Pada
hari Sabtu tanggal 19 Mei 2012 pelajaran pertama adalah basa Indonesia. Aku
sadar kalau jadwalnya adalah ulangan basa Indonesia dengan bab majas-majas
Puisi. That’s oke. Hari itu aku tahu kalau ada tiga ulangan, yaitu basa
Indonesia, PKn, Ekonomi. Well, aku berfikir buat mbolos aja. Tapi niatku
kuurungkan karena ada bisikan malaikat.
TEEETTT….
TEEEETTT…. TEEEEETTtt…., bunyi bel tanda masuk.
Aku
melihat banyak bangku kosong. Lhoh? Ini anak-anak kok pada nggak masuk? Wah,
dapet bangku depan kih. Lumayaan.. (tapi akhirnya aku duduk paling belakang
–again-) Yang nggak masuk sebagian karena lomba, karena kecapek’an habis
praPTB, dll. Kalau Winda sih, nggak masuk karena lomba matematika di jakarta
(didampingin sama bu Narni -,-), kalau Zulfa karena capek habis pra PTB, Tika
& Hafizh karena sakit, Gemma & Dinda karena suatu perlombaan (kayaknya
loo).
Bu
Puji selaku pengampu mapel Indo sudah masuk kelas. Aku dah ancang-ancang.
Ternyata oh ternyata, Bu Puji bilang bahwa beliau belum menyelesaikan
soal-soalnya. baru sekitar 10 pertanyaan dan belum mbuat option, katanya.
YEEEESS!!,
aku mbaten.
Sebagai
gantinya, bu Puji menerangkan sekilas tentang cara-cara pembuatan puisi. Beliau
mencontohkan membuat puisi dengan menyusun poin-poinnya dulu dengan menggunakan
contoh ruangan kelas. Nah, dari situlah kita mengekspresikannya secara luas.
Misal di dalam kelas terlihat sebuah televisi yang mati, pak presiden yang
selalu tersenyum, jam dinding yang terus berdetak, dll. Lalu, kami disuruh
membuat puisi yang berkaitan dengan kelas (menggunakan benda-benda yang ada di
kelas) dengan tema bebas, misal kritik sosial, cinta, kehidupan, alam, dll. Up
To You.
Nah,
durasi waktu yang diberikan hanya sekitar 10-15 menit. Wah, waktune terlalu
mepet. Aku mencari-cari ide dan terus menulis sambil mendengarkan temen-temenku
yang mendapat giliran maju ke depan kelas membaca puisinya.
****
Giliranku
tiba. Bu Puji memanggilku. Dari tempat duduk paling belakang, aku maju ke depan
kelas. Ku lihat teman-teman pada tenang, memperhatikan. Aku mulai membaca…
HANYA MEJA
Terbuang….
Menangis, Tersenyum, Tertawa.
Aku hanya meja, dan aku GILA!
Tak seorangpun disini.
Hanya onggokan kertas bisu, itupun ternoda.
Bersama teman-temanku yang kaku.
Seakan tak peduli isi hatiku.
Suasana ini…
Aku teringat, pedih nian rintihan rindu.
Kala mahabbah telah menggerutu.
Kelas ini sepi. Menepi.
Tak satupun sudi menemani.
Meja Kursi merintih, karena debu.
Benar-benar, ia tidak peduli.
Hanya kipas angin yang slalu berputar.
Menyapu debu,
Tanda peduli pada diriku.
Kipas, aku hanya meja.
Aku tak bisa bergerak sepertimu.
Kaku, tak sanggup ku usir debu-debu.
Aku tak berguna,
Aku lapuk, terancam jam dinding di depanku.
Tapi nanti, di esok hari.
Aku akan berguna!
Aku akan berguna!
Aku akan berguna!
Seseorang kan menjemputku.
Menyapu debu yang menyayat relung tubuhku.
Menemaniku,
Bersama putihnya buku-buku.
Plok3x,
Riuh tepuk tangan teman-temanku membuatku senang. Aku juga udah lega, berasa
nggak ada beban. Sekilas, aku lupa kalau ada ulangan PKn by Pak Trisna dan
Ekonomi by Bu Umi. Aku senang tidak hanya karena merasa diperhatikan, namun aku
juga merasa bahwa sewaktu aku membacakan puisi sederhana tadi, sebagian dari
mereka ikut terbawa suasana (menghayati) hehehe. Mungkin saat mereka
mendengarkan tadi, mereka jadi lebih mengerti dengan apa yang dirasakan oleh
‘si meja’ dalam cerita puisi tersebut. Hehe berasa ngehipnotis temen-temen nih.
That cause pas aku mbacain puisinya memang benar-benar aku hayati, so biar
temen-temen juga bisa membaca mimik wajahku, lalu bisa merasakannya (walaupun
memang aku agak grogi). Kelihatan, kok. Pas aku mbacain puisi, nggak ada satu
pun yang bicara. mereka menghargaiku dan guruku, Bu Puji.
Jazakumullah
khairan katsira ya temen-temen tercinta. Kalian temen-temen yang baik. Love You
All… Kalian teman-teman yang toleran.. J
X8,
life is never flat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar