membahana..


Pagi ini aku berangkat sekolah. Sebenarnya boleh berangkat ataupun nggak berangkat, soalnya kan sudah selesai ujian semesteran, jadi sekolah memberikan kebebasan untuk siswa. Beberapa yang berangkat sekolah itu karena untuk remidi atau ulangan susulan pada mapel yang nilainya masih dirasa kurang. Ada juga yang berangkat karena ngurus-ngurus event seperti Donor Darah TJRC, Diklat THA, Futsal dalam rangka Lustrum Teladan dan lain-lain.
Hari ini aku berangkat sekolah karena beberapa hal, antara lain untuk remidi ekonomi yang bab perpajakan dan kebijakan Fiskal, latihan nasyid, mendampingi tamu sekolah dari SMP swasta di kalimantan, pertemuan para danus, serta menuntaskan tugas bahasa Arab yang suruh mencari na’at dan man’ut dalam Al-Qur’an.
Sekitar jam 8 aku tiba di sekolah. Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan. Buka-buka buku, belajar ekonomi. Aku berharap semoga nilaiku ekonomi bisa tuntas, makanya aku mruput ke perpus buat belajar. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Nasthithi (temanku, sekretaris 1 OSIS BTB) nongol di depan meja perpus tempat aku belajar. Aku nanya:
“Ti, ntar kamu ikut presentasi buat tamu yang dari kalimantan kan?”
“Wah aku nggak bisa e Fid. Ada rapat sigma.” Seraya menyerahkan flashdisk berisi materi presentasi osis kepadaku.
Lhah… Aku mendadak jadi sedikit takut (semacam nggak siap gitu). Akrima dan Mala nggak ikut soalnya mau ke Smada buat forum FKPO. Sedangkan Marvi ada rapat pramuka, dan Ridwan tiba-tiba bannya bocor. Aduh..
Aku menyudahi belajarku, dan segera ke masjid. Ada Akrima rupanya. Mbak Aje, Mbak Tiwi, Mbak Victa, Gadis, Dini, Nimas dan Afifah juga ada. Biasa.., mereka bermain-main dengan laptop. Mungkin ada film yang bagus.
Fikiranku kacau. Memang aku ini orang yang termasuk jika ada masalah kecil dibuat seakan-akan rumit. Aku bingung mau ngapain. Ketemu Akrima buat mengadu kebingunganku, aku rasa sia-sia.
Aku hijrah ke lobi, tepatnya ke ruang guru, menemui Bu Umi untuk remidi Ekonomi. Wahh.. ternyata ditolak, guys. Beliau berkata bahwa tidak mau jika yang remidi hanya satu atau dua anak saja. Harusnya langsung massal. So, yasudah nggak jadi remidinya. Aku sedikit lega sih, tapi kecewa juga. Soalnya udah belajar.. Nelies aku sms bahwa remed dipending. Nelies nggak jadi ke sekolah.
Aku kembali ke masjid. Ku lihat, teman-teman belum pindah posisi. Masih beradu pandang dengan salah satu laptop mereka. Hmm.. dari tirai masjid akhwat, aku mengintip ke arah aula. Nampak ramai sekali. Ternyata siswa-siswi kelas sepuluh sedang ada acara penyuluhan mengenai Korupsi. Wahh… ada makanannya. Hmm.. isinya roti, pula. Enaknyaa…
Aku mendengar salah dua dari mereka menyanyi lagu “sempurna”. Sepertinya aku tau siapa yang menyanyikannya. Anak MPK, tapi aku lupa namanya. Suaranya bagus. Bagus banget. Vibra dan cengkok-cengkoknya pas dan sesuai irama. Sebagian yang akhwat (perempuan) ikut menyanyikan dengan melambai-lambaikan tangan keatas dengan riang gembira, hingga gemuruh suara –ramainya- terdengar hingga masjid bagian atas. Sedangkan yang ikhwan (laki-laki) kuintip hanya diam –berasa pah poh- sambil menikmati konsum yang disediakan dengan raut ekspresi yang flat. Sungguh datar, padahal yang nyanyi tuh akhwat, gek suaranya bagus. Aku ampek bingung, apa yaa, yang ada di fikiran mereka.
____
Tamu dari SMP Swasta di Kalimantan sudah tiba. Aku dan Dini menyegerakan diri untuk ke ruang multimedia. Tampaklah ada 52 atau 54 murid SMP kelas sembilan beserta 4 orang guru pendamping. Mereka datang jauh-jauh dari Kalimantan untuk menambah wawasan mengenai sekolah yang ada di Yogyakarta. Dan mereka memilih SMAN 1 Yogyakarta sebagai tujuan utamanya.
Setelah pihak tamu yang memberi sambutan, dilanjutkan dengan pihak sekolah. Ada Mr. Marmayadi, Bpk Basuki juga. Beliau menyampaikan berbagai hal mengenai SMAN 1 Yogyakarta. Beliau juga bercerita tentang awal dari program RSBI berlangsung, dan mengenai ujian Cambridge yang dilaksanakan di Teladan tiap tahunnya.
Setelah itu, giliran PH dan MPK yang presentasi. Awalnya Mr.Marmayadi memperkenalkan sebagian PH dan MPK. Dari MPK, yang maju adalah tiga orang ikhwan (laki-laki) kelas sepuluh. Yaitu dek Bismo dkk. Sedangkan yang dari PH ada saya dan dek Hani. Sebenarnya dek Azizap juga, tapi dek Azizap sedang keluar sebentar, saat itu. Setelah perkenalan, tiba-tiba dek Azizap masuk. Karena dek Aziz yang belum perkenalan sendiri, maka dek Aziz disuruh perkenalan sekalian yang mewakili presentasi osis.
Dek Aziz Azka Putra atau yang biasa disapa dengan Azizap adalah seorang yang sangat PD, menurutku. Kharisma dan wibawanya saat presentasi terlihat sekali. Pemikiran-pemikirannya luas dan terlihat menguasai materi saat presentasi. Berbeda denganku yang –kadang- merasa bahwa aku seharusnya tidak berada bersama mereka. Menurutku, mereka (PH dan MPK) anggota-anggotanya adalah orang-orang yang super sekali. Kecuali aku. Mungkin pula, aku bisa menjadi bagian dari mereka itu karena bejo, keberuntungan dari Allah. Sedangkan menurutku sendiri aku belum pantas karena aku belum melihat potensi apa yang ada pada diriku.
___
Selanjutnya, sekitar jam setengah dua belas. Ada pertemuan para danus. Aku dan Dini bersegera dari ruang multimedia menuju ruang 105 untuk menghadiri acara tsb.
Hujan yang lirih mendampingi langkah kami. Setiba di ruang 105, tepatnya di lantai bawah gedung induk dekat dengan uks, sudah ada banyak orang. Tentu kami telat. Pemberitahuannya, mulai jam 10. Ada dek Mail dan Utari yang berada di depan kelas.
Dek Mail juga anggota dari OSIS, menjabat sebagai SekBid 6 yang membawahi Danus, Kosuha, Obscura, dll. Sedangkan Utari sebagai koordinator sie danus.
Penjelasan demi penjelasan tersampaikan dengan jelas dan lugas oleh Utari. Memang temanku yang satu ini bagus dalam public speakingnya. Beliau kritis, profesional dalam bekerja.
Sedangkan saya? entah mengapa sering kali saya merasa sebagai orang yang lemot dalam berfikir. Saya merasa bahwa teman-teman memiliki kemampuan, skill atau potensi yang jauh lebih baik daripada saya. Entah mengapa saya sering merasa bahwa daya tangkap atau daya dong saya sangat sangat sangat lemah, sehingga sering ketika teman-teman sudah faham terhadap suatu hal, saya hanya mangut-mangut seolah mengerti (padahal sebenarnya sering ‘nggak conect’).
Saya sangat berharap bahwa suatu saat nanti saya bisa seperti mereka.. Bismillah, tetap berusaha…..

 Gerimis, pulang ke rumah tanpa mantol... :) 

Syahrini berkata: "Cetar Membahana..." LOL

Berdikari



Bismillahirrohmanirrohim. Cerpen ini aku persembahkan teruntuk sahabatku tercinta (SK), yang Allah pertemukan kami pada bangku SLTP, tepatnya di SMPN 6 Yogyakarta. Walaupun kini berbeda sekolah, semoga ukhwah tetap dalam genggaman sampai akhir hayat nanti.

Berdikari. 


Aku ingat saat-saat itu. Aku ingat celoteh dan guyonan garingnya. Damai terajut dalam kebahagaiaan bersama. Tawa canda, senantiasa merekah di bawah payung persahabatan. Kuingat, dari dulu kami selalu bersama. Jalan bersama, belajar bersama, duduk semeja bersama, sedih senang bersama, makan bersama, sholat Dhuha bersama, tertawa bersama, nginep bersama, nggibah bersama, nggak ngerjakan PR bersama, dan visi-misinya juga sama. Walau kadang kala ada perselisihan, itu adalah lumrah.
Dia, sebut saja Rizka. Rizka adalah sahabat sejatiku semenjak kelas 1 SMP. Seseorang yang penuh pendirian, jujur, punya prinsip dan berkarakter. Tinggi badannya melebihi rata-rata orang biasa. Tinggiku saja kira-kira hanya sedagunya. Wah, aku merasa kerdil di dekatnya. Tapi tak sekalipun ia menjelek-jelekkanku walau hanya sebuah guyonan. Walaupun kadang galak, tapi galaknya adalah tipe galak bermotivasi dan berkualitas tinggi. Kegalakannya bisa membuat seseorang yang bersalah menjadi sadar dan ternasihati, ya walaupun sedikit atos dan nylekit. Suaranya lembut, namun menggelegar dalam ruang kalbu para pendengar. Memang sahabatku ini termasuk makhluk yang sangat langka. Spesiesnya jarang sekali ditemukan. Aku tidak melihat ada teman-teman yang punya hati semulia dia. Dalam hal ini bukan berarti apapun, tapi mungkin saking kagumnya diriku terhadapnya. Dia selalu berusaha optimis dalam menjalani hiruk-pikuk kehidupan, tak kenal menyerah, selalu ber-positive thinking, disiplin tinggi, tapat janji, tapi sedikit lelet dan nggak cakcek. Cala berjalannya juga aneh, menurutku. Dulu waktu pertama aku bertemu dengannya, aku mbatin, “nih anak, jalannya lemot banget. Iuhh, kayak penyu mo ngelahirin”. Yah, maklumlah waktu itu aku memang sedikit mendes, juga belum kenal dengan pribadinya. Kata teman-teman dekatku, Rizka tu orangnya jujur dan polos banget. Ya, itu emang benar. Menurutku tak hanya itu, sosoknya yang berkarisma mencerminkan pribadinya yang cantik dari dalam hatinya. Inner beautiy, bahasa gaulnya. Temenku bilang, “Rizka orangnya care, baik, menghargai teman, dan kalau aku mau ngutang, dia pasti ndak pernah berkeberatan. Padahal dulu aku sering banget ngutang ama dia. Tapi saking baiknya tuh bocah polos, mau kubayar aja, belagak lupa”. Sungguh, sosoknya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin inipun tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya.
Aku ingat beberapa bulan lalu saat dia menjadi bendahara di kelasku. Sebagai orang yang tegas dan disiplin, dia aktif sekali dalam hal tagih-menagih iuran rutin kas kelas. Tak pernah sekalipun ia menunggu teman-teman datang ke mejanya untuk mbayar kas, karena dia tau belum ada kesadaran dari diri teman-teman untuk mbayar pajak kelas. Setiap hari Jum’at adalah jatah untuk mbayar pajak kelas alias uang kas.  Saat itulah dia mulai beraksi. Nagih sana-sini, nggak kenal lelah. Dia tahu kalau jadi bendahara adalah amanah yang besar. Makanya, dia tak bosan-bosannya mengingatkan, menagih, menegur, menceramahi teman-teman yang alot ditarik uang pajak, termasuk aku.
“Willy, mbayaarr!!!”
“Besok Ka, besok.
“Ndak boleh! Pokoknya harus sekarang. Kamu dah telat berminggu-minggu. Pokok’e kudu mbayar sekarang!”
“Besok, Ka. Tenan aku ndak bohong. Aku ndak disangoni sama bapakku.”
“Alah ngapusi we. Cepet mbayar!! Nek ndak mbayar tak  bilangin Bu Esti”
Deg! Mendengar kata ‘Bu Esti’, raut mukanya langsung berubah.
“Wah, jangan, Ka. Sampeyan ki cangkeman. Yowis, sekarang aku mbayar. Nih, adanya baru seribu doang.” Kata Willy si Ketua Kelas yang terkenal gondes, ngutangan, misuhan, suka nongkrong di angkringan, mbolosan, nyontekan, ndobosan dan  suka merokok sambil mengeluarkan selembar uang lecek dari dompet kulit warna coklatnya.
Bu Esti adalah guru yang sangat Aku dan Rizka sayangi. Beliau adalah sesosok guru gemuk, bulet seperti onde-onde, tidak terlalu tinggi, killer, dan selalu mbawa kipas –semacam kipas kondangan- tiap mengajar di kelas. Beliau terkenal galak, namun wibawanya luar biasa. Kami tahu bahwa dibalik sifatnya itu terdapat hati yang sangat bijaksana dan penuh penyayang. Beliau selalu membentak-bentak kami dengan kata-kata motivasi dengan semangat yang membara, semacam dengan sifat sahabatku, Rizka. Kata-katanya slalu merasuk kalbu bagi tiap orang yang mendengarnya. Semangat hidup menjadi berkobar menyala-nyala. Motivasinya tak kalah dengan motivasi dalam novel-novel best seller karangan Andrea Hirata. Tatapan matanya setajam halilintar yang menyambar tiap manusia. Hati menjadi tergugah, jiwa raga terketuk untuk melangkah, mengubah pandangan tiap siswa yang bersalah. Kata-kata Beliau bagaikan Bung Tomo yang berhasil mengobarkan semangat arek-arek surabaya untuk berani bertempur mengusir penjajah sampai titik darah penghabisan. Sungguh, motivasi Bliau sampai sekarang masih terngiang dan menjadi salah satu motivasi dalam hidupku. Mungkin itulah sebabnya Rizka sangat menyegani dan menghormati Bu Esti sebagai wali kelas kami. Entah karena kepercayaan kepada guru kami tercinta ini, kami pernah sampai curhat-curhat kepada Beliau mengenai masalah yang ada di kelas. Tentang masalah pertemanan, masalah anak-anak yang gondes dan mendes, masalah gank, masalah uang kas, masalah piket kelas, masalah kekompakan, masalah contek-mencontek, masalah cinta, dan lain-lain.
“Bu Guru, Rafli kok orangnya atos sama saya ya? Dan dia nggak bisa ramah sama saya. Atau mungkin saya yang ndak bisa akrab dan berbaur sama dia?”
“Emm,..” (Bu Guru terlihat berfikir sejenak).  “Kamu ndak perlu merasa gimana-gimana tentang itu. Karakter tiap orang itu berbeda-beda. Ada yang berkarakter lembut, atos, dan sebagainya itu sudah menjadi pribadinya. Kamu juga harus bisa menerima perbedaan-perbedaan itu. Tidak semua yang kita pandang buruk itu memang buruk, tetapi mungkin karena kita belum terlalu mengenal pribadinya. Mungkin saja dibalik sifatnya yang terkesan ketus dan cuek, namun orangnya sangat baik. Kita ndak boleh mandang orang dari satu sudut pandang aja. Setiap orang pasti berbeda. Itu pasti. Kamu pun berbeda. Tak akan ada yang sama denganmu. Saya juga berbeda. Demikian juga Rafli, dia juga berbeda. Dengan sangat adilnya, Allah memberikan kita berbagai hal yang membedakan diri kita dengan yang lain. Dengan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Tinggal gimana caranya kamu bisa memahami perbedaan itu.”
“Lha kalau perbedaan itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan gimana Bu?” tanyaku.
“Kita tidak boleh terlalu mengharap kepada seseorang. Kita tidak boleh mengharap dia lembut pada kita, sedangkan sifat atosnya itu memang asli sudah melekat dalam dirinya. Jika kita terus saja berharap pada manusia, kita akan merasa tersakiti apabila tidak mendapatkan yang diharapkan.”
“Bingung, Bu. Contohnya gimana, Bu Guru?”
“Contohnya adalah apabila kita sedang mencintai seseorang. Kita ndak perlu bertahun-tahun menunggu sampai dia membuka pintu hatinya pada kita. Kita ndak perlu berangan-angan hidup bersamanya bila kita tahu cinta kita bertepuk sebelah tangan. Kita ndak perlu bersedih hati, meratap, menangisi, mendesah diiringi lagu cinta sambil meneteskan kepedihan air mata karena terbayang-bayang tersakiti oleh dirinya. Manusia bukan tempat untuk berharap! Janganlah terlalu berlebihan dalam berharap pada manusia. Kita hanya diperbolehkan berharap kepada Allah! Jika kita terlalu berharap kepada manusia, apabila harapan tersebut tidak tercapai, kita akan terus merasa kecewa dan tersakiti. Coba aja kau fikirkan. Kau berlarut-larut dalam kesedihan memikirkan dan membayangkan seseorang yang kau cintai sejak lama, menantinya, dan terus saja berharap agar dia bisa ‘melihat’mu. Kau tidak tahu kan, apakah dia memikirkanmu kembali atau malah cuek bebek? Apa dia juga berlarut-larut memikirkanmu, seperti kau memikirkan dia tiap waktu? Bagaimana bila tidak? Bagaimana bila harapanmu malah bertolak belakang? Itulah alasannya kenapa jangan terlalu berharap kepada seseorang.  Untuk apa kau memikirkan orang, yang orang tersebut tak pernah memikirkanmu sama sekali? Untuk apa kau meratapi dan menagisi seseorang, sedangkan orang tersebut ndak pernah menangisimu? Bagaimana bila kau tahu itu? Apa ndak sakit hati?” kata Bu Esti dengan raut muka bijaksana, laksana bidadari turun dari langit, menebar benih-benih kedamaian dan kesejukan jiwa. Rautnya teduh, tak sedikitpun terlihat kerutan tilas kegalakannya kepada teman-teman gondes-mendes di kelasku.
Aku dan Rizka fokus dan mangut-mangut tanda mengerti terhadap ceramah dari Bu Guru. Ya, jawabannya cukup memuaskan untuk curhatan kami pada siang hari saat kelas 3 SMP di ruang perpustakaan sekolah dengan suguhan AC dan TVOne. Setelah itu, kami nonton berita di TVOne bersama-sama dengan damai dan bahagia, aman sentosa.
***
Tertunduk lemas diantara pemandangan riuh  teman-teman sekelas, di sebuah SMA favorit di Ibu Kota Jakarta. Ditengah pelajaran Sosiologi yang kuanggap membosankan, aku termenung. Mendung menghiasi wajahku tanda kesedihan dan kerinduan seorang teman sejati. Teman-teman sibuk dengan tawa canda mereka, menggosip sana-sini, foto-foto dengan gaya narsis alainya.
Aku mengamati mereka satu per satu.
 Aku mengamati Zana dan gerombolannya. Yah, mereka terlalu bureng (buru rengking). Aku nggak terlalu suka dengan orang-orang yang terlalu melulu menghabiskan masa-masa remaja mereka dengan buku tiap hari, pagi, siang, dan malam. Kehidupan nggak hanya untuk dunia aja, batinku. Besok kalau kita dewasa, kita akan kerja dan bermasyarakat. Tidak hanya nilai yang bisa membawa mereka sukses, tetapi juga pintar tidaknya mereka dalam bermasyarakat. Mengenai bagaimana hubungan sosial mereka dengan yang lain. Mereka terlalu over, terlalu mengejar-ngejar ranking, sehingga pertemanan diantara mereka tidak akrab, menjadi lenggang. Dan menurutku itu buruk. Aku ndak begitu srek sama mereka.
Berikutnya, aku mengamati gerombolannya Laura, yang terdiri dari 3 cewek mendes, menurutku. Gerombolan ini terdiri dari Laura, Poppy, dan Hira. Mereka tidak mementingkan pelajaran. Terlalu malas dan tidak profesional. Kerjanya hanya maen blackbarry aja sambil cari perhatian dengan membuat ulah-ulah aneh di kelas. Jika ada tugas kelas, mereka kerap kali mengabaikannya. Tapi walau begitu, mereka lumayan pinter.  Mereka sukanya shopping kesana sini, dan lebih mementingkan popularitas. Kuintip, ada bedak, sisir, dan parfum dalam laci mereka. Mereka seakan ingin diketahui oleh dunia, bahwa mereka itu ada, dan mereka eksis. Mereka cuek dengan yang selain kalangannya, termasuk denganku. Mungkin mereka tak menganggapku ada.  Aku terheran-heran, kok bisa ya, mereka kayak gitu? Mereka memang dari kalangan orang berada. Tapi gaya dan kelakuannya, membuatku jadi ilang feeling. Raut wajahnya juga nggak bersahabat. Terlihat glamor dan terkesan ingin menonjolkan diri. Lebai.
Giliran selanjutnya, kuamati kerumunan teman-teman yang tidak terlalu burank dan tidak menonjolkan diri layaknya Laura dan kawan-kawannya. Mereka lebih suka dengan belajar bareng, jajan bareng, jala-jalan bareng, dan hidup apa adanya. Mereka suka berfoto ria, namun tidak terlalu sering. Kebanyakan dari mereka berada di peringkat tengahan, sepertiku. Keakraban  mereka begitu melekat. Tawa canda senantiasa tercurahkan dalam kesehariannya. Kekompakan terlihat saat mereka mengerjakan tugas bersama. Tidak ada yang terlihat ingin bersaing layaknya teman-temanku yang aku klaim bureng. Aku lebih suka dengan teman-teman ini. Aku pun masuk dalam kelompoknya. Namun ada beberapa hal yang tidak aku sukai dari mereka. Ya, biasanya dalam kerja kelompok, mereka lebih suka menggosip daripada belajar. Lebih suka guyon yang berlebihan. Menurutku, mereka melakukan hal-hal yang biasa-biasa saja. Kurang tegas dan penurut dalam situasi dan kondisi. Tak ada motivasi dan hal positif yang aku dapat dari mereka. Hidupku terasa datar-datar saja. Tak ada teguran, bila aku melakukan kesalahan, ataupun hal memalukan. Mungki malah ditertawakan. Tapi aku tahu, mereka hanya bercanda. Aku tahu itu.
Lama aku terdiam. Menatap tetes hujan dibalik tirai jendela. Kulihat, rintik-rintiknya begitu indah saat tersangkut di dedaunan. Teksturnya berbentuk bulatan kecil, bening, dan tampak anggun. Rintik-rintik itu seakan bercengkrama dengan teman-temannya. Damai terajut penuh kebersamaan. Rintik-rintik itu mengusik masa laluku. Mengingatkanku pada seseorang yang kini tak ada di sampingku. Sendiri. Aku memang sengaja memojokkan diri di kursi siswa paling pojok-belakang untuk berfikir dan merenung. Mengamati setiap gerak dan langkah teman-teman. Menelaah makna dibalik senandung kehidupan. Berangan-angan, sambil memutar memori masalalu. Memang sulit untuk menemukan sesosok teman sejati seperti dia. Rizka. Dia berbeda. Sulit sekali aku menemukan sesosok teman sebegitu mulia seperti dia. Parasnya yang lugu tak ada yang menyamai. Suasana hatinya yang menyejukkan dan tatapan khas matanya yang istimewa tak tertandingi. Berbeda. Dia mempunyai wawasan hidup yang sangat besar. Selalu menemaniku dengan petuah-petuah dan pembaharuan baru. Fikirannya selalu sejalan dengan apa yang aku fikirkan. Mempunyai segudang impian dan harapan, punya bekal niat dan tekat untuk mewujudkannya. Pola hidupnya sederhana, tapi pola fikirnya mendunia. Hatinya sungguh mulia, membuatku terkesima ingin mencontoh tingkah lakunya. Mengajarkanku pada hal-hal berbau positif, mengajakku membaca novel-novel bernuansa motivatif, juga menceramahi untuk tidak berperilaku konsumtif. Ku sadar, saat itu. Dialah teman sejatiku. Teman yang mengingatkanku bila aku salah, teman yang selalu menyemangatiku ketika tertimpa masalah, teman yang setia bersamaku ketika hatiku gundah, teman sebagai penyejuk saat aku berkeluh kesah, teman yang melindungiku dari salahnya langkah, teman sebagai motivasi kala semangat sedang patah, teman pemberi petuah hidup yang menggugah. Sungguh, betapa aku merindukan sosoknya. Kenapa jarang sekali ada sosok seperti dia. Bahkan di sekolah baruku ini, aku belum menemukan sahabat yang benar-benar bisa mengertiku seperti Rizka.
Andai saja saat ini aku sedang bersamanya, mungkin aku tidak akan merasa kesepian. Mungkin kami akan bertukar cerita kembali tentang para ilmuwan besar seperti dulu saat kami duduk di bangku SMP. Kami akan saling bercerita mengenai mimpi dan angan kami kelak kalau sudah dewasa. Kami bercerita tentang rendahnya kualitas SDM Indonesia yang tidak bisa memanfaatkan SDA seoptimal mungkin, sehingga kekayaan alam pindah ke tangan negara asing. Kami juga bercerita tentang sistem pemerintahan di Indonesia yang amburadul. Kami bercerita tentang Istri-istri Soekarno, Kepemimpinan Soeharto, Perjuangan BJ Habibie, Albert Einsten yang pernah membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Aku benar-benar merasakan hidup yang penuh warna saat bersamanya. Aku merasakan mimpi dan anganku begitu nyata, saat itu. Tapi itu dulu. Dulu ketika aku masih SMP, saat sedang bersamanya. Kini ternyata telah berbeda. Dia sudah tidak bersamaku lagi. Nem UAN memisahkan kami berdua. Kini dia berada di SMA 103 yang ada di Jakarta. Kami sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Kadang kerinduan hanya bisa terbalas dengan saling menelpon, tanpa langsung bertatap muka.
“Teeeeeettttttt Teeeeeetttt”
 Bel mulai berbunyi, mengagetkanku yang sedang bermesraan dengan masa laluku. Aku meringkas lamunanku. Kini kami telah berbeda. Kami menempuh jalan hidup masing-masing. Aku tidak boleh terus-menerus bergantung pada dirinya. Aku harus bisa menghargai perbedaan. Aku harus sadar, inilah duniaku. Aku yakin bahwa aku bisa merajut impianku dengan tanganku sendiri. Aku tak perlu bersedih kembali. Masa depan ada di depan mata. Tinggal gimana kita dalam menyikapinya. Aku akan bergerak. Aku akan berusaha terbang menembus pintu dunia, membuka cakrawala. Aku yakin aku bisa.

Sahabat, kaulah penyemangatku. Kau buatkan aku rumah baru dengan bekal semangat, dorongan, dan motivasimu. Kau berikan penyangga yang tegap, atap yang kokoh sebagai pendongkrak semangat dalam hidupku.  Tapi aku tahu, aku menyadari. Rumah baruku ini harus aku sendiri yang mengisi. Aku tak boleh memintamu kembali untuk memasangkan lampu sebagai penerang di rumahku. Aku harus menyalakannya sendiri. Aku harus menyinari rumahku dengan keringatku sendiri. Aku tidak boleh terus-terusan bergantung dan bersandar di bahu orang lain. BERDIKARI. Berdiri diatas kaki sendiri. Itulah sebuah pesan sarat makna dari Bung Karno. Terimakasih, kawan. Aku akan buat rumahku senyaman mungkin. Penuh dengan angan dan impianku, serta kenangan kita bersama. Akan kujaga rumah itu, demi persahabatan kita bersama. Semoga ikatan persahabatan kita senantiasa abadi sampai akhir hayat nanti.
***

Senin, 17 Desember 2012

lustrum Tld, hampir lupaa -____-

Dear WhiteSun,

Kemarin hari minggu pagi, aku merencanakan untuk jalan-jalan ke sunmor (sunday morning) di UGM. Setelah aku merencanakan acara tersebut dengan matang-matang dan dengan hati penuh nuansa kegirangan, ternyataaa............

Drrrtt... Drrrtttt... -apaan tuh?- ternyata hpku bergetar. Oh tidaaaaaakkkk.... Sms menyapa..

Kubaca, oh dari Netta temenku IPA8.

"Fid, kamu dimana?''

aku mbales smsnya: "dirumah, Nett. Emang ada apa?"

Kurang dari semenit, sms dari Netta nongol lagi. "kamu nggak ke UMY fid"

(aku lupa mbales apa) tapi kayaknya aku mbales gini: " nggak. loh emang ada apaa?"

ternyata oh ternyata...

ADA LUSTRUM TELADAN 55!!! aku sih nggak kaget. biasa aja hahaaa...

beberapa detik kemudian ada sms dari seorang penceramah, jubirnya ipa8. Namanya Ulfah.

Drrrttt... drrtttt... hapeku getar lagi...

Keluarlah aungan dari sang penakluk jiwa yang hampa, seorang putri dari istana ipa8 yang terkenal dengan julukan "kelas Cambridge", menggugah nuraniku untuk segera mandi dan langsung tergugah untuk pergi ke UMY, menyemarakkan LUSTRUM TELADAN 55..

"Fid, kamu tuh IKAP. harusnya kamu ngajarin adek-adekmu buat cinta Teladan dong. bla bla bla blaaa...... "

Smsnya panjang lebar.(aku lupa terusannya. udah dihapus smsnya -,- )

Jleb Jleb Jleb.

Kalau udah menyangkut-pautkan IKAP, aku dah nggak bisa berkutik lagi. Ya jelas malulah, kalau ntar adek ikap ada yang tahu..Aku nggak mau jadi mbak ikap yang buruk, yang nggak bisa dijadiin contoh buat adek-adekknya.

Serentak. Aku mandi. Ganti baju seragam, serapih mungkin. Semangat kembali membara! Semangat, kubisikkan pada diriku sendiri. Hmm.... untung ada ulfah dan temen2 ipa8 yang mengingatkanku.


Tapi oh Tapiii, sebenarnya aku nggak mau ikut ke UMY buat upacara pembukaan itu karena jas almamaterku hilang.

Sebelumnya waktu malem sebelum hari H, aku ketemu Fira (sahabatku -mungkin- gejenya semacamku) di masjid Syuhada'. Teyus kami pun sepakat buat nggak ikut LUSTRUM karena nggak punya jas alma :( so, ya gituu....

Kami (aku sama fira) tiba di UMY sekitar jam 9.30an. Ahhhhhh...... Ketika pertama masuk gerbang sportorium UMY, aku melihat banyak anak teladan yang menggunakan pakaian panitia, sebagian yang lain menggunakan seragam.

Aku melihat anak-anak kelas 1 lagi berprofesi jadi tukang parkir...

Saat mau memparkirkan motor, aku lihat Marvi (ketua osis di sekolahku). Marvi langsung ngomong (agak keras -,- ):

"Wooohh... Lagi berangkat to Fid....."

ahhh.... syid.... aku iniii semacam orang yang tidak ada rasa cinta sama SMA N 1. Padahal kawann, bukan itu niatanku.. hikss T.T

mukaku waktu ituuu... berasa pengen tak balang sepatuuu.. terbesit, "nggak malu o?..''

yaudah lah,, buat lucu-lucuan ajaaa....


Di UMY, tiap sinom mendirikan stand masing2 buat cari dana event mereka. Contohnya, anak TJRC jualan Pop ice, ank sigma jualan gantungan kunci stiker makanan dll, anak TSC jualan minum jugaa sambil (tersirat) promosi exacta gituu.. anak Np juga pada jualann....

hmm... aku sama Fira jalan-jalan mulu kayak orang ilang. Luntang lantung nggak tau tujuan.

Dan akhirnya.. duduk di suatu pohon yang rindang -semacam shidarta yang duduk di bawah pohon bodhisatwa-. Melihat tonti dari sekolah2 lain...



Hmm... it's fun :D




Sabtu, 15 Desember 2012

Belajar nyambi berwirausaha :D


Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh..
Temans, ketika penulis mulai googling tentang hal 'berwirausaha', penulis dapet suatu artikel menarik nih buat bacaan dan nambah-nambah pengetahuan. 
Dibaca yuks...      

Saat ini banyak orang terpikir untuk memulai usaha sendiri. Tak aneh memang, di saat lapangan kerja yang makin sulit, atau kalaupun telah bekerja namun penghasilan masih belum mencukupi kehidupan sehari-hari. Atau kalaupun sudah mencukupi, tapi waktu untuk keluarga justru tak ada. Maka, memulai usaha sendiri menjadi pilihan untuk mengubah kondisi itu.
Akan tetapi masih banyak juga yang tak kunjung mau ACTION memulai wirausaha. Mengapa? Konon, ada banyak hambatannya. Yang bila kita tanya pada orang yang belum memulainya, banyaknya hambatan tersebut bisa dari A sampai Z.
Ok… saya paham, tiap orang itu unik. Tiap orang punya kondisinya masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Namun, secara umum, orang yang tak kunjung mencoba wirausaha, biasanya alasannya karena di bawah ini.
  1. Modal. Sering orang yang berniat memulai usaha, modal menjadi kambing hitam. Modal di sini diidentikkan dengan uang. Karena tak memiliki modal uang yang mencukupi, maka tak kunjung mulai usaha.
    Ya, saya tahu modal uang itu penting. Tapi ada banyak modal lain yang saya kira juga tak kalah penting seperti jaringan atau bahkan diri anda sendiri. Kejujuran, ketekunan dan sikap pantang menyerah yang anda miliki adalah modal besar untuk sukses berwirausaha.
    Banyak cerita juga bagaimana banyak wirausahawan sukses lahir bukan karena berlimpah-ruahnya modal uang, tapi modal sosial atau modal yang ada dalam dirinya.
    Kalau yang mau memulai usaha online, bisa dicoba bisnis afiliasi, seperti afiliasi Mr Action Club dan Aset Virtual contohnya. Ini usaha yang tanpa modal uang. Tinggal promosi dan hasilkan komisi.
  2. Tak tahu bagaimana cara memulai usaha. Anda tak tahu bagaimana cara memulainya, sehingga tak kunjung mulai usaha. Kalau yang ini, mau tak mau anda harus belajar.
    Belajar tak harus seperti orang yang sekolah datang ke ruang kelas, tapi anda bisa diskusi atau ngobrol dengan orang yang telah mulai usaha. Anda serap ilmunya dan tinggal praktekkan.
Dan mungkin banyak lagi hambatan lainnya…
Tapi semua itu, menurut saya, akar masalahnya  terletak pada mindset. Bagi yang belum terbentuk mindset bisnisnya, mungkin terasa tak mudah untuk memulainya.
Kalau yang sebelumnya sudah punya penghasilan tetap, tiba-tiba terbayang harus beralih ke kondisi yang tak pasti. Tak jelas berapa penghasilan yang diperoleh bulan depan, belum jelas bagaimana usaha yang akan dicobanya nanti, dst.
Ketakutan dan kekhawatiran semacam itu mampu menahan mereka untuk tidak kunjung ACTION memulai usaha sendiri.
So, bagaimana?
Asah mindset bisnis anda. Bergaul dengan orang-orang yang berwirausaha bisa membantu mengasah mindset bisnis anda. Bukan saja anda belajar cara teknisnya, tapi juga belajar dari suka-duka yang mereka lalui sebagai wirausahawan.
Langkah lain yang “relatif aman” adalah dengan memulainya sebagai bisnis sampingan. Tanpa melepaskan pekerjaan saat ini, sambil mulai mencoba buka usaha sendiri. Dengan demikian, diharapkan mindset bisnis perlahan semakin teruji.
Sebab wirausaha itu butuh praktek, butuh ACTION!
Kalau anda belum juga mulai usaha, ada baiknya anda lihat ke dalam diri anda sendiri. Ada apakah dengan diri anda?
Menurut saya, seorang wirausahawan itu punya ciri atau karakter yang terangkum dalam kata ACTION.

A = ACTION

Action atau tindakan adalah karakter wirausaha. Menjadi wirausaha berarti mau mengambil inisiatif, mau melakukan ACTION, mau mengambil tindakan untuk mengambil peluang yang ada. Wirausahawan bukan sosok yang mudah berdiam diri. Mereka mengutamakan tindakan dalam kesehariannya.

C= CREATIVE

Wirausahawan itu sosok kreatif. Mereka mampu menciptakan/mengembangkan sesuatu yang mungkin sebelumnya dianggap biasa atau bahkan mustahil oleh banyak orang. Kreativitas tersebut membuatnya berhasil membuat nilai tambah dalam apapun yang digelutinya. Masalah mampu diubahnya menjadi peluang.
Mereka juga kreatif untuk menghadapi tantangan usaha yang dihadapi. Tantangan yang kian besar justru memompa semangatnya untuk lebih kreatif dalam menghadapi tantangan usaha.

T= TRUST

Wirausahawan memegang trust sebagai prinsip hidupnya. Dalam pengertian ke luar diri, trust berarti tekad untuk memegang kepercayaan konsumen. Mereka sadar, kepercayaan adalah modal utama dalam bisnis.
Ke dalam diri, trust berarti percaya pada dirinya, pada apa yang di-ACTION-kannya. Wirausahawan punya rasa percaya diri untuk melakukan ACTION.

I = INDEPENDENT

Independent atau kemandirian menjadi jiwa wirausahawan. Mereka ingin bebas, ingin mengatur hidupnya sesuai yang dia mau. Wirausaha mandiri ingin bekerja untuk dirinya sendiri. Mereka mau mewujudkan impian-impiannya lewat usaha mandirinya itu.
Kemandirian tersebut juga membuatnya sadar akan resiko yang mungkin terjadi, dan dia siap menanggungnya sebab telah memilih jalan wirausaha.

O= OPPORTUNITY

Opportunity atau kejelian melihat peluang/kesempatan adalah ciri wirausahawan. Dimana-mana dia temukan ide ide bisnis yang bisa menjadi peluang bisnis baru.
Kejeliannya melihat peluang tersebut bukan saja menghasilkan uang bagi dirinya sendiri, tapi banyak orang lainnya.

N = NO QUIT

Wirausahawan sejati tak pernah menyerah. Mereka tak pernah berhenti ACTION. Kegagalan tak pernah dianggapnya sebagai kegagalan. Setiap kali jatuh, dengan cepat mereka bangkit dan ACTION lagi. Mereka percaya kesuksesan itu pasti akan datang.
Kesuksesan itu tak datang tiba-tiba. Tapi melalui proses penuh keringat. Dan semuanya itu akan terbayar lunas saat menjadi wirausaha sukses.
Sempat beberapa waktu lalu dalam diskusi dengan Pak Imanuel Ginting dalam komentar di postingan Siapkah Menghasilkan Uang dari Internet secara Full Time?saya katakan…
“Saat melihat seseorang yang sudah sukses, pelajari juga proses jatuh bangunnya. Sebab itu akan mengasah mental entrepreneur kita.”
Mari ACTION! Jangan tunda lagi. Setiap detik yang ditunda untuk memulai sesuatu, berarti anda sendiri yang menundanya untuk lekas terwujud.
Salam ACTION!
so, teman... walaupun kita masih duduk dibangku SMA, kita tetap bisa belajar, berorganisasi, dan berwirausaha asal punya tekat dan kemauan. Tumbuhkan jiwa kemandirian dgn berwirausaha, sehingga juga bisa untuk melatih dan memanajemen diri, pengalaman buat masa depan. It's simple, right? 
Selalu ada matahari terbit setelah matahari terbenam -Teladan Science Club-
Satu kunci: Pantang Menyerah!!! :D :D :D :D :D

Minggu, 09 Desember 2012

Desember, Semangat :D

Desember. Ini tahun 2012. Alhamdulillah, hampil tak terasa, begitu singkatnya waktu menemaniku berjalan-berlarian diusia remajaku kini. Hmm... bulan di akhir tahun, seharusnya bisa dibuat untuk bermuhasabah pada diri kita selama satu tahun ini. mengidentifikasi apa saja kekurangan-kekurangan, kendala, kritikan dan sejenisnya, dirangkum dalam sebuah buku dan jadikan sebagai pembanding buat tahun depan agar jadi lebih baik lagi.

Desember. Bulan lahirku. Besok pada tanggal 11, usiaku genap 17 tahun. Itu artinya aku memang bukan anak kecil lagi. Mencoba untuk bersikap dewasa, bijaksana dalam bertindak dan mengambil keputusan. Masa-masa ini seharusnya kita jadikan sebagai ajang menuntut ilmu sebanyak mungkin, mengingat semakin mudahnya akses untuk menimba ilmu dari berbagai sumber. Tapi juga harus bisa memilah-milah mana ilmu yang benarr dan mana yang salah..

Nah, kan UAS dah selesai. Penulis jadi sedikit leluasa untuk berselancar di dunia maya (entah mau ngapain -.-) karena dah nggak ada tugas-tugas dari bapak ibuk guruu. Yeee... jadi bisa merasakan remaja yang tanpa beban.. Alhamdulillah diberi waktu buat santai sejenak, bisa digunakan untuk menambah wawasan tentang pemerintahan dan kasus-kasus korupt serta panasnya pertikaian politik di Indonesia (baca: nonton berita di TVOne), bisa berinteraksi dan menjaga ukhwah sama temen2 SMA maupun SMP (baca: facebookan dan twitteran), berburu ilmu agama (ngikut2 kalau ada kajian), berorganisasi, refreshing dan lain-lain..

Waduuuhh... nilai raporku besok gimana yaa? oh iyaa.. aku jadi inget. aku kan belum ngumpulin raport. Astagfirullah lupa terus. Entah kenapa penyakit lupaanku ini sering banget kambuhnya. gara2 ini, banyak barang2ku yang pada ketlingsut. Alhasil, apesnya jadi sering kena marah ortu.  

Kalau nilai raporku jelek gimana yaa? Tuiinngg... Orang Tua! Itu yang pertama. Sebenarnya kalau aku dimarahpun nggak masalah. tapi, yang aku nggak mau itu mengecewakan orang tua. Sejujurnya merekalah motivasi terbesar aku buat belajar. 

Memang karena aku dari kalangan keluarga yang biasa-sederhana, maka aku sangat sangat sangat ingin kelak bisa sukses (dunia dan akhirat) agar bisa melihat kedua orang tuaku menumpahkan air mata kebahagiaan dan senyuman dengan melihat anak2nya berhasil. Berusaha keras! ayo lawan rasa malas yang terkadang menyelimuti tubuhku. 

hmm.. ketika rasa malas itu datang, ku buka qur'an warna pink-ku. ku buka pada halaman paling awal (berisi beraneka ragam kertas kertas atau foto penting dalam hidupku). Ku buka foto itu (fotoku bersama dengan ibu). Teringat beliau, aku teringat betapa kerasnya perjuangan dan jerih payah beliau demi kesuksesan anak-anaknya. Aku teringat ketika beliau bekerja mencari uang kesana-sini dengan satu tujuan, Keluarga. tak lebih dari itu. demikian juga bapak. Sesaat, foto itu kurenungi, kucium, lalu hampir tertetes air mataku. Semangat membara untuk belajar muncul lagi. Rasa malas itu kemudian pergi. Inilah motivasiku. Ibu. Aku sangat menyayanginya. 

Bismillah, aku ingin sekali bisa diterima di Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ekonomi Bisnis, Jurusan Manajemen. Itu pilihanku, selebihnya ada di tangan Allah. Dia yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku di kemudian hari. 

Doa, Ikhtiar, Tawakal..


SEMANGAT
Semoga raporku semester ini  bagusss...
Amiiiinn

Jumat, 30 November 2012

Curhatan Lama

Assalamualaikum wr wb :) 

pada kesempatan kali ini penulis akan menuangkan sebuah kisah, eh buka kisah ding. Sebuah curhatan yang sudah lama penulis tulis di buku curhat harian (karena bingung blognya mau dikasih tulisan apa -,-) tentang seputar GVT (Gladhi Vidya Teladan). Tapi kali ini adalah masa GVTnya angkatan 2015 (adek kelasku). Menurutku sangat sesuatu sekali, karena esensi dan sensasi GVT yang begitu "wahh"..

curhatan dari buku diary (dengan berbagai pengeditan :o )

Senin, 3 Sept 2012

Hari ini adalah hari yang sangat sangat membuatku bahagia. Itu karena hari ini adalah H1 GVT 2012. Aku telah mempersiapkannya sebaik mungkin, semampu yang aku bisa. Sebagai panitia GVT  yang mendapat amanah sebagai sie IKAP (Interaksi Kepribadian dan Akhlak Personal), aku ditugaskan untuk mengajarkan materi mengenai keteladanan (lambang Teladan, sejarah Teladan, Prasetya Teladan, dll) pada  tujuh adek ikap-ku yang sedang di GVT. 

Ketujuh berlian cantik yang kelak akan memancarkan kilaunya itu adalah:
  1. Mutiara Nur Aisyah
  2. Annisa Rachmawati
  3. Barid Nur Isna Harnin
  4. Ainun Nafilatur Rusyda
  5. Yusri Ilza Sania
  6. Kartika Kusumaningrum
  7. Fitri Dwi Wijayanti
Aku berangkat sesuai peraturan yang ditetapkan (jam 6 harus udah ada di Teladan). Kukenakan atribut GVT yang telah kusetrika dan kulempit secara rapih tadi malam. Kulangkahkan kakiku ke gerbang Teladan untuk menjalankan amanah ini demi kebaikan adek2 2015.

Pagi itu adalah pagi pertama pada forum IKAP. Ketujuh berlian adek ikapku, satu diantaranya ada yang diklaim oleh pancar sebagai seorang Trouble Maker. haha itu sih nggak masalah. Malah itu mbuat motivasiku untuk mengajarkan sebaik mungkin, biar kami (penulis dan ketujuh berlian) menjadi lebih baik lagi. hmm.. ternyata oh ternyata, berlianku yang diklaim sebagai adek TM tadi malah jadi salah satu adek yang paling antusias dan tertarik dengan penjelasan2 yang aku sampaikan di forum IKAP. 

Ketika menjadi panitia GVT, harus bisa merelakan waktu KBM untuk mengoreksi tugas-tugas adek2 2015. Karena tiada waktu yang efektif, maka satu-satunya alternatif adalah menggunakan jam KBM (kegiatan belajar mengajar) pada jam ke-1 sampai jam ke-5. Akibatnya pelajaran banyak yang tercecer. 

Saat mengoreksi, ternyata adek2 angkatan 2015 kompak melakukan suatu kesalahan dalam pengerjaannya. Kesalahan ini dilakukan serempak, tidak ada seorangpun yang benar. Kesalahan itu adalah kertas yang digunakan untuk menuliska Prasetya Teladan menggunakan kertas folio bergaris. Padahal instruksinya adalah menggunakan kertas folio (nggak bergaris). Kesalahan lainnya adalah ukuran2 panjang dan lebar "sabuk sakti" masih salah. Tapi walaupun mereka melakukan banyak kesalahan, kami (panitia) tetap menghargai hasil kerja keras dan usaha adek2 angkatan 2015, walaupun nanti tetap ada konsekuensi (BL)nya heheee.

Pada jam ke-6, aku keluar kelas untuk ganti pakaian seragam GVT yang berwarna biru, warna kebanggaanku. Kurapihkan jilbabku, kukenakan topi sambil berkaca dalam sebuah kamar mandi di dekat ukas sekolah. Setelah selesai, aku kembali ke basecamp bersama teman2 sie IKAP yang lain. 

PRIIIIIIITTT PRIIIIIIITTTTTT PRIIIIIIITTT..

Suara peluit, khas. Tanda GVT dimulai. Aku keluar dari basecamp bersama teman2 panitia untuk menjadi patis (pagar betis). 

