Senin, 18 Maret 2013

galau part1, tapi udah direvisi



Sendiri. Di liburan ini, kuluangkan sedikit waktuku untuk menulis sesuatu yang mungkin terlalu penat dan harus dimuntahkan dari hati. Lelah, memang. Hati ini terkikis oleh erosi virus yang menggelapkan jiwa. Yang menghanyutkan segala rasa dan terlelap dalam harapan semu beralas pedih tak terkira.
Mungkinkah aku sanggup untuk meneruskan rasa ini? Karena memang telah lama ia bersemayam dalam hatiku. Berlalu lalang bagai orang bingung, yang senantiasa membakar hangus pikiranku. Kadang hati ini ingin menjerit. berontak. Bingung harus gimana. Hilang arah, hilang tujuan. Seakan, aku merasa sendiri dalam gejolak hati yang kian mendahsyat. Diredam pun tak sanggup. bahkan mungkin isakan tangis yang kudapat.
Aku tahu, dia memang tidak menyadari tentang kesedihan berbalut senyum yang merekah tiap harinya. Bismillah, hanya menerawang, sambil berkata "tetap tersenyum walau kecewa". Yupz. Kata-kata itu. Harapan sebagai penguat jiwa. Agar tak runtuh oleh seorang yang bukan siapa-siapa.
Kapankah rasa ini  hilang? Kapan ia sirna? kapan? Apa harus menunggu ia mati? atau aku saja yang mati? Mungkin saja aku terlalu tega untuk berucap seperti itu. Lenyaplah saja dia dari hidupku, daripada harus menggangguku siang dan malam.
 Bukan. Dia tidak menggangguku. Dia memang tak bersalah. Tidak tahu apapun yang aku rasakan. Tetap konstan berada di tempatnya. Tak menjauh dan tak mendekat denganku. Hanya aku yang terus bergulat dengan virus dalam hati dan jiwaku sendiri.
 Sahabat,
Kadang fikiran ini berkelana terlalu jauh. Berharap gelombang itu berbalik merespon. Ah, beginikah rasanya? Terikat dalam jeratan yang aku sendiri tak bisa melepasnya.
 Sejak dulu.... Lama sudah...
Ia,dalam sudut pandangku, sosok bintang dengan indahnya sinar yang hanya bisa dipandang dengan jarak yang sekian jauhnya. Namun Aku hanya diam... dalam kesendirian... memandang, dan tak kan mungkin menggapainya.
Dalam diam itu, aku merenung. Memikirkan sajak-sajak hidupku yang selalu kelabu. Sejenak, aku berfikir. Mengapa jiwaku begitu seperti ini? Tertindas! Kenapa aku begitu lemah? Bukankah ini masalah yang sepele? Kenapa aku mau tersakiti oleh rasaku sendiri? Siapa sih dia?
#berfikir#
Ternyata... bodohnya aku. Mau saja memendam rasa yang dapat meluluhlantakkan imanku. Yang menyedot fokus belajarku, membentuk lubang paku dalam hatiku. Oh kawan, perih sekali. Sedang dia? Enak-enakan saja bersenandung ria tanpa memikirkan apa yang aku rasa.  Ini tidak adil! Tak berhak ada yang menyakitiku, menjerat dalam selubung duka yang menahun. Terjerembab dalam jurang derita tanpa secercah cahaya. Gelap sekali pikiranku. Tak dewasa. Aku bagai seorang yang tlah dipermainkan diriku sendiri. Ya, aku dipermainkan hati, jiwa dan fikiranku.
Masih berfikir. Baguskah ini? Baikkah ini? Apakah caraku ini benar? Apakah ini membuat hidupku jadi lebih baik? Apakah ini membuatku semakin menyadari makna hidup? Apakah kalau aku terus begini, cita-citaku akan berhasil? Bagaimana dengan orang tuaku? Akh.. tentulah aku takkan mau melihat mereka kecewa, menitikkan air mata atas jiwaku yang menghampa.
Ku buka foto yang aku selipkan dalam mushaf al qur’an warna pink yang selalu aku taruh di ranselku. Foto orang tuaku! Ya Allah, apabila suatu saat nanti aku tidak bisa membahagiakan mereka.. betapa hinanya diriku. Betapa buruknya diriku.
Galau ini memberi banyak keburukan. Jam belajarku tersita untuk ngecek timeline facebook dia. Takut kalau-kalau ada orang lain yang berkomunikasi di fb sama dia. Cemburu. Kepo sana-sini, googling nama dia, tanya sana-tanya sini, sungguh seperti orang yang nggak punya kerjaan. Ini sia-sia. Memang benar kok, dia banyak yang suka.Lantas? setelah aku tau itu semua, aku nggak bisa ngapa-ngapain. Meratapi nasib yang selalu tak berpihak. Hanya sayatan pedih menyambar dada yang terasa. Sedih, masalah tanpa solusi. Inikah yang aku inginkan dalam hidupku? Terus menyiksa batin tiada habis-habisnya.
Tidak! Galauku sudah selesai. Mulai hari ini, mulai detik ini! Takkan kubiarkan deras ombak mematikan itu menyerang sel-sel jiwaku. Takkan kubiarkan galau menindas cercah cahaya yang menyinari qolbu. Telah lama qolbu ini gelap. Hening. Sayup. Dingin. Dengan bismillah, akan ku buka jendela itu. Jendela hati, supaya aku mendapat indahnya sinar hidup yang sangat sangat indah. Tanpa lagi nestapa galau. Takkan kubiarkan jendela itu tertutup kembali. Sinar terang itu harus aku peroleh. Aku tak ingin lagi dalam masa pekat. Tidak ada yang berhak membuatku semakin menepi seperti ini.
Biarlah galau ini pergi dengan maknanya yang pernah terekam dalam bingkai memoriku. Dalam tiap denyut nadiku. Pergilah. Insyaallah aku rela. Aku telah melepasmu, kawan.  Bawalah serta angin-angin kepedihan itu menjauh dari hidupku. Aku tak pantas menerima penghinaan itu. Karna galau bukan yang menaklukanku, tapi akulah, seorang perempuan berusia remaja yang sanggup menaklukan badai galau yang tengah menghadang.
Masih dalam diam. Kupejamkan mata. Dalam hati aku berkata:
“Kesedihan ini sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir!”. kutanamkan kata-kata itu, kuresapi dan aku bertekad untuk mewujudkannya. Ku pandang langit biru bermega seperti kapuk lembut yang menari-nari dengan indahnya, seakan mereka tersenyum sebagai tanda persetujuan. Langit. Aku harus terus menatap ke depan. Masa depan ada di depan mata. Masa depanku, tergantung dari sekarang bagaimana aku menyikapinya. Ayo Move On!
Sendu itu berubah seketika. Mega bercengkrama dengan kawannya, membicarakan si gadis melankolis yang rautnya kian mencerah. Sedih itu berakhir indah. Ada lipatan kecil di sudut matanya, bukti memang tulus aku melepasnya. Ya, walaupun masih tersisa bekas cabutan paku-paku itu. Sedikit demi sedikit, Insyaallah bisa.
Akhirnya...
Terusirlah sang galau dengan rasa malu yang amat tinggi. Maka beralihlah debu galau, pada hati orang yang belum mencari secercah cahaya. Sebagai parasit bagi orang yang hanya diam saja.

Senin, 21 Januari 2013

Hari minggu :D

Minggu sore, di sebuah rumah sederhana yang berisikan hamba Allah dengan keharmonisan yang merekah di dalamnya. Sore itu, aku sedang bersama Ibu. Sosok yang sangat sangat sangat aku sayangi, walau memang aku tak pernah mengutarakannya. Sosok yang begitu hangat kala aku berada disampingnya. Benar-benar aku merasa nyaman saat itu. Orang Psikologi bilang, karena ikatan batin. 
Ibu.. kukirimkan sepucuk kagum ini kepadamu. Kepada seorang yang setiap kata-katanya, selalu berisi nasihat penyejuk jiwa, penghapus lara. Senyummu kala itu.. sungguh, senyuman yang sangat indah. 

Aku seneeeng banget bisa jalan-jalan sama ibu. Waktu itu, kami ke mirota. Sedernana sih, tapi bagiku itu sangat sesuatu.Kubonceng ibu dengan motor beat, dengan iringan cerah langit sore, kami berbagi cerita, berbagi tawa. Tak ada kesedihan disana. 

Di mirota, kami melihat-lihat baju bagus-bagus, lihat-lihat sandal yang haknya tinggi, daann.. lihat-lihat popok bayi, baju bayi yang sungguh mungil sambil tertawa karena cerita Beliau mengenaiku semasa kecil dulu.

Ibuu....

Kami melihat lihat tanpa membeli satu barangpun dari mereka. Hanya melihat.. Walau begitu, sudah sangat senang. Ibu bilang, kalau besok dah punya uang, aku mau dibelikan. Tapi yang dipasar, yang harganya lebih mering. Toh kualitasnya sama, menurut ibu..

Kami melanjutkan perjalanan ke lantai 3.. Kurogoh selembar uang lima puluh ribuan dari bapak. Aku memanggil ibu seraya menunjuk sebuah benda yang ingin kubeli. Binder. Aku ingin beli ituu, dan ternyata dibolehkan.. :D

-kami pulang-


Dirumah, kutemui bapak dan adek. Saat itu, adek lagi mandi. Aku menuju ruang tengah untuk meletakkan jeruk sebagai oleh-oleh buat bapak. sedangkan bindernya buru-buru aku sembunyikan biar nggak ketahuan adek hehee. Ntar takutnya dia juga minta sesuatu sama bapak. Padahal pengeluaran bapak hari ini (minggu) sudah banyak. 

Malam hari, aku menemani adekku belajar samapai sekitar jam 21.30. Setelah itu, adek ke kamar duluan, sedangkan aku masih bercengkrama dengan tulisanku. 

Have a nice day :)

Kamis, 17 Januari 2013

Dibalik Tirai Klasik TBY

 


Artikel ditulis oleh: Hafida Diah Setyowati --- SMA 1 Yogyakarta 
Member of KPP (Kmunitas Penulis Pelajar)

            
www.komunitaspenulispelajar.blogspot.com | klik
            FB: Komunitas Penulis Pelajar | klik
            Twitter: @kpp_menulis | klik

___________________________________________________________


Taman Budaya Yogyakarta (TBY) adalah sebuah kompleks pengembangan pelatihan seni budaya yang terdapat di Yogyakarta. Kompleks yang beralamat di Jalan Sriwedari No.1 ini berdiri atas surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersamaan didirikannya pusat-pusat kebudayaan di seluruh provinsi di Indonesia. Didirikan tanggal 11 Maret 1977, tak lepas dari masukan para seniman dan cendekiawan yang ikut aktif dalam pemerhati kebudayaan Indonesia untuk mendirikan sebuah kompleks tempat untuk pengapresi dan pengembangan seni agar dapat dinikmati masyarakat umum baik nasional maupun internasional.
Kompleks dengan bangunan cagar budaya ini memiliki visi The Window of Yogyakarta atau Jendela Yogyakarta. Dari jendela inilah aroma budaya dapat terhirup, terhimpun dalam berbagai karya yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Dari jendela inilah angin segar dari berbagai budaya masuk dan menghembuskan berbagai wawasan, memperkaya pengetahuan dan pengalaman serta komunitas seni budaya di Yogyakarta. Disinilah rumah kreatif yang dapat dikembangkan sedemikian rupa, sumbangan para seniman dan masyarakat nasional maupun internasional. Untuk mewujudkan visi tersebut TBY mempunyai empat tugas pokok yaitu melaksanakan pengolahan dan pengembangan seni budaya, melaksanakan laboratorium dan eksperimentasi seni budaya, melaksanakan tata usaha dan rumah tangga dinas, dan memfasilitasi kegiatan seni budaya.
TBY mempunyai beberapa bangunan atau gedung penting yang digunakan untuk kegiatan mengenai seni dan kebudayaan. Antara lain Gedung Kesenian Sositet, Concert Hall, Ruang Pameran Seni Rupa, Ruang Seminar, Amphiteater, Pendhapa, Perpustakaan dan sebuah kantin mungil yang tak jarang penuh sesak oleh pengunjung.
Gedung Kesenian Sositet merupakan gedung cagar budaya, yang didirikan oleh Belanda, namun arsiteknya tidak diketahui. Gedung Kesenian Sositet mempunyai luas panggung 10 x 8 meter dilengkapi dengan lobi, ruang rias, AC, tata lampu dan tata suara. Dengan statusnya sebagai gedung buatan Belanda, gedung Sositet mempunyai mitos tersendiri. “Yang main teaternya kurang konsen, bisa kemasukan setan“ ujar Haryanto selaku petugas keamanan TBY (10/1). Walaupun hanya sekedar mitos, hal itu bisa dijadikan sebagai motivasi agar tetap konsentrasi dan serius dalam berlatih, tidak menyepelekan apa yang sedang dipelajari. Gedung Concert Hall terletak di lantai dua, berkapasitas 1200 penonton. Gedung ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti ruang rias, lobi, ruang stem alat musik, ruang VIP, tata lampu, tata suara dan AC sentral.
Karena letaknya yang strategis berada di sebelah Selatan Pasar Beringharjo, Utara Taman Pintar, dan Timur Benteng Vendenbrug, TBY menjadi padat pengunjung maupun para pelajar dan mahasiswa yang mengadakan sebagian aktivitas atau kegiatannya di TBY.
Tak hanya itu, pelatihan dan pengembangan seni juga diadakan baik dari pihak pengelola TBY atau dari lembaga / organisasi luar. Salah satu lembaga formal untuk pelatihan seni dan budaya adalah AFC atau Art For Children. “AFC biasanya dilaksanakan jum’at sore atau hari minggu pagi” ujar Dina, salah satu pegawai TBY (11/1). Pelatihan ini ditujukan khususnya bagi anak-anak pada jenjang TK-SMP agar memperoleh pengetahuan, pengenalan, dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap seni sebagai wujud dari pelestarian seni budaya Yogyakarta. Bidang-bidang AFC meliputi seni rupa, karawitan, seni tari, seni musik, vokal, sastra dan teater. Selain pelatihan, AFC juga mengajak anak untuk mengunjungi studio seniman, tempat pameran, dan lain-lain. Selain AFC, terdapat lembaga informal yang menyelenggarakan kursus atau pelatihan rutin sesuai izin pengelola TBY. “ Ada izin latihan dance, diluar jam kerja,” tambah Pak Adi selaku petugas pengadministrasi umum(10/1)
TBY mempunyai segudang kegiatan yang dilaksanakan secara periodik, dari bulanan hingga tahunan. “Kegiatan-kegiatannya bermacam-macam. Ada Festival Sendratari, Kethoprak, Maestro, Rekontruksi Seni Klasik, Duta Seni, Festival Teater, Pameran dan masih banyak lagi,” tambah Dina (11/1). Setiap kegiatan akan diinformasikan di papan pengumuman yang berada di samping Pendhapa dan akan didokumentasikan dalam bentuk buku agar pelestariannya tetap terjaga.
Keindahan dan kenyamanan berkunjung ke Taman Budaya Yogyakarta sering diwarnai dengan maraknya orang-orang tak dikenal yang tidur sembarangan di sepanjang halaman atau lantai gedung TBY. Petugas keamanan TBY pun segan untuk menanyakan perihal perbuatan orang-orang yang sering tidur sembarangan, dengan alasan sulitnya membedakan ciri fisik seorang seniman dan gelandangan. “Sulit misahin seniman atau gelandangan. Kan nggak enak kalau ternyata dia seniman,” komentar Adi, seorang pekerja di bidang pengadministrasian umum. Komentar berbeda diutarakan oleh Clara, pengunjung asal SMAN 1 Prambanan, “Ya ngotorin sih, mengganggu. Kan gedung seni budaya.” Keindahan, pengaturan sistem tata ruang dan nilai klasik Taman Budaya Yogyakarta memiliki nilai estetika tersendiri dari segi penampilan gedung yang menjadi salah satu cagar budaya, harus dijaga dan dirawat kerapihan dan kebersihannya sehingga nyaman dan berkesan baik bagi para pengunjung.

Rabu, 09 Januari 2013

tulisan geje pas pelajaran TIK



mis mis gerimisss.. ada air dimana-mana. hmm.. mulai kudu bawa mantol nih. ah, motorku jadi cepet kotor kena lendut, air hujan, pasir, debu. huaaa. kudu sering-sering nyuci.

Oke. kembali lagi ke artikel geje. Artikel dengan gaya bahasa yang morat marit, pantangan bagi pembaca yang berprofesi guru bahasa indonesia. (ngapunten nggih bu :3)

Karena hanya untuk mengisi waktu luang pas pelajaran ips ini, ya aku iseng aja nulis-nulis sesuatu yang nggak jelas, tulisan yang nggak berkualitas dan pengejaan serta grammarnya pun banyak yang salah.

karena, aku juga baru dapet ilmu,
"... penulis itu kerjanya ya menulis, bukan mengedit..." so, aku ya langsung nulis aja, tanpa merasa ada beban salah penulisan koma, titik, kata sambung dan yg sejenisnya.

(waaahh.. langsung intine ae yo)

hmm.. apa yahh.. mikir mikir nih.. gejean ini mau tak tulisin apa. Yah, dari tadi tuh temen2 pada asyik ngerjain tugas TIK tentang microsoft exel. (ojo su'udzon simek. aku wes nggarap yoo). nah, karena waktunya masih lamaaaaa banget, aku njuk mbukak-mbukak internet. Mbuka facebook, mbah google, dll. Wah nek kuwi ra perlu diceritakke. Kabeh murid mesti yo do ngono. Kalau dah rampung ngerjakan tugas, ya manfaatin fasilitas internet, terutama buat facebookan sama kepoin someone. Wooohhh someone og piyeee.. heh itu meng kira-kira kok. yang beberapa detik yang lalu melintas di kepalaku.

Btw, kelas ips tuh banyak nyantainya yaa (baca: santai, bukan nyente). Hmm.. jadi buah bibir di kalangan guru pula. Nah itu karena ips disekolahku tuh beda (eh ini cuma cerita loh. nggak bermaksud nyombong atau apalah). Kelas ips atau kelasku entu anaknya narsis gilak. Tapi bukan mendes. Hmm, mungkin tepatnya adalah gudang anak-anak pede, dan kritis. Apalagi ditambah ada si Nelies yang terkenal sejagat rayaaaa, kan dia masuk dalam nominasi cute girls jogja (atau apaa aku lupaa), trus dia tuh nuarsis, cantik, suka dandan, tapi buaiiiiiikkk banget. Terus lagi ada Reno sang ketua MPK yang -kulihat- jiwa politik mengalir dalam jiwanya. Weseeehhhh...  la soalnya dia ntu sangat kritis, up tu date, wawasannya luaaaaaaass banget. Dia juga seorang duta tata ruang. Kayak temen baikku yang item manis, Nur Hayati.

Eh, kok malah ngomongke kanca-kancaku? --"

hmmm... bel kurang tujuh menit lagi.

Mau kuapakan ya, waktu yang tinggal dikit inii... ntar pulang sekolah sih, aku mau ke pasar beringharjo buat beli kain -pesenan-.

Oya, aku belum cerita yaa. Di sekolah, aku kan jualan-jualan gitu. sebenarnya untuk organisassi sih. tapi ya menurutku, buat menambah, melatih, menanamkan jiwa kewirausahakan.

hehe aku kan pengen jadi seorang wirausaha yang sukses. Saat yang lain sedang/bingung nyari kerja, aku pengen nolong mereka dengan cara memberi lapangan pekerjaan. gitu tok.

Ingin mandiri juga sih. Biar besok gedhe, nggak jadi orang yang ketergantungan sama orang lain.

Sepakat?