Pada saat aku melihat adek2 angkatan 2015 pada berlarian dengan gemuruh salam, mereka menyapa: "Assalamualaikum, Mbak".. suasana ini... aku jadi teringat kala aku di GVT satu tahun lalu. Dengan peluh, fikiran yang terisi penuh oleh tugas-tugas, kondisi badan yang sangat capek, adek2 2015 tetap menghadapinya dengan semangat, senyum, bahkan menyapa. Inilah satu hal kecil yang Teladan ajarkan kepada kita, diawal kita menginjakkan kaki di Bumi Teladan tercinta ini. Aku membalas sapaan itu dengan rasa senang bahagia terhadap apa yang mereka lakukan.. Subhanallah...

Singkat cerita, sebelum adzan ashar, forum IKAP yang kedua hampir dimulai. Kulangkahkan kakiku dengan cepat ke spot ikap, yaitu di ruang 303. Aku duduk bersila, sambil menunggu ketujuh berlian itu datang. Tampak, satu per satu berdatangan. Wawawaaaaaaaa aku seneeeeeng buanget nglihat mereka tetap bersemangat. Mereka memperhatikan materi yang aku sampaikan walaupun sudah sangat capek. I see it :) :) :)

Aku menjelaskan materi lambang Teladan, yang terdiri dari bangunan-bangunan berupa Tugu, Cakra, Padma, dan ditopang oleh tulisan Teladan yang berwarna kuning. Sesi ini aku ingin menerangkan secara benar-benar jelas sehingga mereka mengerti benar filosofi dari lambang Teladan (tidak hanya sebagai formalitas). Aku selipkan pertanyaan2 yang membuat mereka berfikir kritis, dan antusias. Dan, alhamdulillah berhasil. Sebagian besar berlian itu aktif2 (banyak nanya, njawab pertanyaan2ku, komentar ini itu, dll). Tapi juga ada dua berlian yang belum aktif, tapi sudah tertarik dan memperhatikan dengan seksama.

Yoaa. IKAP merupakan sie yang aku idam2kan sejak dulu ketika kelas 1 SMA. Berinteraksi dengan berlian2 itu, mengenal mereka lebih dalam, mengajarkan kebaikan kepada mereka membuat hati terasa senang, puas dan lega. Aku bangga bisa mengajarkan mereka, membuat mereka mengerti dan faham terhadap lambang Teladan.

-hmm, di lanjut nanti ya, penulis mau istirahat dulu heheee-

Selasa, 27 November 2012

opo jal -_-

Assalamualaikum wr wb..

Lama jemari ini tak ku gerakkan untuk melukiskan kisah-kisah suka cita ku di whitesun-ku tercinta ini.

Hmm, ide-ideku jadi kering karena sekian lamanya tak terasah. 

Aku bingung. di kelas dua ini harusnya aku bisa menjadi semakin baik. tapi aku merasa nggak ada progress. kalaupun ada, mungkin nggak sebanyak target yang aku inginkan. 

Di sebelas ips, aku mulai ketinggalan pelajaran, khususnya mapel ips. mungkin aku sendiri yang terlalu menyepelekan. Awalnya aku meremehkan pelajaran-pelajaran tersebut dengan berfikiran bahwa pelajaraan2 itu bisa diselesaikan dengan metode SKS (Sisterm Kebut Semalam). Wah tapi akhirnyaa.... Jedeeerrr! Nilai ulanganku remuk! 

Ya ini aku rahasiakan dari orang tuaku. Padahal sejatinya mereka telah mempercayakan sekolah pada diriku sendiri dengan anggapan bahwa aku sering pulang malem, sibuk dll karena belajar.

Masyaallah.. terkadang aku merasa memanfaatkan kepercayaan yang mereka berikan padaku. Terkadang pula, aku bersikap acuh saat sang guru menerangkan di kelas. Tapi tidak selalu. Hanya pelajaran2 tertentu yang aku -terkadang- aku anggap remeh.

Mungkin, jika aku mementaskan sebuah perfilman drama, aku akn menjadi sosok orang yang mempunyai perangai antagonis. dari luarnya saja banyak yang mengira baik dan sebagainya. Padahal aslinya adalah seorang yang parah. parah dalam berbagai hal. 

Sebenarnya aku bersekolah di SMAN 1 Yogyakarta, merasa tidak pantas untuk bersanding dan berteman dengan teman-temanku. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang pemikiran2nya dewasa, rasa sosialnya tinggi dan berwawasan luas. 

Sedangkan aku, masih bersifat kekanak-kanakan, terkadang masih memintingkan diri sendiri, kurang berwawasan sehingga kalau sedang diskusi, presentasi atau apa semacamnya berasa kurang bahan argumen. 

Tapi sebenarnya mereka tuh sumber motivasiku. 

-pelajaran geografi usai, nunggu bel pulang sekolah-

end

Senin, 26 November 2012

Dari Pelajar Jogja, untuk Palestina

Assalamu'alaikum.

Kamu pelajar Jogja yang ngaku peduli Palestina?

Hadiri acara penggalangan dana Palestina "Dari Pelajar Jogja, untuk Palestina" bersama Bp. Imam A. dari ACT (mantan ketua tim ke Gaza, Syiria, gerakan GMJ) pada:

Kamis, 29 November 2012 pukul 14.14 di Aula Katamso SMAN 1 Yogyakarta (Jl. HOS Cokroaminoto 10 Yogyakarta).

Siapkan infaq terbaik, ajak teman-temanmu dan datang yuk!
Bantu sebar ya! :D
Wasssalamu'alaikum.

Kamis, 09 Agustus 2012

hanya teman


Kerinduan ini berkelana
Menyusuri jalan,
Setapak demi setapak
Mengais jejak ke arahmu
Googling atas nama dirimu
Bak pencarian harta karun, amat berharga

Ya, aku mencoba mengenalmu
Walau sampai detik ini kau tak tahu
Kemana arah tujuku

Kau tahu, aku tak bisu
Walau dalam bayangmu, aku adalah beku
Tapi disini aku tersendu
Menatap fotomu yang selalu layu
Atas pengharapan beralas semu

Seburuk apakah cermin diriku
Hingga mungikin,
kau tak sudi melihat senyumku

Hening…
Aku hanya ingin menjadi temanmu
Hanya teman…
Hanya…

Rabu, 08 Agustus 2012

andai sajaaaa,, andai saja orang yang pakai kacamata itu bisa menjaga hijabnya, aku pasti akan lebih dan sangat mencintainya..

andai sajaaa....


Rabu, 30 Mei 2012

Aku mencintaimu dari kejauhan..
Dari sudut yang tak bisa kau pandang..
Tersirat, dari tatapanku padamu..
Dari senyumanku kala melihatmu

Aku tak tahu, kau sadar atau  tidak
Namun, beberapa orang sekitar kita ada yang tahu
Dari  siratan raut wajahku
Dari  polah tingkahku
Terhadapmu
Yang tak pernah bisa untuk ditipu
Ataupun dibuat-buat
Karna ini memang tak disengaja

Kau tahu, inilah aku..
Yang tak bisa menyembunyikan
Dalamnya isi hatiku


Dan mungkin suatu saat nanti,
Kau akan mengetahuinya
Tentang rasa ini,
Yang tiba-tiba muncul
 Bahkan aku tak menduganya
Pula sangat sulit untuk di-sirna-kan.